laporan praktikum mineral

Laporan Praktikum ke : 5                                       Hari / Tanggal : Senin / 18 April 2010

Integrasi Proses Nutrisi                                           Tempat            : LaboratoriumBiokimia,

Fisologi dan Mikrobiologi

Asisten            : – Arifah

MINERAL

Intan Nursiam

D24080094

DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN

FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Semua mahluk hidup memerlukan unsur inorganic atau mineral untuk proses kehidupan yang normal. Semua jaringan ternak dan makanan/pakan mengandung mineral dalam jumlah dan proporsi yang sangat beragam. Unsur inorganic ini merupakan konstituen dari abu yang tersisa setelah pembakaran dari bahan pakan.

Mineral yang esensial untuk ternak diklasifikasikan menjadi meineral makro dan mikro. Klasifikasi tersebut berdasarkan pada konsentrasi mineral di dalam tubuh ternak atau jumlah yang dibutuhkan ternak dalam ransum ternak. Secara normal, konsentrasi mineral mikro dalam tubuh ternak tidak lebih dari 50 mg/kg dan kebutuhan dalam ransum kurang dari 100 mg/kg. penyerapan mineral dalam bentuk ion terjadi melalui sirkulasi darah. Penyerapan tersebut terjadi di usus halus dan bagian anterior usus besar.

Tujuan

Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk mengetahui jenis mineral yang ada pada sample secara kualitatif melalui pengamatan adanya perubahan warna, gelembung gas atau pembentukan endapan.

TINJAUAN PUSTAKA

Mineral

Beberapa mineral merupakan elemen anorganik yang dibutuhkan oleh ternak untuk pertumbuhan dan reproduksi. Walaupun jumlah yang dibutuhkan hanya sedikit, keseimbangan dalam tubuh harus tetap terjaga. Berdasarkan kegunaannya dalam aktifitasnya hidup, mineral dapat dibagi menjadi 2 golongan yaitu golongan essensial dan non essensial. Berdasarkan jumlahnya, mineral dapat pula dibagi atas mineral makro dan mineral mikro (Parakasi, 1986).

Fungsi mineral secara umum dibagi menjadi 4 macam, yaitu: (1) untuk pembentukan struktur, (2) untuk fungís fisiologis, (3) sebagai katalis, (4) sebagai regulator. Kandungan pakan mineral dari bahan pakan nabati sangat bervariasi tergantung dari beberapa faktor seperti: genetik tanaman, keadaan tanaman tempat tumbuh tanaman tersebut, iklim, musim, tahap kematangan, dan ada tidaknya pemupukan terhadap tanaman. Leguminosa biasanya kaya akan mineral Ca, Mg, Fe, Cu, Zn, dan Co. Rumput-rumputan banyak mengandung mineral Mg, Zn, dan Fe.

Magnesium ( Mg )

Magnesium merupakan mineral makro yang sangat penting. Sekitar 70% dari total Mg dalam tubuh terdapat dalam tulang atau kerangka (Underwood, 1981), sedangkan 30% lainnya tersebar dalam berbagai cairan tubuh dan jaringan lunak (Tillman et al., 2003). Mg dibutuhkan oleh sebagian besar sistem enzim, berperan dalam metabolisme karbohidrat dan dibutuhkan untuk memperbaiki fungsi sistem saraf (Perry et al., 200 ). Selain itu Mg berperan penting untuk sintesis protein, asam nukleat, nukleotida, dan lipid (Girindra, 1988). Jika mineral Mg yang diberikan pada ternak kurang maka akan menyebabkan iritabilitas syaraf, convulsion, dan hypomagnesaernia. Namun, jika berlebih juga tidak baik untuk ternak, karena akan menyebabkan ekskreta basah.

Indikator defesiensi Mg adalah menurunnya kadar Mg dalam plasma menjadi 1,2 – 1,8 mg/100ml dari kadar normal sebesar 1,8 – 3,2 mg/100ml (McDowell, 1992). Tempat utama absorsi Mg pada ternak ruminansia adalah pada bagian retikulorumen, sekitar 25% Mg diabsorsi oleh hewan dewasa. Jumlah Mg yang diabsorsi menurun seiring dengan penurunan tingkat mineral di dalam pakan. Dalam kondisi defisiensi status Mg cadangan dalam tubuh untuk menggantikan sumbangan dari absorpsi Mg yang rendah (McDowell, 1992).

Tembaga ( Cu )

Mineral Cu adalah salah satu mineral yang sering dilaporkan defisien pada ternak ruminansia. Menurut McDowell (1992), defisien Cu dapat menyebabkan diare, pertumbuhan terhambat, perubahan warna pada rambut dan rapuh serta mudah patahnya tulang-tulang panjang. Defisiensi sekunder mineral mikro sering dialami oleh ternak ruminansia walaupun ternak diberi suplemen mineral dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan (Kardaya et al., 2001).

Unsur Cu diabsorpsi kurang baik oleh ruminansia dalam metabolisme tubuh (Kardaya, 2000). Meskipun Cu bukan merupakan bagian dari molekul hemoglobin, akan tetapi Cu ini adalah komponen yang sangat penting untuk pembentukkan sel darah merah dan menjaga aktivitasnya dalam sirkulasi (Nugroho, 1986). Unsur Cu terdapat dalam plasma darah, kandungan Cu secara normal dalam plasma darah adalah 0,6 Cu/ml (Underwood, 1981).

Besi ( Fe )

Lebih dari 90% Fe yang terdapat dalam tubuh terikat pada protein dan terutama pada hemoglobin darah mengandung Fe sebanyak 0,34%. Fe juga terdapat dalam mioglobin, hati, limpa dan tulang. Fe dalam serum darah terdapat dalam bentuk non hemoglobin yang disebut transferrin atau siderophilin. Pada individu normal hanya 30-40% transferrin yang membawa Fe, dalam keadaan normal plasma darah mengandung 240 – 480 mcg% ; pada sapi dewasa 130 – 140 mcg% (Church, 1991).

Fungsi Fe yang penting adalah untuk absorpsi dan transport O2 ke dalam sel-sel, Fe juga merupakan komponen yang aktif dari beberapa enzim yaitu sitokrom perioksidase dan katalase. Selain itu Fe berfungsi sebagai mediator proses–proses oksidasi (Tillman et al., 1998). Unsur Fe diabsorpsi sesuai dengan kebutuhan dan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti status Fe dalam tubuh, umur hewan (Underwood dan Sutlle, 1999), kebutuhan metabolik tubuh, bentuk komponen zat besi yang terdapat dalam makanan dan ada tidaknya zat-zat nutrisi lain yang mempengaruhi absorpsi zat besi (Piliang, 2002). Fe lebih banyak diabsorpsi oleh hewan yang defisien Fe dibanding hewan yang tercukupi kebutuhan Fe, karena absorpsi dan metabolisme Fe diatur oleh status Fe pada mukosa usus. Tempat absorpsi Fe pertama adalah duodenum (Underwood dan Sutlle, 1999).

MATERI DAN METODA

Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah gelas arloji, tabung reaksi, spot plate, kertas saring, sudip, spoit, dan lap/ tissue.

Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah aquades, sampel CuSO4, CoSO4, FeSO4, MgSO4, ZnSO4, CaCO3, NaCl, larutan A (20 gr Rochele + 100 ml aquades), Larutan B (1 gr nitrosoersalt + 500 ml),  larutan C (larutan KOH 1 N), larutan D (12,7 gr I + 40 gr KI + 25 ml aquades), larutan E (NaOH 2 N), larutan F (0,10 gr Dithizone + 100 ml CCl4), HCl, HNO3, dan AgNO3 5%.

Prosedur

ü      Pengujian Co2+, Cu2+, Fe2+

Sebanyak 1-2 tetes larutan A diteteskan di atas kertas saring, lalu ditambahkan sampel secukupnya (sampel standar CuSO4, CoSO4, dan FeSO4). Setelah itu, ditambahkan larutan B sebanyak 1-2 tetes. Diamati warna sampel awal dan keadaan akhir setelah ditetesi pereaksi.

ü      Pengujian Mg

Sebanyak 2-3 tetes larutan C diteteskan ke spot plate yang telah berisi sampel MgSO4, lalu ditambahkan larutan D hingga berubah warna menjadi kuning.

ü      Pengujian CO2

Sampel CaCO3 diletakkan di atas gelas arloji secukupnya, lalu ditambahkan sebanyak 1-2 tetes larutan HCl dengan perbandingan 1:1. Diamati adanya gelembung gas yang terjadi.

ü        Pengujian Ca

Sampel susu fullcream, susu skim dan sari kedelai dimasukan kedalam 6 buah tabung reaksi yang berbeda. Tambahkan larutan kapur sebanyak 2,4,6,8,10 tetes kedalam masing-masing tabung. Amati perubahan yang terjadi sebellum dan sesudah penambahan larutan kapur.

ü      Pengujian Cl-

Sampel NaCl dilarutkan dengan air aquades di tabung reaksi. Kemudian, ditambahkan 1-2 tetes HNO3. setelah itu, ditambah lagi dengan larutan AgNO3 5% sebanyak 1-2 tetes. Pada reaksi tersebut diamati adanya endapan yang terbentuk.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Tabel 1. Hasil Pengamatan Uji Standar

Pengujian Standar Warna Awal Keadaan akhir
Cu,Co,Fe CoSO4, CuSO4, FeSO4 Biru Hijau
Mg MgSO4 Coklat Agak coklat
Cl NaCl Putih Endapan putih
CO2 CaCO3 Putih Muncul Gelembung Gas

Tabel 2. Hasil Pengamatan Uji Sampel

Sample Cu, Co, Fe Mg Cl CO2
I - + - +
II - + + +
III + - - +
IV + + - +
V - - + +

Keterangan :

+   :  ada                       -    :  tidak ada

Tabel 3. Pengaruh penambahan kapur

Penambahan Ca(OH)2 Sampel yang diuji
Susu fullcream Susu skim Sari kedelai
0 tetes - - -
2 tetes + - -
4 tetes ++ - -
6 tetes +++ - -
8 tetes ++++ - -
10 tetes +++++ - -

Keterangan :

+   :  ada endapan                     -    :  tidak ada

Pembahasan

Mineral merupakan zat anorganik yang bukan terdiri dari unsur kimia karbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen. Berdasarkan pada konsentrasi mineral di dalam tubuh ternak atau jumlah yang dibutuhkan dalam ransum ternak diklasifikasikan menjadi mineral makro dan mikro. Secara normal, konsentrasi mineral mikro dalam tubuh ternak tidak lebih dari 50 mg/kg dan kebutuhan dalam ransum kurang dari 100 mg/kg ransum. Berdasarkan kegunaannya dalam aktifitasnya hidup, mineral dapat dibagi menjadi 2 golongan yaitu golongan essensial dan non essensial (Parakasi, 1986).

Berdasarkan pengujian terhadap lima buah sampel, terlihat bahwa pada sampel 1 mengandung magnesium dan karbondioksida. Berbeda dengan sampel 1, pada sampel 2 tidak hanya ditemukan magnesium dan karbondioksida tetapi ditemukan juga klor. Ion Cu2+,Co2+ dan Fe2+ terindikasi ditemukan pada sampel 3. Pada sampel selanjutnya selain mengandung ion Co2+,Cu2+, dan Fe2+ ditemukan juga mineral magnesium dan karbondioksida. Pada sampel 5 hanya ditemukan ion klor dan karbondioksida.

Beberapa mineral yang ditemukan pada bahan pakan tersebut mempunyai peran yang penting dalam proses metabolishme tubuh ternak tersebut. Mineral kalsium misalnya berperan dalam pembentukan tulang dan gigi, pembekuan darah. Ion klor mempunyai fungsi untuk untuk menjaga keseimbangan asam basa, osmoregulasi dan untuk sekresi cairan (gastric). Beberapa mineral mikro seperti ion besi berperan untuk pembentukan heamoglobin, ion kuprum berperan dalam pembentukan haemoglobin, pigmen, dan sebagai koenzim. Ion cobalt berperan dalam absopsi vitamin B12 serta untuk pertumbuhan mikroba rumen. ( Mc.Donald, 1978).

Konsentrasi mineral Co dan Cu dalam tubuh ternak masing-masing adalah 0,02-0,1 mg/kg dan 1-5 mg/kg. Co pada ternak berfungsi untuk pertumbuhan mikroba rumen dan bagian dari vitamin B12. Defisiensi Co mengakibatkan nafsu makan menurun, anemia, produksi susu menurun, dan rambut kasar. Co didapatkan dari bahan pakan garam cobalt dan cobalt oksida. Sedangkan Cu didapat dari CuSO4, CuO, dan CuCO3. Defisiensi mineral ini mengakibatkan ternak diare, nafsu makan menurun, pertumbuhan menurun, dan rambut kasar. Cu berfungsi dalam penggunaan Fe dan transpor Cu. Sebenarnya unsur Cu kurang baik diabsorpsi oleh ruminansia dalam metabolisme tubuh (Kardaya, 2000). Meskipun Cu bukan merupakan bagian dari molekul hemoglobin, akan tetapi Cu ini adalah komponen yang sangat penting untuk pembentukkan sel darah merah dan menjaga aktivitasnya dalam sirkulasi (Nugroho, 1986).

Cl untuk ternak berasal dari NaCl dan potassium chlorida. Konsentrasi  di dalam tubuh ternak adalah 1,1 g/kg. Defisiensi mineral ini mengakibatkan alkalosis pada ternak. Sedangkan kelebihannya menyebabkan peningkatan keasaman. Zn merupakan mineral yang banyak berperan penting dalam proses metabolisme karbohidrat dan lemak serta pembentukkan sistem kekebalan tubuh (Perry et al., 2003). Menurut Linder (1992) Zn merupakan mikromineral yang tersebar didalam jaringan hewan, manusia, dan tumbuhan serta terlibat dalam fungsi metabolisme. Zn berperan juga dalam fungsi berbagai enzim, meningkatkan nafsu makan, produksi telur, daya tetas telur dan pertumbuhan tulang dan bulu pada ayam petelur.

Pada pengujian penambahan kapur pada susu fullcream, susu skim dan sari kedelai tidak ditemukan endapan pada penambahan 0 tetes larutan kapur. Pada penambahan larutan kapur selanjutnya ditemukan endapan di susu fullcream sedangkan pada sari kedelai dan susu skim tidak ditemukan endapan. Banyaknya endapan yang terbentuk sebanding dengan jumlah penambahan larutan kapur yang diberikan. Hal ini mengindikasikan bahwa susu fullcream banyak mengandung ion kalsium.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan ditunjukan bahwa sample yang diberi perlakuan dapat mengalami perubahan warna sesuai dengan mineral yang terkandung didalam sample itu. Mineral yang terkandung dalam Cu, Co, Fe memiliki warna hijau kecoklatan, Mg memiliki warna agak coklat, Cl terdapat endapan putih dan CO2 memiliki banyak gelembung udara. Hasil ini dapat membuat kita mengetahui mineral yang terkandung dalam sample dengan pengujian secara kualitatif.

DAFTAR PUSTAKA

Church, D. C. 1991. The Ruminal Animal : Digestive, Physiology and Nutrition. Volume 2. Prentice Hall, New Jersey.

Girindra, A. 1998. Biokimia Patologi Hewan. Pusat Antar Universitas. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Kardaya, D. 2000. Pengaruh suplementasi mineral organik (Zn-Proteinat, Cu-Proteinat) dan amonium molibdat terhadap performans domba lokal. Tesis. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Kardaya, D., Supriyati, Suryahadi, dan T Toharmat. 2001. Pengaruuh suplementasi Zn-Proteinat, Cu-Proteinat dan amonium molibdat terhadap performans domba lokal. Media Peternakan, 24 (11) : 1-9

Linder, M. C. 1992. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme. Dengan pemakaian secara klinis. Terjemahan. A. Parakkasi. Universitas Indonesia Press, Jakarta.

Lloyd, L.E., B.E. McDonald and E.W. Crampton. 1978. Fundamental of Nutrition.2nd Edition. W.H. Freeman and Company. San Francisco.

McDowell, L. R. 1992. Mineral in Animal and Human Nutrition. Academic Press, INC, San Diego.

Miller, J. K., N. Ramsey and F. C. Madson. 1998. The Trace Elements. In : Church, D. C. (Ed). The Ruminal Animal : Digestive, Physiology and Nutrition. Prentice Hall, New Jersey.

Nugroho. 1986. Penyakit Kekurangan Mineral pada Sapi. Penerbit Eka Offset. Semarang.

Parakkasi, A. 1986. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Monogarstrik Vol IB . Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.

Perry, T. W., A. E. Cullison and R.S. Lowrey. 2003. Feeds and Feeding. Sixth Edition. Pearson Education, Inc., Upper Saddle River, New Jersey.

Piliang, W. G. 2002. Nutrisi Mineral. Edisi Kelima. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Tillman, A. D., H. Hartadi, S Reksohadiprojo, S. Prawirokusumo dan S. Lebdosukujo. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Cetakan Ke- 6. Fakultas Peternakan. Universitas Gajah Mada. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Underwood, E. J. 1981. The Mineral Nutrition of Livestock. Second Edition. Commonweath Agricultural Bureaux, London.

Underwood, E. J. and N. F. Suttle. 1999. The Mineral Nutrition of Livestock. Third Edition. CABI Publishing, London.

About these ads

1 Comment

  1. Blogwalking nih sob…
    Bagus postingannya nih…
    sangat bermanfaat…
    bisa buat contoh laporan…
    Keep posting…

    Ditunggu kunjungan baliknya ya sob…
    Jangan lupa tinggalin jejak di postingan terbaru ane ya,
    oke… :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: