Ekses dan Defisiensi Makronutrien


EKSES DAN DEFISIENSI MAKRONUTRIEN

1. Ekses Makronutrien

I.1.  Ekses Air

Beberapa tahun lalu dilaporkan seorang wanita meninggal akibat minum terlalu banyak air dengan maksud untuk membersihkan dirinya dari noda. Pada waktu yang hampir sama seorang anak meninggal akibat dipaksa oleh ayahnya untuk mengkonsumsi air dalam jumlah berlebihan. Kedua peristiwa maut ini disebabkan karena keracunan air, yaitu konsumsi air berlebihan yang melewati kecepatan maksimal eksresi urine. Seberat apapun ginjal bekerja, tidak akan mampu untuk menerima jumlah air berlebihan. Volume cairan dalam sel akan meningkat dan zat-zat cairan tersebut akan ikut terlarut. Sel-sel diseluruh bagian tubuh termasuk otak akan mengalami kerusakan. Penglihatan menjadi kabur, perasaan bingung, kondisi tidak sempurna.

Keadaan lebih parah akan mengakibatkan hal-hal seperti sakit kepala, rasa mual dan muntah-muntah, kelemahan, tubuh gemetar, kejang-kejang, koma, dan akhirnya meninggal. Tanda-tanda tersebut terutama akibat kurang garam dalam tubuh. Pemberian garam pada tahap-tahap awal dapat mencegah gejala tersebut dan tentu saja konsumsi air harus dihentikan.

1.1.1.  Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keseimbangan Air

Dehidrasi

Dehidrasi dapat terjadi akibat kehilangan cairan yang terlalu banyak atau akibat masukan cairan yang kurang. Perdarahan diarrhee atau tidak cukupnya ADH secara langsung akan mengurangi volume darah. Pengeluran keringat yang tidak normal, luka bakar atau jenis luka parah lainnya akan mengakibatkan kehilangan cairan dalam rongga-rongga antar sel.

Cairan yang hilang tidak hanya terdiri dari air saja, tapi juga elektrolit. Karena rongga-rongga cairan tubuh saling berdekatan dan saling tergantung satu dengan yang lainnya, maka kehilangan air dan elektrolit dalam rongga cairan manapun akan membawa akibat pada seluruh rongga cairan lainnya. Peristiwa muntah misalnya, akan menyebabkan hilangnya asam hidroklorida dan air dari lambung. Hal ini tidak hanya menyebabkan dehidrasi tapi juga menyebabkan terganggunya keseimbangan elektrolit. Hilangnya asam secara langsung akan menyebabkan naiknya konsentrasi ion-ion natrium dan ion-ion kalium dalam cairan yang masih terdapat dalam tubuh.

Pada peristiwa diarhee, hilangnya air dari usus, akan meliputi juga hilangnya sekresi empedu dari penkreas dan sekresi usus yang mengandung natrium. Akibatnya terjadilah dehidrasi.

Perubahan tekanan osmotis akibat tidak keseimbangan elektrolit ini menyebabkan perpindahan air dan natrium yang lebih banyak lagi dari dalam pembuluh darah dan rongga-rongga diantara sel berkurang, dan hanya sedikit air untuk ginjal. Akibatnya ginjal akan meningkatkan sekresi natrium dengan mekanisme produksi yangtelah dijelaskan sebelumnya, sehingga air dapat diabsorbsi kembali. Sementara itu, untuk mempertahankan keseimbangan kalium dan natrium, maka ion-ion kalium akan bergerak ke luar sel dan masuk ke dalam rongga-rongga diantara sel. Pada waktu sama ginjal akan mengatur pendauran natrium yang terdapat dalam ginjal untuk dipindahkan kembali ke dalam darah unutk meningkatkan volume darah. Kalium harus keluar dari darah, danhilang melalui urine. Berkurangnya ion kalium dalam jaringan otot yang diperlukan untuk kontraksi, akan menimbulkan kelemahan dan menurunnya respon terhadap gerakan reflek.

Kehilangan kalium yang parak akan mempengaruhi fungsi otot jantung dan dapat mengkibatkan kegagalan pada kerja jantung.

Manusia dewasa pada umumnya, jika menderita diarrhee ringan dan kadang kala disertai dengan gangguan sakit perut atau infeksi virus, tidak menyebabkan resiko nyata. Sebaliknya diarrhee  ringan pada anak-anak dapat berakibat parah, demikian juga pada orang-orang tua. Meskipun tubuh balita dan anak-anak mengnadung kadar air lebih tinggi dari pada tubuh orang dewasa, tapi total kandungan air tentu saja sedikit. Karena tingginya tingkat kecepatan metabolisme pada anak-anak dengan bertambah luasnya permukaaan tubuh, maka kebutuhan air relatif tinggi. Oleh karena itu anak-anak sangat peka terhadap kehilangan air. Orang-orang tua juga peka terhadap kehilangan air karena tubuh mereka mengandung kadar air rendah dan mekanisme ginjal dalam meresorpsi air mungkin kurang sempurna, sehingga kehilangan air pada orang tua merupakan resiko besar, demikian juga kehilangan zat-zat makanan pada proses metabolisme. Keadaan dehidrasi pada setiap umur harus diatasi segera untuk memulihkan kembali keseimbangan cairan tubuh dan elektrolitnya dengan cara mengkonsumsi cairan, baik berupa air, teh, sari daging, sari buah ataupun minuman lainnya. Pada anak-anak balita atau orang tua, pemberian tambahan cairan sebaiknya dilakukan secara intravenous. Bahkan pada orang dewasa, yang mengalami dehidrasi yang sudah parah dan dalam waktu cukup lama, maka penambahan cairan dan elektrolit perlu dilakukan secara intravenous.

Suatu kondisi dehidrasi ekstrim adalah kolera, suatu gangguan dalam saluran pencernaan disebabkan oleh mikro organisme yang memproduksi racun. Keadaan diarrhee cepat dan banyak akibat kolera dapat mengakibatkan hilangnya cairan tubuh dan elektrolit secara tiba-tiba. Terapi terbatas dengan menggunakan zat antibakteri mungkin dapat membunuh mikroorganisme yang terinfeksi, tapi tidak dapat mengatasi keadaan dehidrasi yang parah dan hal ini mengakibatkan kondisi fatal pada penderita kolera. Terapi segera dan dilakukan secara teratur penambahan larutan cairan dan elektrolit sangata penting dalam menanggulangi dehidrasi akibat kolera.

Pengeluaran keringat secara berlebihan menandakan terjadinya kehilangan air dari rongga-rongga antar sel. Kehilangan tersebut meliputi kehilangan natrium dan khlorida yang merupakan elektroli-elektrolit utama cairan yang terdapat diantara sel. Meskipun pada saat itu terasa haus yang amat sangat, tidak dianjurkan untuk minum lebih dari 2 liter air. Konsumsi air tesebut akan selanjutnya mengencerkan simpangan garam dalam rongga di luar sel yang telah berkurang. Dalam usaha menyamakan konsentrasi elektrolit, maka air akan masuk ke dalam sel-sel. Kondisi sel yang terlalu banyak mendapat cairan akan menyebabkan rasa sakit pada otot-otot yang berkontraksi (heat cramps), kelemahan dan menurunnya tekanan darah. Dewan Pangan dan Gizi menganjurkan bahwa jika konsumsi air melebihi 4 liter melalui keringat, maka penambahan konsumsi air  harus diiukuti dengan pemberian 2 gram natrium khlorida dalam setiap liter air. Umumnya tidak disadari bahwa kebutuhan akan garam akan berkaitan dengan penggantian kehilangan air, bukan dalam jumlahnya yang hilang melalui keringat. Orang-orang yang tidak biasa melakukan pekerjaan berat atau berlatih di udara yang panas akan mengalami kekurangan garam akibat tidak cukupnya penggantian garam sesudah mengalami pengeluran keringat yang banyak. Tanpa disadari orang-orang yang sedang memanfaatkan masa liburan, hal tersebut dapat mendatangkan bahaya, karena mereka biasanya menghabiskan waktu berjam-jam dilapangan tenis atau di daerah-daerah semitropik. Hal ini juga terjadi pada orang-orang yang berusaha melakuakn kegiatan-kegiatan yang biasa mereka kerjakan selama masa gelombang panas, atau pada olahragawan misalnya pemain sepak bola yang berlatih selama musim panas.

I.1.2.  Faktor-faktor  yang mengganggu keseimbangan air

Dalam batas-batas toleransinya tubuh mempunyai kemampuan menakjubkan dalam mengatasi gangguan yang datang dari dalam maupun dari luar tubuh. Beberapa macam penyakit atau akibat kecelakaan dapat mengakibatkan terganggunya keseimbangna cairan tubuh. Pada setiap kasus, sistem pengaturan keseimbangan tersebut akan terganggu dengan cara berlainan.

a.  Retensi air dan hormon

Seperti telah diterangkan sebelumnya, hormon ADH dan aldosteron berperan dalam mempertahankan keseimbangn cairan tubuh. Meskipun demikian beberapa hormon lain ada yang berperan dalam membantu mempertahankan mekanisme keseimbangn tersebut. Hormon tiroid misalnya, membantu meningkatkan reabsorpsi natrium dalam tubulus ginjal, sedangkan beberapa hormon lain memodifikasi kerja hormon ADH. Hormon estrogen dan progesteron, dua hormon betina utama sangat mempengaruhi mekanisme pengaturan cairan tubuh.

Wanita meretensi banyak cairan tubuh pada awal periode menstruasi dan pada akhir trimester kehamilan. Dahulu diperkirakan bahwa udema yang terjadi pada awal periode menstruasi disebabkan karena tingginya kadar hormon progesteron selama periode tersebut, tetapi ternyata progesteron adalah hormon antagonis aldosterone, yang membantu menaikkan natrium dan eksresi air dan karena itul menyebabkan retensi kalium. Kehilangan natrium dan kehilang air, disebabkan karena produksi progesteron dalam jumlah sesuai kebutuhan fisiologi merupakan pengaruh sementara.

Sebaliknya estrogen yang mempunyai sedikit kesamaan dengan aldosteron, dan yang mengawali proses kehilangan iar diikuti dengan kehilanga natrium, akan menyebabkan tubuh berusaha meretensi cairan. Perubahan keseimbangan air selama siklus menstruasi, kehamilan, dan juga penggunaan obat oral kontrasepsi disebabkan karena adanya perubahan hubungan hormon progesteron dan estrogen, tetapi mekanismenya belum sepenuhnya diketahui. Kemungkinan ada beberapa hormon lain yang juga berperan.

b.  Diabetes

Dinamika keseimbangn air dan elektrolit mempunyai pengaruh sangat nyata pada penderita diabetes, penyakit jantung dan kelainan ginjal. Penyakit diabetes militus ditandai dengan tumpahnya glukosa ke dalam urine.

Tipe diabetes lain yaitu diabetes insipidus, suatu kondisi yang mengakibatkan terjadinya pengenceran urine akibat produksi ADH tidak normal dan keadaan ini menyebabkan peningkatan jumlah urine berkisar dari 5 sampai 15 liter per hari diikuti rasa haus yang amat sangat. Hal ini dapat diatasi dengan penggantian ADH. Penderita diabetes insipidus akibat kelainan fungsi ginjal yang tidak tanggap terhadap pengaruh ADH hanya dapat diatasi dengan cara mengkonsumsi air dalam jumlah banyak sebagai pengganti banyaknya air yang hilang melalui urine.

c.  Diuretika

Udema, yaitu kondisi yang mengakibatkan cairan berkumpul dalam rongga-rongga diantara jaringan dapat diikuti dengan beberapa kondisi lain seperti kegagalan fungsi jantung. Obat-obat diuretika diperlukan untuk membantu memperbaiki keadaan tidak keseimbangan ini. Banyak obat diuretika menghambat kerja hormon aldosteron, meningkatkan kehilangan natrium dalam urine dan juga menarik air dari tubuh. Pada saat cairan tubuh hilang, maka cairan yang terkumpul dalam rongga diantara sel-sel akan bergerak dari jaringan masuk ke dalam rongga pembuluh darah yang menuju ke ginjal. Beberapa obat diuretika menyebabkan kehilangan natrium, suatu kondisi yangtidak diinginkan. Untuk mengatasi hal tersebut maka penderita yang menggunakan obat diuretika dianjurkan untuk mengkonsumsi kalium baik dalam bentuk suplementasi atau dalam bentuk makanan, seperti misalnya pisang, buah-buah jeruk yang kaya akan mineral ini.

Beberapa orang menggunakan obat diuretika untuk menurunkan berat badan. Perlu diketahui behwa obat diuretika berfungsi untuk menghilangkan elektrolit dan air, bukan lemak. Kondisi ini diiukuti dengan dehidrasi dan kehilangan kalium, sementara itu kadar lemak tidak dipengaruhi.

Etanol dan alkohol yang terdapat dalam minum-minuman, berfungsi sebagai diuretik dan menghambat sekresi ADH yang diproduksi oleh kelenjar pituitary. Cairan tubuh yang terbentuk tidak direabsorbsi oleh ginjal, tapi keluar bersama urine. Rasa haus akan terus menerus timbul beberapa jam kemudian, diikuti dengan rasa sakit kepala dan mual, merupakan suatu tanda bahwa kehilangan cairan tubuh aharus diganti dengan segera. Pengaruh ini tergantung dari jumlah alkohol yang terdapat dalam darah, yaitu berhubungan langsung dengan jumlah alkohol yang dikonsumsi dan berbanding terbalik dengan lamanya waktu terhitung saat alkohol dikonsumsi.

d.  Tenggelam

Peristiwa tenggelam sering disebabkan karena adanya ketidakseimbangan drastis, dan pada waktu yang sama terjadinya pertukaran cepat antara cairan yang terdapat dalam rongga-rongga cairan tubuh. Mekanisme kematian akibat peristiwa tenggelam dilaut berbeda dengan akibat tenggelam diair tawar. Karena air laut mengandung 3.5% garam, maka akumulasinya dalam rongga paru-paru menyebabkan cairang ayang terdapat dalam darah masuk melalui membran alveoli peru-paru yang melarutkan konsentrasi natrium. Kematian disebabkan karena akumulasi air dalam paru-paru (“pulmonary edema”) dan penurunan konsentrasi cairan dalam darah.

Dipihak lain, tenggelam di air tawae akibata dari air yang masuk ke dalam paru-paru yang masuk melalui membran alveoli paru-paru ke dalam sistem peredaran darah dan kemudian masuk ke dalam sel-sel darah merah. Influks air menyebabkan eritrosit dipenuhi oleh cairan sampai pada taraf hemolisi. Sejumlah besar kalium yang dilepaskan akibat hemolisis merusak otot jantung dan diikuti dengan berhentinya fungsi jantung yang mengakibatkan kematian.

1.2.  Ekses Absorbsi Lemak

Absorpsi lemak merupakan absorpsi sangat efisien, yaitu sekitar 95% dari seluruh masukan lemak dapat diabsorbsi. Orang dewasa dapat mengabsopsi lemak sampai 300 gram dalam waktu satu hari. Pada keadaan tertentu,absorbsi lemak dapat terganggu, dan ini dapat terlihat dari banyaknya lemak yang terdapat dalam feses. Kondisi seperti ini dikenal sebagai “steatorrhea” yang dapat disebabkan oleh beberapa faktor berbeda.

Pada kondisi diarrhee, misalnya, lemak bergerak melewati intestin secara sangat cepat sehingga hal ini menyebabkan lemak tidak dihidrolisa secar efisien oleh beberapa enzim. Akibatnya hampir seluruh lemak makanan tidak diabsorbsi dan kemudian dieksresikan keluar.

Gangguan lain pada absorbsi lemak, yaitu adanya penyumbatan kantung empedu, atau penghilangan kantung empedu yang menyebabkan menurunnya jumlah cairan empedu yang tersedia dalam hal ini akan mengganggu absorpsi lemak di duodenum dan jejunum.

Faktor lain yang menyebabkan steatorrhea ialah penyakit pankreas atau tersumbatnya saluran pankreas. Penurunan kadar enzim-enzim pankreas dalam lumen intestine akan menghambat hidrolisa trigliserida rantai panjang atau ester kholesterol, sehingga lemak-lemak tersebut yang tidak terdapat dalam bentuk yang dapat diabsorpsi akan diekskresi keluar tubuh.

Penggunaan minyak mineral (“mineral oil”) dapat juga mengakibatkan “steatorrhea”. Pemakaian minyak mineral biasanya sebagai bahan laksatif. Oleh karena minyak mineral tidak mengandung oksigen, maka minyak mineral sesungguhnya tidak tergolong dalam lemak sejati (“true lipid”). Minyak mineral ini tidak dapat dicerna dan tidak dapat diabsopsi , melainkan semata-mata hanya melewati saluran pencernaan, sesuai fungsinya sebagai laksatif. Meskipun demikian, dalam perjalanannya melalui saluran pencernaan, minyak mineral ini melarutkan bahan-bahan yang mengandung lemak, termasuk vitamin-vitamin yang larut dalam lemak, dan membawanya bersama-sama minyak mineral, sehingga bahan-bahan tersebut menjadi tidak dapat diabsorpsi oleh tubuh. Oleh karena itu penggunaan minyak mineral yang terlalu sering, akan mengakibatkan defisiensi beberapa zat makanan cukup serius. Biasanya tidak di anjurkan untuk menggunakan minyak mineral sebagai bahan laksatif. Jika pada kondisi tertentu harus digunakan minyak mineral, maka minyak mineral ini harus digunakan beberapa waktu sesudah makan, tapi tidak pada saat makan.

1.3.  Ekses Badan keton

Hampir seluruh sel tubuh dapat memanfaatkan asam-asam lemak bebas untuk memproduksi energi. Sampai sekarang, dianggap bahwa sel-sel otak tidak dapat memetabolisme apapun selain glukosa untuk memenuhi kebutuhannya akan energi. Sekarang diketahui bahwa sel-sel otak dapat mengubah bahan yang disebut “bahan keton” untuk menjadi ATP. Badan-badan keton merupakan ketiga turunan asam-asam lemak, yang terbentuk jika terjadi kelebihan pemecahan asam lemak dalam tubuh. Jika karbohidrat tidak tersedia, misalnya dalam keadaan kelaparan, atau pada ransum yang disusun dengan protein tinggi untuk menurunkan berat badan, maka akan terjadi suatu keadaan ketidakseimbangan antara proses lipogenesis dan lipolisis dalam jaringan adipose, yaitu dengan keluarnya kelebihan asam-asam lemak dalam darah. Beberapa asam-asam lemak ini digunakan untuk memproduksi energi, dan beberapa dioksidasi sebagian menjadi badan keton.

Kondensasi 2 molekul asetil Co A menghasilkan aseto- asetat atau asam betahidroksi butirat, yang merupakan 2 bentuk badan-badan keton. Badan keton yang ketiga adalah aseton, yang dihasilkan melalui proses dekarboksilasi asam asetoasetat. Berkurangnya suplai oksaloasetat dalam keadaan puasa akan menyebabkan proses siklus kreb berjalan lebih lambat.

Hati tidak memanfaatkan badan-badan keton untuk energi, karena hati tidak mempunyai enzim-enzim khusus untuk proses pengubahan badan-badan keton menjadi energi. Biasanya badan-badan keton yang diproduksi dalam jumlah sedikit dalam tubuh, terutama asam asetat, ditranspor menuju tulang-tulang kerangka dan otot jantung. Sel-sel ini memproduksi enzim yang membantu proses oksidasi asam asetoasetat dengan asetil Co A, untuk menyediakan sumber energi dalam jumlah sedikit untuk kedua jaringan tersebut. Jumlah konsentrasi keton normal dalam darah kurang dari 2 mg/dl. Jika keton-keton diproduksi dalam jumlah berlebihan, melebihi kapasitas otot-otot jantung dan otot-otot kerangka, sehingga tidak dapat dioksidasi, maka keton-keton yang tersisa akan tinggal dalam sistem peredaran darah, dan ini akan meningkatkan kadar keton-keton dalam plasma darah.

Kelebihan akumulasi badan-badan keton, merupakan tanda keadaan yang tidak seimbang antara produksi keton dan penggunaannya, dan keadaan ini disebut sebagai “ketosis”. Keadaan kelaparan dan “diabetes mellitus” dapat menimbulkan ketosis. Juga dalam kondisi kekurangan insulin akan menghambat terjadinya oksidasi karbohidrat, sehingga terbentuk produksi keton. Kadar keton yang berlebihan dalam darah disebut “ketonemia” dan yang terdapat dalam urine dikenal sebagai “ketonuria”, dan kedua keadaan tersebut merupakan suatu tanda terganggu metabolisme karbohidrat dan/atau terjadinya proses lipolisis secara berlebihan.

1.4.  Ekses Protein

Beberapa masalah telah timbul akibat kelebihan konsumsi protein, tapi biasanya individual normal atau sehat dapat mengimbangi kelebihan asam-asam selama asam-asam amino esensial terdapat dalam jumlah seimbang dalam tubuh.

Ekses protein (studi kasus di benua Artic Eskimo)

Orang-orang Eskimo merupakan bangsa yang sering dipakai untuk meneliti akibat kelebihan protein dalam ransum. Delapan puluh dua persen dari protein yang dikonsumsi orang-orang Eskimo berasal dari daging dan ikan dan sedikit yang berasal dari sumber lain. Hampir 1/3 jumlah kalori berasal dari protein. Meskipun konsumsi protein ini tinggi tetapi tidak diperoleh efek yang merugikan pada populasi tersebut (Heller dan Scott, 1967).

Suatu ransum yang sebagian besar terdiri dari daging dan ikan akan menimbulkan masalah dalam kalsium. Sebagian besar populasi memperoleh kalsium dari susu dan produk susu yang diperlukan untuk pertumbuhan dan pemeliharaan tulang. Orang- orang Eskimo mengkonsumsi tulang-tulang muda berasal ikan dan hewan mamalia air untuk mencegah defisiensi kalsium. Meskipun demikian, karena konsumsi protein amat tinggi, maka banyak kalsium diekskresi melalui urine. Hal ini disebabkan oleh konsumsi protein tinggi dan konsumsi kalsium rendah (Draper, 1977).

Yang menarik dari penelitian ini adalah meskipun orang-orang Eskimo mengkonsumsi ransum dengan kadar protein tinggi dan kadar lemak tinggi, namun mereka mempunyai kadar kholesterol darah normal. Hal ini disebabkan karena lemak yang dikonsumsi mengandung asam-asam lemak ganda yang tidak jenuh yang berasal dari ikan dan daging tanpa lemak (Draper, 1977). Ekskresi nitrogen yang tinggi yang merupakan sisa metabolisme protein, dihubungkan dengan konsumsi air yang banyak, sehingga mereka dapat mengimbangi masalah tersebut.

Kebanyakan orang tidak dapat beradaptasi terhadap protein tinggi dalam ransum seperti halnya orang-orang Eskimo. Oleh karena itu konsumsi protein tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada hati dan ginjal. Hal sama terjadi apabila seseorang mengkonsumsi ransum tinggi kandungan proteinnya untuk menurunkan bobot badan, maka akan terjadi kerusakan ginjal. Oleh karena fungsi ginjal belum berkembang sempurna pada anak-anak, maka pemberian makanan yang mengandung protein tinggi tidak dianjurkan pada anak-anak selama awal-awal bulan masa kehidupan dan jika pada saatnya pemberian protein, maka harus dilakukan secara bertahap.

  1. Defisiensi Makronutrien

Daftar Pustaka :

Piliang W.G. dan S. Djojosoebagio Al Haj. 2006. Fisiologi Nutrisi, Volume I.

Pusat Studi Bioteknologi dan Ilmu Hayat. IPB Bogor

Piliang W.G. dan S. Djojosoebagio Al Haj. 2006. Fisiologi Nutrisi, Volume II.

Pusat Studi Bioteknologi dan Ilmu Hayat. IPB Bogor

Piliang W.G. 1995. Nutrisi Vitamin, Vol 1. IPB Press

Piliang W.G. 1997. Nutrisi Mineral, . IPB Pres

About these ads

3 Comments

  1. Heya my business is with the primary time frame right here. I stumbled upon the following mother board and I in finding This process valuable & it helped me to outside a whole lot. I hope to provide a thing back again and also aid others as you aided my family.

Trackbacks

  1. Ekses dan Defisiensi Makronutrien « Intannursiam's Blog | Gudang Segala Informasi
  2. Ekses dan Defisiensi Makronutrien « Intannursiam's Blog | Gudang Segala Informasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: