FAKTOR-FAKTOR EXTERNAL YANG MEMPENGARUHI KEMAMPUAN PRODUKSI HIJUAN MAKANAN TERNAK

Laporan Praktikum Pengantar Manajemen Pastura

Hari / tanggal  : Senin, 21 Juni 2010               Tempat: Laboratorium Agrostrologi

Asisten : -    Edi Sutjipto, Amd.

-     Nur Rokhmah K., SPt. Msi.

-     Agustinus . T. A. SPt.

FAKTOR-FAKTOR EXTERNAL YANG MEMPENGARUHI KEMAMPUAN PRODUKSI HIJUAN MAKANAN TERNAK

Oleh :

Intan Nursiam

D24080094

KELOMPOK 5 G3

DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN

FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Rumput merupakan pakan utama bagi ternak ruminansia seperti sapi, kambing dan domba. Ketersedian rumput atau hijauan makanan ternak erat kaitannya dengan tingkat produksi dari ternak tersebut. Secara umum hijauan makanan ternak yang diberikan pada ternak dibagi menjadi dua macam, yaitu rumput-rumputan dan polong-polongan (legum).

Kemampuan untuk tumbuh dan berkembang setiap rumput berbeda-beda. Setidaknya ada dua faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dari rumput yaitu faktor internal dan faktor ekternal. Faktor internal erat kaitannya dengan genetik dari rumput tersebut sedangkan faktor eksternal lebih condong terhadap pengaruh dari lingkungan terhadap pertumbuhan hijauan makanan ternak tersebut.

Tanaman akan tumbuh dengan baik apabila faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dapat terpenuhi secara sempurna. Pemberian pupuk yang cukup merupakan hal yang penting karena tidak semua mineral yang dibutuhkan oleh tanaman tersedia dalam tanah, sehingga perlu adanya pemberian zat tambahan dengan dosis yang tepat. Persyaratan tumbuh juga berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman, persyaratan tumbuh tersebut meliputi kebutuhan cahaya, nutrisi, air, CO2, dan gas-gas lainnya.

Tujuan

Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui tektur tanah, pengaruh tekstur tanah (remah, pasir, dan liat), kesuburan tanah (pemupukan N, P, K), intensitas cahaya, dan ketersediaan air terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman hijauan makanan ternak.

TINJAUAN PUSTAKA

Hijauan Makanan Ternak

Hijauan makanan ternak bahan makanan yang berupa daun-daunan, kadang-kadang masih bercampur dengan batang, ranting, serta bunganya yang umumnya masih berasal dari tanaman sebangsa rumput (Graminea, Cyperaceae) atau daun kacang-kacangan (Leguminosae) atau jenis lainnya (Lubis, 1963).

Beberapa kriteria yang harus dimiliki oleh hijauan makanan ternak antara lain : sebagai penghasil hijauan yang banyak dan mempunyai bagian tumbuhan yang banyak untuk memudahkan pemulihan akibat renggutan ternak, jaringan yang baru-baru tumbuh terlindungi oleh organ lain, dapat berkembang  bika secara vegetatif dan generatif, dan memiliki system perakaran yang luas dan dalam sehingga mampu memenfaatkan unsure-unsur hara dalam kondiis kering (McIlroy, 1976).

Tekstur Tanah

Menurut Suwardi dan Wiranegara (1998), tekstur tanah adalah perbandingan relative antara fraksi pasir, debu, liat yang terkandung dalam suatu massa tanah. Sifat tanah seperti aerosi, konsistensi tanah, permeabilitas dan infiltrasi dapat dengan mudah diketahui bila kita mengenal tekstur tanah. Berdasarkan penelitian, di dapatkan 3 kelas dasar dari tanah yaitu pasir lempung dan liat. Tekstur tanah menunjukkan kasar halusnya tanah, berdasarkan perbandingan banyaknya butir – butir pasir, debu dan clay maka tanah dikelompokkan ke dalam beberapa macam kelas tekstur yaitu kasar (sand, loamy sand), agak kasar (sandy loam, small sandy loam), sedang (very small sandy loam, loam, silty loam, silty), agak halus (sandy, clay, silty clay, clay).

Tanah merupakan bagian-bagian bumi dimana akar tanaman tumbuh, tanah juga merupakan komponen hidup dari lingkungan yang penting dan dapat di manipulasi untuk mempengaruhi penampilan tanaman (Harjadi, 1979). Tanah terdiri dari 3 fase yang tersusun dari padatan (bahan mineral dan organik), cairan dan gas disamping jasad-jasad, yang karena pengaruh berbagai macam faktor lingkungan terhadap permukaan bumi dan kurun waktu tertentu, membentuk berbagai hasil perubah yang memiliki ciri-ciri morfologis yang khas, sehingga berperan sebagai tempat tumbuh bermacam-macam tanaman. Tiga fase penyusun tanah tersebut tidak berada dalam bagian yang terpisah-pisah, melainkan merupakan suatu sistem yang saling berinteraksi (Baver dalam Kusharsoyo, 2001).

Klasifikasi Tanah

Partikel tanah memiliki ukuran yang berbeda-berbeda. Partikel tersebut digunakan kedalam ukuran pasir, debu, dan tanah liat. Fraksi kasar yang meliputi batu, kerikil, pasir berperan untuk menumpu atau menunjang tegaknya tanaman. Peranan dari fraksi dalam retenan air dan nutrisi tanaman kecil sekali. Fraksi halus yang terdiri dari debu dan tanah liat sangat menentukan kapasitas penahanan air tanah, aerasi tanah, dan penyediaan unsur hara dalam bentuk tersedia ( Indranada, 1998 dalam Kusharsoyo, 2001).

Luas permukaan dan muatan listriknya tiap satuan massa sangat besar sehingga menjadi pemeran utama pada proses yang berlangsung didalam tanah. Koloid tanahlah yang menahan air dan unsur hara yang kemudian akan diserahkan kepada tanaman. Tanah berstuktur halus memegang terlalu banyak air, sehingga udara tanahnya tidak kebauan ruang pori-pori lagi. Dan akibatnya tanaman malah mengalami defisiensi air ( Indranada,  1998 dalam Kusharsoyo, 2001).

Dalam pengelolaan kesuburan tanah, penetapan tekstur tanah sangat perlu sekali dilakukan, karena dapat memberikan gambaran luas mengenai sifat-sifat tanah lainnya. Tanah liat dan humus ( bahan organik aktif ) sebenarnya tergolong koloid dan mempunyai sifat menguntungkan ( Indranada, 1998 dalam Kusharsoyo, 2001).

  • Tanah Remah

Tanah yang berstruktur remah pada umumnya mempunyai perbandingan yang relatif seimbang antara bahan padat dan ruang pori-pori pada tanahnya. Keseimbangan ini sangat berpengaruh pada pencukupan kebutuhan tanaman akan air dan udara bagi kelangsungan pertumbuhannya yang baik, sedang bahan padatnya dapat menjadi pegangan akar sehingga pertumbuhannya kuat dan resistensi terhadap berbagai pengaruh yang akan merobohkannya (Kartasapoetra, 1989).

  • Tanah Liat

Tanah liat merupakan tanah yang tergolongkan koloid dengan diameter kurang dari 0,002 mm. Luas permukaan dan muatan listriknya tiap satuan massa begitu besar sehingga tanah liat yang menjadi pemeran utama pada proses yang berlangsung dalam tanah. Koloid tanahlah yang menahan air dan unsur hara yang kemudian akan diserahkan kepada tanaman. Tanah liat memegang terlalu banyak air sehingga udara tanahnya tidak kebagian ruang pori lagi dan akibatnya tanaman malah mengalami defisiensi air (Indranada,1989 dalam Kusharsoyo, 2001).

Menurut  Kartasapoetra (1989.), tanah liat adalah tanah yang berbutir halus yang bersifat seperti lempung yang memiliki kapasitas, tidak memperlihatkan sifat dilatasi dan tidak mengandung sejumlah butir kasar yang berarti mekanika tanah. Tanah lempung berbentuk  lempeng berkenaan daya stukturnya yang berlapis-lapis-lapis kecuali mengandung oksida dan hidroksida besi. Lempung berwarna kelabu, putih, dan merah jika mterselaputi oleh besi. Tanah berstuktur halus sering bersifat berat diolah karena sangat liat dan lekat sewaktu basah dan keras sewaktu kering. Tanah yang dirajai fraksi lempeng juga disebut berstuktur berat ( Hadiprawiro, 1989).

  • Tanah Pasir

Pasir adalah tanah yang berasal dari hasil palapukan berupa mineral primer yang terlepas dari timbunan batuan dan bibir batuan. Pasir biasanya berbentuk gumpal membulat, gumpal menyudut atau kubik. Tanah yang dirajai fraksi pasir dapat bersifat kasar, pasiran atau ringan mudah diolah karena longgar dan gembur ( Hadiprawiro, 1998).

Tanah pasir tidak pernah menyediakan air dan unsur hara yang tinggi jumlahnya. Tanah pasir ini memiliki diameter antara 2,00-0,02 mm. Zarah pasir biasanya berbentuk gumpal membulat, gumpal menyudut atau kubik. Zarah tersebut adalah hasil pelapukan berupa mineral primer yang terlepas dari embanan dan sibir batuan. Tanah pasir tidak penah menyediakan air dan unsur hara yang tinggi jumlahnya (Hadiprawiro,1998).

Kesuburan Tanah

Kesuburan tanah adalah kemampuan tanah untuk dapat menyediakan unsur hara dalam jumlah berimbang untuk pertumbuhan dan produksi tanaman. Petunjuk yang berguna untuk mengestimasi kesuburan tanah adalah struktur, tekstur, dan keasaman tanah (Nyakpa et al, 1988).

Menurut Harjadi (1979) menyatakan kesuburan tanah secara tidak langsung berhubungan dengan komposisi kimia dari mineral-mineral anorganik. Faktor yang paling penting adalah tingkatan bentuk hara yang tersedia bagi tanaman. Tingkatan tersebut tergantung faktor kelarutan zat hara, pH tanah, kapasitas pertukaran kation, tekstur tanah dan jumlah bahan organik yang ada. Tanah yang subur dapat menghasilkan banyak bahan makanan ternak, karena disiram air hujan atau dengan pengairan. Kesuburan tanah dapat dipelihara dan ditingkatkan dengan pengelolaan yang baik, termasuk pemberian pupuk hijau, kompos, kandang, dan pupuk buatan (Tafal, 1981).

Pupuk

Leiwekabessy dan Sutandi (1988) menyatakan bahwa pupuk adalah semua bahan yang mengandung unsur-unsur yang berfungsi sebagai hara tanaman serta tidak mengandung unsure-unsur toksik yang dapat memperburuk keadaan tanaman. Pengaruh kesuburan tanah berkaitan erat dengan pemberian pupuk pada tanah tersebut, baik pupuk organik maupun pupuk anorganik

Menurut Sarief (1985) dalam Kusharsoyo, (2001), pupuk adalah setiap bahan yang diberikan ke dalam tanah atau disemprotkan pada tanaman dengan maksud menambah unsur hara yang diperlukan oleh tanaman. Arti pemupukan adalah setiap usaha pemberiaan pupuk yang bertujuan menambah persediaan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman untuk meningkatkan produksi dan mutu hasil tanaman.

ü  Pupuk Kandang

Pupuk kandang merupakan pupuk organik yang dihasilkan oleh ternak. Leiwakabessy (1998), pupuk kandang merupakan kotoran padat dan cair dari hewan ternak yang tercampur dengan sisa makanan. Setiawan (1996) menyebutkan bahwa pengaruh pemberian pupuk kandang terhadap sifat tanah antara lain : memudahkan penyerapan air hujan, memeperbaiki kemampuan tanah dalam mengikat air, mengurangi erosi, memberikan lingkungan tumbuh yang baik bagi kecambah biji dan akar, dan merupakan sumber unsur hara tanaman. Pupuk kandang membuat tanah lebih subur, gembur, mudah diolah. Kegunaan ini tidak dapat digantikan oleh pupuk buatan.

Leiwakabessy (1998) menyatakan bahwa pemberian bahan organik yang mudah didekomposisikan misalnya pupuk kandang membantu memperbaiki struktur tanah. Penyusun organik dari pupuk kandang yang penting adalah komponen hidup yaitu jasad mikro terutama dalam hewan pemamah. Sejumlah tertentu dari unsur hara  yang terdapat dalam pakan dapat dijumpai kembali dalam kotoran mereka. Pupuk kandang merupakan sumber N2, F yang sangat dibutuhkan tanaman, selain itu juga merupakan sumber unsur Fe, Zn, Cu, dan B.

ü  Urea

Pupuk urea adalah pupuk yang berupa hablur atau serbuk putih (prill), hampir tidak berbau atau mengeluarkan bau amonia. Urea merupakan pupuk nitrogen dalam bentuk amida dengan rumus kimia CO(NH2)2. Bahan baku utama urea adalah amonia, NH3, dan gas Co2 tanpa menggunakan bahan penunjang (Sutedjo, 1994 dalam Kusharsoyo, 2001 ). Pupuk urea mempunyai fungsi antara lain sebagai sumber nitrogen terbesar, memperbaiki pertumbuhan vegetatif tanaman dan pembentukan protein (Endah, 1987 dalam Kusharsoyo, 2001). Sifat urea adalah higroskopis dengan kelembaban nisbi 73% sudah dapat menyerap air dari udara dan mudah larut dalam air.

Menurut Hardjowigno (1995), Urea [CO(NH2)2] berbentuk kristal yang berwarna putih, kadar N sebesar 45%, ekonomis, higroskopis (mulai menarik uap air pada kelembaban nisbi udara 73% sering diberi selaput untuk mengurangi sifat higroskopis ini). Pemupukan N akan membantu tanaman dalam pembentukan klorofil, mempercepat laju pertumbuhan serta memperbesar ukuran daun (Russel, 1961).

ü  Pupuk SP36

Pupuk pospor yang sering digunakan petani saat ini adalah SP36 [Ca(H2PO4)2]. Pupuk ini merupakan pupuk soper pospor yang mengandung  kadar P2O3 sebanyak 36%. SP36 berbentuk butir kecil berwarna abu-abu, larut dalam air, bekerja lambat sehingga dianjurkan untuk pemupukan sebelum tanam (Hardjowigeno, 1995). Menurut Anonymous (1967), unsure P dapat menstimulasi pembentukan akar, mempercepat kematangan dan pertumbuhan akar serta menstimulir pembungaan dan pembentukkan biji.

Pupuk ini disebut juga dengan pupuk Enkel-Super Fosfat. SP36 ini mudah larut dalam air dan agak sedikit higroskopis. Bentuknya berwarna abu-abu dan mengandung zat fosfat 14-20% (Lingga,1998). Menurut Rismunandar (1990), fosfor merupakan unsur yang penting bagi setiap tanaman dalam bagian protoplasma. Fosfor penting untuk pertumbuhan, pembentukan protein, pembentukan akar, mempercepat tuanya buah.

ü  Kalium (KCl)

Leiwakabessy (1988) menyatakan bahwa kalium merupakan unsur hara mineral yang paling banyak dibutuhkan tanaman setelah nitrogen dan tanaman monokotil biasanya membutuhkan lebih banyak kalium daripada tanaman dikotil. Selain itu, jumlah kalium yang diserap tanaman tergantung pada jenis dan besarnya produksi tanaman.

Peranan unsur kalium pada tanaman menurut Leiwakabessy (1988) antara metabolisme karbohidrat; pembentukan, pemecahan, dan translokasi pati; mengatur bebrbagai unsur mineral lain; menetralisasi asam-asam organik yang penting bagi proses fisiologi; mengaktifkan berbagai enzim; mempercepat pertumbuhan jaringan meristematik karena pada tanaman unsur kalium terkumpul pada titik tumbuh; mengeraskan jerami dan bagian kayu tanaman sehingga dapat meningkatkan daya tahan tanaman terhadap gangguan hama serta dapat meningkatkan kualitas buah. Ahn (1993) menyatakan bahwa kalium akan diserap tanaman dalam bentuk K+ bersama kation lainnya dari larutan tanah dalam jumlah yang relatif besar.

Ketersediaan Air

Air merupakan bagian dari semua sel, jumlahnya bervariasi tergantung dari jaringannya. Air merupakan sistem pelarut dari sel dan memberikan suatu medium untuk pengangkutan di dalam tanah. Air dapat mempertahankan turgor yang sangat perlu dalam kerumitan transpirasi dan pertumbuhan pada tanaman. Air juga diperlukan sebagai hara untuk pembentukan senyawa baru (Harjadi, 1979). Air merupakan senyawa yang penting bagi tanaman, pada sebagian besar sel-sel dan jaringan tanaman tingkat tinggi jumlah air dapat mencapai 80 % berat segarnya.

Jumin (1992) menjelaskan beberapa fungsi air bagi tanaman yaitu sebagai  unsur penting pada pembentukan protoplasma, sebagai pelarut dan pengangkut media unsur hara, berperan dalam proses fotosintesis dan respirasi, sebagai penjaga turgor sel tanaman  dan pengatur mekanisme gerakan dalam tanaman, karena pentingnya air bagi banyak proses di dalam tanah, maka kestabilan ketersediaan air dalam tanah akan mempengaruhi pertumbuhan dan produksi akhirnya.

Menurut Soepardi (1983) Aerasi tanah yang kurang baik dapat mengakibatkan kekurangan O2, terganggunya kegiatan bakteri seperti nitrifikasi, perikatan nitrogen, dan amonifikasi. Kelebihan air juga akan menghilangkan unsur hara karena pencucian. Air tersedia merupakan air yang terdapat antara air kapasitas lapang dan koefisien layu. Penelitian irigasi menunjukkan bahwa untuk pertumbuhan optimum tanaman, air yang harus ditambahkan adalah 50% hingga 85 % dari air tersedia telah habis.

Produksi tanaman sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air yang diantaranya berasal dari curah hujan menyatakan bahwa kebutuhan air yang berbeda pada setiap fase pertumbuhan, akibat kekurangan air pada setiap fase menyebabkan gangguan yang berbeda. Air yang melebihi kapasitas lapang (air berlebihan) kurang berguna bagi tanaman karena akan menyebabkan aerasi yang buruk sehingga akan menyebabkan tanah kekurangan oksigen yang diperlukan oleh tanaman dan bakteri penambat nitrogen dalam tanah (Gupta dan O’toole, 1986). De datta , 1981)

Intensitas cahaya (penyiranan) adalah jumlah energi yang diterima oleh bumi pada waktu dan areal tertentu (Wetzel and Licken, 1979 dalam Kusharsoyo, 2001 ). Jumlah energi yang diterima oleh bumi bergantung pada kualitas dan lama periode penyinaran (Porcella dan Bishop, 1975 dalam Kusharsoyo, 2001). Intensitas cahaya yang tinggi mempengaruhi kandungan air daun dan daun akan mengalami defisit air yang akan diikuti oleh penutupan stomata sehingga akan mengurangi laju fotosintesis (Harjadi, 1989). Intensitas cahaya tinggi juga meningkatkan ketebalan batang dengan pertumbuhan yang baik dari xylem dan menyebabkan jaringan dan internode pendek, juga akan mempengaruhi perkembangan dan perluasan daun yang baik bila dalam keadaan cocok (Daryanto,1973 dalam Kusharsoyo, 2001).

Intensitas Cahaya

Intensitas cahaya (penyiranan) adalah jumlah energi yang diterima oleh bumi pada waktu dan areal tertentu (Wetzel and Licken, 1979 dalam Kusharsoyo, 2001 ). Jumlah energi yang diterima oleh bumi bergantung pada kualitas dan lama periode penyinaran (Porcella dan Bishop, 1975 dalam Kusharsoyo, 2001). Intensitas cahaya yang tinggi mempengaruhi kandungan air daun dan daun akan mengalami defisit air yang akan diikuti oleh penutupan stomata sehingga akan mengurangi laju fotosintesis (Harjadi, 1979). Intensitas cahaya tinggi juga meningkatkan ketebalan batang dengan pertumbuhan yang baik dari xylem dan menyebabkan jaringan dan internode pendek, juga akan mempengaruhi perkembangan dan perluasan daun yang baik bila dalam keadaan cocok (Daryanto,1973 dalam Kusharsoyo, 2001).

Cahaya merupakan bagian spectrum radiasi  matahari dan merupakan komponen lingkungan fisik yang sangat penting bagi seluruh makhluk hidup khususnya tanaman, yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Jumin, 1992). Menurut Setiadi (1986), bahwa pertumbuhan tanaman tergantung pada intensitas, kualitas, lamanya (perioditas) dan arah cahaya. Energi cahaya bertanggung jawab terhadap kegiatan fotosintesis dan sejumlah pengikatan N melalui reaksi kimia.

Aspek dasar dari cahaya yang penting secara biologi adalah kuantitas dan kualitasnya. Kedua karakter ini berfluktuasi di laut, bergantung pada waktu (harian, musiman dan tahunan), ruang (perbedaan lokasi di bumi dan kedalaman), kondisi cuaca, penyebaran sudut datang termasuk arah perubahan maksimum dan tingkat difusi, dan tingkat polarisasi (Parson et al,. dalam Kusharsoyo, 2001). Makin dalam penetrasi cahaya kedalam perairan menyebabkan semakin besar daerah di mana proses fotosintesis dapat berlangsung, sehingga kandungan oksigen terlarut masih tinggi pada lapisan air yang lebih dalam (Ruttner dalam Widodo, 2004).

Secara tidak langsung intensitas cahaya matahari mempengaruhi pertumbuhan melalui proses transpirasi. Pengaruh cahaya terhadap pertumbuhan tanaman tergantung pada intensitas, kualitas, lamanya penyinaran dan periodesitasnya.variasi dari faktor-faktor tersebut menentukan kuantitas dan kualitas pertumbuhan. Panjang gelombang yang paling bermanfaat bagi tanaman adalah 400-700 nm. Laju fotosintesa diperlambat oleh intensitas cahaya yang melebihi atau di bawah kisaran normal bagi kebutuhan normal karena intensitas cahaya matahari adalah peubah yang kritis pada proses fotosintesa (Monteith, 1977 dalam Kusharsoyo 2001).

Intensitas cahaya yang tinggi akan menyebabkan perubahan di dalam sifat-sifat morfologi pohon, perkembangan akar dan rasio akar pucuk aka meningkat. Daun yang mendapat cahaya penuh akan lebih tebal karena cahaya penuh merangsang pembentukan sel-sel palisade. Disamping itu daun yang mendapat intensitas cahaya yang tinggi mempunyai banyak stomata dengan dinding sel yang tebal, ukuran kloroplas besar tapi jumlahnya sedikit. Smith (1982) dalam Kusharsoyo (2001) berpendapat bahwa beberapa jeis tanaman memerlukan cahaya penuh untuk pertumbuhan dan produksi, sedangkan beberapa yang lain memerlukan naungan

MATERI DAN METODE

Pengaruh Tekstur Tanah

Materi

Alat-alat yang digunakan untuk pengamatan pengaruh tekstur tanah terhadap kemampuan produksi diantaranya cangkul, polybag, label, spidol, meteran dan alat untuk menyiram air. Bahan yang digunakan untuk pengamatan ini adalah bahan tanaman rumput gajah, tanah liat, pasir dan pupuk kandang.

Metode

Hal pertama yang perlu disiapkan yaitu media tanam untuk rumput gajah tersebut. Media tanam disini adalah tanah pasir, tanah liat dan tanah remah. Untuk tanah remah ini dibuat dengan cara dua per tiga bagian dari polybag diisi dengan tanah liat dan sisanya diisi dengan pupuk kandang kemudian dicampurkan keduanya sampai tercampur seluruhnya. Selanjutnya masing-masing polybag diberi label sebagai penanda perlakuan.

Setelah media tanam selesai, berikutnya stek dimasukan ke dalam tanah dengan posisi agak dimiringkan dengan salah satu node terbenam dalam tanah. Tunggu hingga muncul tunas dari masing-masing node tersebut. Lakukan penyiram setiap hari aga dapat tumbuh dengan baik. Setelah tunas tumbuh selama 2 minggu lakukan pengukuran terhadap tinggi vertical dan jumlah daun dari masing-masing perlakuan. Pengukuran dilakukan sampai 6 kali pengamatan.

Ketika memasuki waktu panen, potong batang 10cm dari permukaan tanah dan ambil bagian tanah yang tersisa serta bersihkan akar dari tanah yang menenpel. Timbang berat bagian yang dipotong 10cm dari bagian permukaan tanah selanjutnya bagian ini disebut bagian edible. Langkah selajutnya, timbang bagian sisanya termasuk akar dan bagian tersebut disebut bagian non edible atau bagian yang tidak bisa dimakan ternak. Selanjutnya pisahkan akar dari bagian non edible, lalu tinbang akar tersebut. Cari persentase perbandingan antara berat edible, non edible dan berat akar dengan berat total panen.

Pengaruh Kesuburan Tanah

Materi

Alat-alat yang digunakan untuk pengamatan pengaruh tekstur tanah terhadap kemampuan produksi diantaranya cangkul, polybag, label, spidol, meteran dan alat untuk menyiram air. Bahan yang digunakan untuk pengamatan ini adalah bahan tanaman rumput Setaria splendida, pupuk Urea, pupuk SP36, pupuk KCL dan pupuk kandang.

Metode

Isi keempat polybag yang telah disediakan dengan tanah. Untuk tanaman kontrol (K0) tidak diberikan penambahan pupuk kandang maupun pupuk kimiawi. Untuk perlakuan pertama (K1) diberikan tambahan pupuk kandang sebanyak 1/3 bagian dari polybag. Pada perlakuan dua ( K2 ) seluruh pupuk yang digunakan adalah pupuk kimiawi berupa urea, SP36 dan KCl dengan dosis terlampir. K3 atau perlakuan ke tiga merupakan gabungan antara perlakuan satu (K1) dengan perlakuan dua (K2).

Setelah media tanam selesai, berikutnya pols dimasukan ke dalam tanah dengan posisi tegak. Tunggu hingga muncul tunas dari pols tersebut. Lakukan penyiram setiap hari agar dapat tumbuh dengan baik. Setelah tunas tumbuh selama 2 minggu lakukan pengukuran terhadap tinggi vertical dan jumlah daun dari masing-masing perlakuan. Pengukuran dilakukan sampai 5 kali pengamatan.

Ketika memasuki waktu panen, potong batang 10cm dari permukaan tanah dan ambil bagian tanah yang tersisa serta bersihkan akar dari tanah yang menenpel. Timbang berat bagian yang dipotong 10cm dari bagian permukaan tanah selanjutnya bagian ini disebut bagian edible. Langkah selajutnya, timbang bagian sisanya termasuk akar dan bagian tersebut disebut bagian non edible atau bagian yang tidak bisa dimakan ternak. Selanjutnya pisahkan akar dari bagian non edible, lalu tinbang akar tersebut. Cari persentase perbandingan antara berat edible, non edible dan berat akar dengan berat total panen.

Pengaruh Intessitas Cahaya

Materi

Alat-alat yang digunakan untuk pengamatan pengaruh tekstur tanah terhadap kemampuan produksi diantaranya cangkul, polybag, label, spidol, meteran dan alat untuk menyiram air. Bahan yang digunakan untuk pengamatan ini adalah bahan tanam berupa biji jagung (Zea mays), paranet 50% cahaya, pupuk Urea, pupuk SP36, dan pupuk KCL.

Metode

Campurkan tanah yang akan dipakai dengan pupuk SP36 dan KCL. Setelah tanah tercampur dengan pupuk masukan tanah ke dalam masing-masing polybag. Masukan bahan tanam berupa biji jagung kedalam tanah. Tempatkan salah satu polybag di dalam paranet dengan intensitas cahaya 50%. Polybag yang lain ditempatkan di ruangan terbuka dengan intensitas cahaya 100%. Beriakan tambahan pupuk Urea setelah tanaman berumur 2 minggu. Lakukan penyiram setiap hari agar dapat tumbuh dengan baik. Setelah tunas tumbuh selama 2 minggu lakukan pengukuran terhadap tinggi vertical dan jumlah daun dari masing-masing perlakuan. Pengukuran dilakukan sampai 5 kali pengamatan.

Ketika memasuki waktu panen, potong batang 10cm dari permukaan tanah dan ambil bagian tanah yang tersisa serta bersihkan akar dari tanah yang menenpel. Timbang berat bagian yang dipotong 10cm dari bagian permukaan tanah selanjutnya bagian ini disebut bagian edible. Langkah selajutnya, timbang bagian sisanya termasuk akar dan bagian tersebut disebut bagian non edible atau bagian yang tidak bisa dimakan ternak. Selanjutnya pisahkan akar dari bagian non edible, lalu tinbang akar tersebut. Cari persentase perbandingan antara berat edible, non edible dan berat akar dengan berat total panen.

Pengaruh Ketersedian Air

Materi

Alat-alat yang digunakan untuk pengamatan pengaruh tekstur tanah terhadap kemampuan produksi diantaranya cangkul, polybag, label, spidol, meteran dan alat untuk menyiram air. Bahan yang digunakan untuk pengamatan ini adalah bahan tanam berupa pols Pannicum maximum var. gaton, kantong plastik, pupuk Urea, pupuk SP36, dan pupuk KCL.

Metode

Campurkan tanah yang akan dipakai dengan pupuk SP36 dan KCl hingga tercampur seluruhnya. Untuk perlakuan pertama (K1), tanah akan diberi air kurang dari kapasitas lapang atau dibuat kondisi kering. Pada perlakuan kedua (K2), tanah akan diberikan air sesuai dengan kapasitas lapang tanah tersebut. Pada perlakuan genangan (K3) sebelum tanah dimasukan kedalam polybag tanah dimasukan kedalam kantong plastic terlebih dahulu dengan tujuan agar tidak ada air yang keluar dari polybag tersebut.

Setelah tanaman berumur satu minggu, ketiga perlakuan tersebut mulai dilakukan dengan sebelumnya memupuk tanaman tersebut dengan Urea. Untuk K1 penyiraman cukup dilakukan sekali dalam sehari. Tanaman K3 dikondisikan agar tanaman tersebut selalu tergenang oleh air. Pada tanaman K2 penyiraman dilakukan 2 kali sehari sampai tanah tersebu mencapai kapasitas lapangnya. Setelah tunas tumbuh selama 2 minggu lakukan pengukuran terhadap tinggi vertical dan jumlah daun dari masing-masing perlakuan. Pengukuran dilakukan sampai 5 kali pengamatan.

Ketika memasuki waktu panen, potong batang 10cm dari permukaan tanah dan ambil bagian tanah yang tersisa serta bersihkan akar dari tanah yang menenpel. Timbang berat bagian yang dipotong 10cm dari bagian permukaan tanah selanjutnya bagian ini disebut bagian edible. Langkah selajutnya, timbang bagian sisanya termasuk akar dan bagian tersebut disebut bagian non edible atau bagian yang tidak bisa dimakan ternak. Selanjutnya pisahkan akar dari bagian non edible, lalu tinbang akar tersebut. Cari persentase perbandingan antara berat edible, non edible dan berat akar dengan berat total panen.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

  1. Pengaruh Tekstur Tanah

1.1  Tabel hasil pengamatan rumput gajah setiap minggu

No Minggu ke Jenis tanah Parameter yang diamati keterangan
Tinggi vertical Jumlah daun
1 46,5 10
Liat 44 9
Pasir 9 2
2 2 Remah 81 3
Liat 69 11
Pasir 27 9
3 3 Remah 99 46
Liat 64 11
Pasir 43 13
4 4 Remah 105 41
Liat 67,5 11
Pasir 70 15
5 5 Remah 130 37
Liat 55 5
Pasir 103 14
6 6 Remah 153 41
Liat 55 7
Pasir 107 15

2. Pengaruh Kesuburan Tanah

1.2  Tabel hasil pengamatan pengaruh kesuburan tanah terhadap tingkat produksi rumput Paspalum antractum

No Minggu ke Jenis perlakuan Parameter yang diamati keterangan
Tinggi vertical Jumlah daun
1 1 37 9
K1 48,5 17
K2 51 4
K3 54 3
2 2 K0 51 12
K1 52 19
K2 56 6
K3 57 9
3 3 K0 51 15
K1 58 24
K2 55 8
K3 61 14
4 4 K0 66 30
K1 80 66
K2 84 43
K3 76 50
5 5 K0 70 32
K1 75 81
K2 85 52
K3 70 51

3. Pengaruh Intensitas Cahaya

1.3  Tabel hasil pengamatan pengaruh intensitas cahaya terhadap tingkat produksi rumput Zea mays

No Pengamatan ke Jenis perlakuan Parameter yang diamati Keterangan
Tinggi vertical Jumlah daun
1 1 K1 27 4
K2 41 8
2 2 K1 45 5
K2 65,5 10
3 3 K1 120 9
K2 116 18
4 4 K1 126 10
K2 120 12
5 5 K1 122 10
K2 118 9

4. Pengaruh Ketersedian Air

1.4  Tabel hasil pengamatan pengaruh ketersediaan air terhadap produksi Pannicum maximum var.gaton

No Minggu ke Jenis perlakuan Parameter yang diamati keterangan
Tinggi vertical Jumlah daun
1 1 K1 88 4
K2 74 7
K3 50 4
2 2 K1 139 17
K2 97 22
K3 117 8
3 3 K1 112 9
K2 96 27
K3 145 19
4 4 K1 145 22
K2 98 29
K3 130 12
5 5 K1 145 25
K2 98 29
K3 172 20

Pembahasan

Pengaruh Tekstur Tanah

Menurut Suwardi dan Wiranegara (1998), tekstur tanah adalah perbandingan relative antara fraksi pasir, debu, liat yang terkandung dalam suatu massa tanah. Jenis tekstur tanah yang berbeda akan mempengaruhi tingkat perkemabangan tumbuhan tersebut. pengaruh pebedaan tekstur tanah terhadap tingkat produksi rumput gajah dapat dilihat pada tabel  1.1.

Dari hasil pengamatan terlihat bahwa pada tanah yang bertekstur remah mempunyai tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi jika dibandigkan dengan pasir atau liat. Hal ini dikarenakan tanah yang berstruktur remah pada umumnya mempunyai perbandingan yang relatif seimbang antara bahan padat dan ruang pori-pori pada tanahnya (Kartasapoetra, 1989). Grafik 1.1 menunjukan tingkat pertumbuhan rumput gajah pada tiap minggunya.

Dari tabel 1.2 dapat dilihat dari berat akar, berat akar yang ditanam pada tanah yang liat memiliki nilai yang paling rendah. Hal ini disebabkan karena tekstur tanah liat yang lekat sehingga membatasi pergerakan akar tersebut. Tanah liat memegang terlalu banyak air sehingga udara tanahnya tidak kebagian ruang pori lagi dan akibatnya tanaman malah mengalami defisiensi air (Indranada,1989 dalam Kusharsoyo, 2001).

Tabel 1.2. produksi rumput gajah pada tekstur tanah yang berbeda

No Parameter yang diamati Jenis tanah
Remah Liat Pasir
1 Berat edibel 237 gram 9 gram 62 gram
2 Berat nonedibel 158 gram 63 gram 74 gram
3 Berat akar 37 gram 7 gram 18 gram

Pengaruh Kesuburan Tanah

Tingkat kesuburan tanah sangat menentukan tingkat produksi dari sebuah tanaman. Agar tingkat kesuburan menjadi lebih baik perlu adanya pemupukan untuk meningkatkan kesedian unsure hara dalam tanah. Pupuk yang digunakan bisa berupa pupuk kandang, pupuk kompos atau pupuk organic lainnya. Selain pupuk organik bisa menggunakan pupuk kimiawi seperti urea, SP36 dan ZA yang disesuaikan dengan kebutuhan dari tanah itu sendiri.

Dari hasil pengamatan terlihat tinggi vertical dari Paspalum antractum pada perlakuan 2 yang diberi pupuk kimiawi memiliki ukuran yang lebih tinggi disbanding dengan perlakuan satu yang hanya diberi pupuk kandang. Hal ini dikarenakan kemampuan pupuk kimiawi untuk menyediakan unsure hara lebih besar dibandingkan dengan pupuk kandang. Pupuk kandang merupakan pupuk organik yang dihasilkan oleh ternak. Leiwakabessy (1998), pupuk kandang merupakan kotoran padat dan cair dari hewan ternak yang tercampur dengan sisa makanan. Grafik 2.1 dan 2.2 menunjukkan tinggkat produksi dari Paspalum antractum yang diberi pupuk yang berbeda.

Pada dua minggu awal perlakuan 4 yaitu pemberian pupuk komplit ( pupuk kandang ditambah dengan pupuk organic ) memilki ukuran yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman lainnya. Perlakuan satu yang tidak mengalami penambahan pupuk baik pupuk organic maupun pupuk kandang pada setiap pengamatan memiliki tinggi yang paling rendah dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Hal tersebut membuktikan penambahan pupuk dapat meningkatkan produksi tanaman.

Pada pengamatan data produksi, perlakuan 1 yaitu penambahan pupuk kandang memiliki tingkat produksi lebih tinggi. Hal tersebut terlihat dari total poduksi Paspalum antractum yang diberi pupuk kandang lebih tinggi dibandingkan perlakuan lain. Leiwakabessy (1998) menyatakan bahwa pemberian bahan organik yang mudah didekomposisikan misalnya pupuk kandang membantu memperbaiki struktur tanah. Untuk perlakuan 2 yaitu penambahan pupuk kimiawi produksi totalnya tidak tidak terlalu berbeda dengan perlakuan 3  yaitu pemberian pupuk kompit. Total produksi yang paling rendah adalah Paspalum antractum yang tidak diberikan penamabahan pupuk. Tabel 2.2 menunjukan kemampuan produksi Paspalum antractum yang diberi pupuk yang berbeda.

Tabel 2.2. kemampuan produksi Paspalum antractum yang diberi pupuk yang berbeda

No Parameter yang diamati perlakuan
K0 K1 K2 K3
1 Berat edible 108 86 95
2 Berat non edible 27 90 68 56
3 Berat akar 16 23 6 35

Pengaruh Intensitas Cahaya

Besar tidaknya cahaya yang diterima oleh tanaman menentukan kemapuan tanaman tersebut untuk berfotosintesis. Intensitas cahaya (penyiranan) adalah jumlah energi yang diterima oleh bumi pada waktu dan areal tertentu (Wetzel and Licken, 1979 dalam Kusharsoyo, 2001 ). Jumlah energi yang diterima oleh bumi bergantung pada kualitas dan lama periode penyinaran (Porcella dan Bishop, 1975 dalam Kusharsoyo, 2001).

Pada perlakuan pertama yang diberikan intensitas cahaya sebesar 100% memiliki tinggi yang hampir sama dengan yang diberikan cahaya sebesar 50%. Terdapat perbedaan bentuk fisik, pada jagung yang ditanam dengan cahaya 50% bentuk batang menjadi rebah dan memiliki beberapa lekukan. Hal ini disebabkan karena jagung mencari sumber cahaya untuk proses fotosintesisnya, lekukan tersebut merupakan bentuk adaptasi dari tumbuhan tersebut akibat keadaan lingkungan yang berbeda. Bentuk batang pada jagung yang diberi cahaya 100% adalah tegak. Grafik 3.1 menunjukan tinggi jagung yang diberi intensitas cahaya yang berbeda.

Daun merupakan alat yang erat kaitannya dengan proses fotosintesis. Berdasarkan pengamatan ternyata pada perlakuan kedua berupa pemberiaan cahaya 50% memiliki jumlah daun yang lebih banyak dibandingkan tanaman yang diberi cahaya 100%. Hal ini dikarenakan adanya proses penyesuaian dari tanaman ini untuk mendapatkan sinar matahari untuk proses fotosintesis dengan cara memperbanyak jumlah daun yang tumbuhan tersebut miliki. Grafik 3.2 menunjukan jumlah daun jagung yang dipengaruhi intensitas cahaya yang berbeda.

Berdasarkan pengamatan pada data produksi, jagung yang dieberikan cahaya 100% ternyata memiliki berat edible 3 kali lipat dari berat edible jagung yang hanya diberi cahaya 50%. Hal ini membuktikan bahwa besarnya tingkat intensitas cahaya yang diterima suatu tanaman dapat mempengaruhi tingkat produksi dari tanaman tersebut. table 3.2 menunjukkan kemampuan produksi jagung terhadap intensitas cahaya yang berbeda.

Table 3.2 data produksi jagung yang diberi intensitas cahaya yang berbeda

No Parameter yang diamati Perlakuan
K1 K2
1 Berat edibel 104 gram 31 gram
2 Berat nonedibel 24 gram 7 gram
3 Berat akar 14 gram 3 gram

Ketersediaan Air

Air berfungsi untuk melarutkan berbagai unsure hara yang ada dalam tanah agar bisa diserap oleh akar tanaman tersebut. Produksi tanaman sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air yang diantaranya berasal dari curah hujan menyatakan bahwa kebutuhan air yang berbeda pada setiap fase pertumbuhan, akibat kekurangan air pada setiap fase menyebabkan gangguan yang berbeda. Air yang melebihi kapasitas lapang (air berlebihan) kurang berguna bagi tanaman karena akan menyebabkan aerasi yang buruk sehingga akan menyebabkan tanah kekurangan oksigen yang diperlukan oleh tanaman dan bakteri penambat nitrogen dalam tanah (Gupta dan O’toole, 1986). De datta , 1981).

Berdasarkan pengamatan tentang ketersediaan air pada tanaman Pannicum maximum var.Gatton, pada minggu kelima tanaman diberi perlakuan tiga berupa pemberian air diatas kapasitas lapang ( genangan ) ternyata memiliki ukuran paling tinggi. Pada pengukuran minggu sebelumnya, tanaman yang paling tinggi dimilki oleh tanaman perlakuan ke satu yaitu perlakuan kering. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman ini mempunyai kemampuan untuk beradaptasi dengan baik. Perbandingan tinggi vertikal antar perlakuan dapat dilihat di garfik 4.1.

Jumlah daun pada perlakuan ke dua berupa kapasitas lapang memiliki jumlah yang paling tinggi dibandingkan perlakuan lain pada pengamatan setiap minggunya. Pada tiga minggu awal pengamatan jumlah terkecil dimilki oleh tanaman yang diberi perlakuan pertama yaitu perlakuan kering. Pada dua minggu terakhir jumlah daun yang paling sedikit adalah pada perlakuan ketiga. Perbedaan jumlah daun dari masing-masing perlakuan tersaji dalam grafik 4.2.

Berdasarkan pengamatan data produksi, perlakuan satu memiliki nilai produksi yang paling rendah dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Perlakuan genangan memiliki nilai produksi paling besar diantara perlakuan lainnya. Perbandingan data produksi yang di pengaruhi ketersediaan air tersaji dalam tabel 4.2.

Tabel 4.2 data produksi dari jumlah ketersediaan air yang berbeda

No Parameter yang diamati Perlakuan
K1 K2 K3
1 Berat edibel 29 gram 38 gram 49 gram
2 Berat nonedibel 16 gram 41 gram 45 gram
3 Berat akar 6 gram 21 gram 15 gram

KESIMPULAN

Faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan produksi suatu rumput adalah tekstur tanah, kesuburan tanah, intensitas cahaya dan ketersediaan air. Tekstur tanah yang paling optimal untuk pertumbuhan rumput adalah tanah yang bertekstur remah. Pemberiaan pupuk kandang dan pupuk kimiawi yang dikombinasikan dapat meningkatkan ketersediaan unsur hara yang ada dalam tanah. Pemberiaan intensitas cahaya yang cukup bisa memicu pertumbuhan karena mengoptimalkan proses fotosintesis. Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan semua hal tersebut harus didukung dengan ketersediaan air yang cukup.

DAFTAR PUSTAKA

AAK. 1995. Hijauan Makanan Ternak Potong dan Kerja. Kanisus. Yogyakarta.

Anonymous. 1967. Rice Production Manual. Compiled by Coorperation with IRRI. Philipines.

Ahn, P. M. 1993. Tropical Soils and Fertilizer Use. Longman Scientific and Technical. England.

Ayala, J. R., M. Sistach and R. Tuero. 1983. Faktor Effecting The Establishment of King Grass ( Pennisetum purpureum x Pennisetum thypoides ) . Planting Depth and    Number / Seed Pieces in The Day Season . Cuban Agric. Sci 17 (2).

Balai Informasi Pertanian Lembang. 1988. King Grass. Departemen Pertanian Balai Penelitian Ciawi. 1988. Apa itu King Grass. Departemen Pertanian

Bogdan. 1977. Tropical Pasture and Fodder Plants (Grasses and Legume). Longman Ltd and New York.

De Datta. 1981. Pinciples and Practice of rice Production. John Willey and Sons, Inc. New York.

Hardjowigeno, S. 1995. Ilmu Tanah. Akademi Pressindo. Jakarta.

Harjadi, S. S. 1979. Pengantar Agronomi. PT. Gramedia. Jakarta.

Harjadi, S. S. 1989. Dasar-dasar Hortikultura. Jurusan Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Jayadi, S. 1991. Tanaman Makanan Ternak Tropika. Karya Ilmiah. Fakultas Peternakan. IPB. Bogor.

Jumin, H. B. 1992. Ekologi Tanaman sebagai Pendekatan Fisiologis. Rajawali Press.

Kusharsoyo, A.P. 2001. Pengaruh Pupuk NPK, Asam Humat dan Frekuensi Pemanenan terhadap Produktivitas dan Rendemen Handeuleum pada Intensitas cahaya matahari yang berbeda. Skripsi. Manajemen Hutan. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Kusworo, J. 1982. Diktat Kuliah Jagung. Departemen Agronomi Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Leiwakabessy, F. M. 1988. Kesuburan Tanah. Jurusan Tanah. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor, Bogor. 294 hal.

Lingga, P. 1998. petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya, Jakarta.    Indonesia.

Lubis, D. A. 1963. Ilmu Makanan Ternak. Cetakan ke-2. PT. Pembangunan Jakarta.

Mannetje, L. T. and R. M. Jones. 1992. Tropical Grass Food and Agricultural of the United Nations. Rome.

Mcilroy, R. J. 1976. Pengantar Budidaya Padang Rumput Tropika (terjemahan).

Pradnya Paramita. Jakarta. 167 hal.

Prawirohartono, S. 1989. Biologi Edisi Kedua. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Nyakpa, M.Y., A.M. Lubis, M.A. Pulung, A.G. Amrah, A. Munanar, Go Ban Hong, N. Hakim, 1988. Kesuburan Tanah. Universitas Lampung. Lampung.

Russel, J. E. and E Russel. 1961. Soil Condution and Plant Growth. 9th ed. Congmang. Furrold and Sons Ltd. Norwich.

Rismunandar. 1990. Mendayagunakan Tumbuhan Rumput. Penerbit Sinar Baru. Bandung.

Setiadi. 1986. Bertanam Durian. Penebar Swadaya. Jakarta.

Setiawan, A. 1996. Memanfaatkan Kotoran Ternak. Penebar Swadaya. Jakarta.

Soepandi, G. 1989. Sifat dan Ciri-ciri Tanah. Terjemahan : Harry O Buckman and Nyle C. Brady. Depaertemen Ilmu-ilmu Tanah. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Soepardi, G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Departemen ilmu Tanah Fakultas Pertanian. Intitut Pertanian Bogor. Bogor.

Soewardi dan H. Wiranegara.1998. Morfologi dan Klasifikasi Tanah. Jurusan Tanah. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Sutoro, Y. S. Dan Iskandar. 1988. Budidaya Tanaman Jagung. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Bogor. Bogor.

Tafal, Z. B. 1981. Ranci Sapi (Usaha Peternakan yang Lebih Bermanfaat). Bharata Karya Aksara. Jakarta.

Widodo. 2004. Pengaruh Dosis Pupuk NPK dan Kosentrasi Pupuk Daun Organik terhadap Pertumbuhan dan Produksi Jagung (Zea mays L.). Skripsi. Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

LAMPIRAN

Perhitungan dosis pupuk yang dipakai

  1. Pupuk kandang

40 ton/Ha X  5 Kg = 0,1 Kg

2 x 106 kg/Ha

  1. Pupuk Urea

400kg/Kg X  5 Kg = 1 g

2 x 106 Kg/ha

  1. Pupuk SP36

150 Kg/Ha X 5 Kg = 0,375 g

2 x 106 Kg/ha

  1. Pupuk KCl

150 Kg/Ha X 5 Kg = 0,375 g

2 x 106 Kg/ha

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: