Pengujian Karakteristik Pellet

Pelet

Menurut Hartadi et al. (1990), pelet dikenal sebagai bentuk massa dari bahan  pakan atau ransum yang dibentuk dengan cara menekan dan memadatkan melalui lubang cetakan secara mekanis.  Proses pembuatan pelet dibagi menjadi tiga tahap, yaitu: 1) pengolahan pendahuluan meliputi pencacahan, pengeringan, dan penggilingan, 2) pembuatan pelet meliputi pencetakan, pendinginan, dan pengeringan, dan 3) perlakuan akhir meliputi sortasi, pengepakan dan penggudangan. Tujuan pembuatan pakan dalam bentuk pelet adalah untuk meringkas volume bahan,  sehingga mudah dalam proses pemindahan, dan menurunkan biaya pengangkutan.  (Tjokroadikoesoemo, 1986).  Ada beberapa faktor yang menentukan kualitas pelet yang dihasilkan, yaitu bahan baku, proses variabel, sistem variabel dan perubahan fungsi pakan pada saat pembuatan pelet.dapat dilihat hubungan antara bahan baku, proses variabel, sistem variabel dan perubahan  fungsi pakan pada saat proses pembuatan pelet.

Ada beberapa faktor yang menentukan kualitas pelet yang dihasilkan, yaitu bahan baku, proses variabel, sistem variabel dan perubahan fungsi pakan pada saat pembuatan pelet.  Menurut Thomas et al. (1997), faktor bahan baku dipengaruhi oleh sifat fisik kimia, komposisi kimia, dan komposisi fisik bahan.  Sifat fisik kimia terdiri dari protein, pati, dan serat. Komposisi kimia terdiri dari kandungan bahan kering, lemak, abu, dan kandungan nitrogen. Komposisi fisik terdiri atas berat jenis dan ukuran partikel. Proses variabel berhubungan dengan spesifikasi mesin yang digunakan seperti kecepatan putaran mesin per menit (RPM), jarak antara die dan roller, kecepatan die, penempatan pisau pemotong, dan permukaan roller.  Sistem variabel berhubungan dengan lamanya bahan baku berada di dalam mesin pelet selama proses pemeletan berlangsung dan jumlah energi yang digunakan (Thomas et al., 1997). Thomas  et al. (1997),  juga menyatakan bahwa perubahan fungsi berhubungan dengan proses gelatinisasi pati, solubilisasi serat, dan denaturasi protein. Faktor tujuan berhubungan dengan kualitas nutrisi dari pelet yang dihasilkan (kandungan energi dan protein), kualitas  fisik seperti kekerasan dan ketahanan benturan pelet, serta kualitas higienis (jumlah mikroba) pelet.

Kadar Air

Kadar air merupakan persentase kandungan air suatu bahan yang dapat dinyatakan berdasarkan berat basah atau berat kering.  Kadar air berdasarkan berat basah adalah perbandingan antara berat air dalam suatu bahan dengan berat total bahan, sedangkan kadar air berdasarkan berat kering adalah perbandingan antara berat air dalam suatu bahan dengan berat kering bahan tersebut (Syarif dan Halid, 1993).  Pada umumnya keawetan bahan pangan mempunyai hubungan erat dengan kadar air yang terkandung.  Kandungan air dalam bahan makanan ikut menentukan acceptability dan daya tahan bahan.  Air yang terdapat dalam suatu bahan menurut derajat keterikatannya terbagi menjadi empat tipe, yaitu: 1) tipe satu adalah molekul air yang terikat pada molekul-molekul lain melalui suatu ikatan hidrogen yang berenergi besar. Air tipe ini tidak dapat  membeku pada proses pembekuan, tetapi sebagian air ini dapat dihilangkan dengan cara pengeringan biasa, 2) tipe dua adalah molekul-molekul air yang membentuk ikatan hidrogen dengan molekul air lain.  Air tipe ini lebih sulit dihilangkan, dan apabila dihilangkan akan mengakibatkan penurunan aktivitas air (Aw), apabila  air ini dihilangkan sebagian, maka pertumbuhan mikroba, reaksi  browning, hidrolisis atau oksidasi lemak dapat dikurangi, sedangkan apabila air ini dihilangkan semuanya, kadar air bahan berkisar 3-7% dan kestabilan produk suatu bahan akan tercapai, kecuali pada produk-produk yang dapat mengalami oksidasi akibat adanya kandungan lemak tidak jenuh, 3) tipe tiga adalah air yang secara fisik terikat dalam jaringan matriks bahan.  Air tipe ini mudah diuapkan dan dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan mikroba dan media bagi reaksi-reaksi kimiawi. Apabila air ini diuapkan seluruhnya, kandungan air bahan berkisar 12-25% dengan Aw kira- kira 0,8 tergantung dari jenis bahan dan suhu.  Air tipe ini disebut dengan air bebas, 4) tipe empat adalah air yang tidak terikat dalam jaringan suatu bahan atau air murni (Winarno, 1997).

Aktivitas Air

Aktivitas air bahan pakan adalah air bebas yang terkandung dalam bahan pakan yang dapat digunakan oleh mikroba untuk pertumbuhannya (Syarif dan Halid, 1993).  Winarno (1997), menyatakan berbagai mikroorganisme mempunyai aw minimum agar dapat tumbuh dengan baik, misalnya bakteri tumbuh pada Aw 0,90, khamir pada aw 0,80-0,90, dan kapang pada aw 0,60-0,70. Suatu bahan yang akan disimpan sebaiknya memiliki aktivitas air dibawah 70% atau pada kelembaban relatif dibawah 70%( Winarno, 1997).  Suatu bahan dengan kadar air dan aktivitas air yang  rendah dapat lebih awet dalam proses penyimpanan dibanding dengan bahan dengan kadar air dan aktivitas air yang lebih tinggi (Syarief dan Halid, 1993).   Besarnya Aw minimum untuk  tumbuhnya  mikroba   dapat dilihat pada

Uji Kualitas Fisik Pelet

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kualitas pelet adalah :

1. Komponen penyusun bahan baku, terutama kandungan protein, pati, serat, lemak, dan bahan-bahan pengotor (debu, dan lain-lain).  Bahan-bahan yang kaya akan protein jika terkena panas akan bersifat lebih plastis sehingga mudah dicetak menjadi pelet yang kuat.  Pati juga akan mengalami proses gelatinisasi jika terkena panas dan bersifat sebagai perekat yang baik.  Lemak tidak banyak berpengaruh terhadap kualitas pelet, tetapi di dalam proses pencetakan lemak dapat berfungsi sebagai bahan pelican sehingga mempermudah pencetakan.

2. Kondisi bahan-bahan sebelum dicetak, yang meliputi:

a. Kelembaban Bahan.

Kandungan air dalam bahan yang akan dicetak sangat membantu dalam gelatinisasi pati menjadi bahan perekat pelet selama proses pencetakan.  Terutama untuk tepung-tepung yang miskin akan protein dan lemak, air juga dapat berfungsi sebagai pelicin menggantikan fungsi lemak.  Namun kadar air yang tinggi dapat merugikan hasil pemeletan.

b. Ukuran partikel.

Semakin halus ukuran partikel bahan yang akan dicetak, semakin kuat pelet yang akan dihasilkan.  Semakin halus ukuran partikel tersebut, semakin luas juga permukaan kontak antar partikel sehingga ikatan yang terbentuk semakin kuat.

c. Suhu.

Diperlukan suhu yang agak tinggi agar proses gelatinisasi dapat terjadi dengan baik yaitu sekitar 70 º C. Menurut Balagopalan  et al. (1988) ada dua uji yang dapat dilakukan utuk melihat kualitas fisik pelet, yaitu Shatter Test dan Cochcrane Test. Uji Ketahanan Benturan Dengan Metode Shatter Test Uji ketahanan benturan dengan menggunakan metode Shatter Test digunakan untuk mengetahui ketahanan pelet terhadap benturan atau tumbukan pada saat pengepakan atau proses pengangkutan.  Uji ini dilakukan dengan menjatuhkan sejumlah sampel pelet di dalam kotak diatas lempeng besi (Balagopalan et al., 1988). Uji Ketahanan Benturan dan Gesekan Dengan Metode Cochcrane Test Menurut Balagopalan  et al. (1988) ketahanan pelet terhadap gesekan dapat diuji dengan menggunakan  Cochcrane Test, yaitu dengan cara memasukkan pelet yang telah diketahui beratnya ke dalam sebuah drum logam yang kemudian diputar dengan kecepatan tetap selama satuan waktu.  Adanya kandungan serat yang tinggi dalam bahan dapat menyebabkan pelet yang  dihasilkan mudah patah.  Faktor lain yang mempengaruhi durabilitas pelet adalah diameter pelet.  Pelet yang memiliki diameter 3 mm lebih mudah patah dibanding dengan pelet yang berdiameter 6 mm (Thomas dan Van der Poel, 1996).

Jahan et al. (2006) menyatakan bahwa pelet adalah hasil modifikasi dari mash yang dihasilkan dari pengepresan mesin pelet menjadi lebih keras. Bentuk fisik pakan berupa pelet ini sangat dipengaruhi oleh jenis bahan yang digunakan, ukuran pencetak, jumlah air, tekanan dan metode setelah pengolahan serta penggunaan bahan pengikat/perekat untuk menghasilkan pelet dengan struktur yang kuat, kompak dan kokoh sehingga pelet tidak mudah pecah.

Onggok merupakan hasil sampingan industri tapioka yang berbentuk padat. Komponen penting yang terdapat pada onggok adalah pati dan serat kasar. Kandungan ini berbeda untuk setiap daerah asal, jenis dan mutu ubi kayu, teknologi yang digunakan dan penanganan ampas itu sendiri. Kandungan pati onggok adalah sekitar 69,9% dan dari setiap 100 kg umbi segar akan menghasilkan 5-10 kg onggok atau sekitar 5-10% onggok, sehingga dengan kandungan patinya yang tinggi dan banyak tersedia, onggok sangat potensial untuk dijadikan sebagai bahan perekat.

Menurut Wirakartakusumah (1981), air dan panas pada saat pengolahan mempengaruhi proses gelatinisasi pellet, namun kadar air yang terlalu tinggi dapat berakibat merugikan hasil pencetakan sehingga harus diketahui kadar air optimum untuk membantu proses gelatinisasi. Penurunan Kadar air pellet disebabkan oleh penambahan onggok. Semakin besar penambahan onggok, kadar air pellet semakin rendah. Hal ini diduga dengan adanya penetrasi air dan panas secara bersamaan ke dalam granula pati menyebabkan pengembangan volume dari granula. Granula pati yang mengembang tersebut cenderung saling berkaitan membentuk gel (Meyer, 1961). Kerapatan tumpukan berpengaruh terhadap daya campur dan ketelitian penakaran secara otomatis, sebagaimana halnya berat jenis (Kling dan Wohlebier, 1983 dalam Khalil, 1999a).

Pemeletan menyebabkan pengembangan granula pati dengan masuknya molekul-molekul air berdifusi ke dalam granula dan tertangkap dalam struktur molekul amilosa dan amilopektin, granula akan kehilangan kekompakan ikatan dan kelarutannya akan meningkat karena terjadinya pelepasan ikatan amilosa pada yang mempunyai derajat polimerisasi rendah (Winarno, 1980). Kandungan bahan yang mempengaruhi ketahanan benturan pellet adalah pati, gula, protein, serta dan lemak (Thomas et al., 1997). Standar nilai ketahanan benturan yang baik untuk pelet broiler menurut Dozier (2001) yaitu lebih besar dari 80%.

Daftar Pustaka

Balagopalan, C. ,  G. Padmaja, S. K.Nanda, S. N. Moorthy.  1988.   Cassava in Food,

Dozier, W. A. 2001. Pellet quality for most economical poultry meat. J. Feed International. 52(2) : 40-42. Feed and Industry. Florida, IRC Press. Feed Sci. and Tech. 64 (2) :173-192. feed. 1. Criteria for pellet quality. Anim. Feed Sci. and Tech. 61: 89-112.

Hartadi, H. , S. Reksohadiprojo, dan A.D Tilman. 1990. Tabel Komposisi Pakan

Jahan, M. S., M. Asaduzzaman and A. K. Sarkar. 2006. Performance of broiler fed on mash, pellet and crumble. Int. J. Poultry Sci. 5(3) : 265-270.

Jahan, M. S., M. Asaduzzaman and A. K. Sarkar. 2006. Performance of broiler fed on mash, pellet and crumble. Int. J. Poultry Sci. 5(3) : 265-270. Jakarta.

Khalil. 1999a. Pengaruh kandungan air dan ukuran partikel terhadap sifat fisik pakan lokal: kerapatan tumpukan, kerapatan pemadatan tumpukan dan  berat jenis. Media Peternakan Vol 22 (1): 1-11.

Khalil. 1999b. Pengaruh kandungan air dan ukuran partikel terhadap sifat fisik pakan lokal: sudut tumpukan, daya ambang dan faktor higroskopis. Media Peternakan Vol 22 (1): 33-42.

Meyer, K. H. 1961. Natural and Synthetic High Polymers. Interscience, London. of pelleted animal feed 2. Contribution of process and its conditions. Anim.

Steel, R. G. D. dan J. H. Torrie. 1991. Prinsip dan Prosedur Statistika. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Umum, Jakarta.

Syarief, R. Dan H. Halid. 1993. Teknologi Penyimpanan Pangan. Penerbit Arcan, Jakarta.

Syarif, R. dan H. Halid. 1993. Teknologi Penyimpanan Pangan. Penerbit Arcan,

Thomas, M. And A. F. B. van der Poel. 1996. Physical quality of pelleted animal

Thomas, M., D. J. Van Zuilichem and A. F. B. Van der Poel. 1997. Physical quality

Thomas, M., D. J. van Zuilichem and A. F. B. Van der Poel. 1997. Physical quality of pelet animal feed 2. Contribution of process and its conditioins. J. Anim Feed Sci and Thech. 64 (2): 173-192.

Tjokroadikoesoemo, P. S. 1986. HFS dan Industri Ubi Kayu Lainnya. PT. Gramedia,

untuk Indoneaia. UGM Press, Yogyakarta.

Winarno, F. G. 1997.  Kimia Pangan dan Gizi. PT.  Gramedia Pustaka Utama,

Winarno, F. G., S. Fardiaz dan D. Fardiaz. 1980. Pengantar Teknologi Pangan. PT. Gramedia, Jakarta.

Wirakartakusumah, M. A. 1981. Kinetics of starch. Thesis. University of Winconsin, Madison.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: