Penangan lalat secara komprehensif

Penangan lalat secara komprehensif

Lalat merupakan serangga yang sangat mudah ditemukan di lingkungan peternakan terlebih pada saat musim hujan. Keberadaan lalat di suatu peternakan merupakan indikator manajemen pengolahan limbah yang belum maksimal sehingga feses yang dihasilkan menjadi lahan yang subur untuk lalat beranak pinak. Tingginya populasi lalat di sebuah peternakan dapat mengganggu kenyamanan dan kebersihan lingkungan sekitar peternakan yang imbasnya akan mengganggu kehidupan masyarakat di sekitar peternakan. Ada beberapa hal yang harus kita fahami terlebih dahulu tentang lalat agar penanganan lalat menjadi efektif

Lalat merupakan serangga dengan kemampuan yang luar biasa karena :

-          Mobilitasnya sangat tinggi karena dilengkapi dengan sepasang sayap asli (sejati) dan sepasang sayap kecil untuk menstabilkan saat lalat terbang. Lalat mampu terbang 32 km dari tempat perkembangbiakannya.

-          Memilki sistem penglihatan yang sangat baik, yaitu mata majemuk yang tersusun atas lensa optik yang sangat banyak sehingga lalat mempunyai sudut pandang yang lebar. Kepekaan penglihatan lalat ini 6 kali lebih besar dari pada penglihatan manusia. Selain itu lalat juga dapat mengindra frekuensi-frekuensi ultraviolet pada spektrum cahaya yang tidak terlihat oleh manusia. Dengan dua kemampuan ini (mobilitas dan penglihatan), lalat dapat dengan mudah merubah arah geraknya seketika saat ada bahaya yang mengancam dirinya.

-          Lalat mempunyai kemampuan berkembangbiak (melalui 4 tahapan : telur, larva, pupa dan lalat dewasa) yang cepat dan dalam jumlah yang banyak. Dalam waktu 3-4 hari seekor betina lalat mampu menghasilkan 5000 butir telur atau jika diprediksi sepasang lalat dapat beranak-pinak menjadi 191,01×1018 ekor (dengan asumsi semua lalat hidup).

Mengenali karakteristik lalat seperti ini maka untuk membasmi lalat secara efektif diperlukan langkah yang komprehensif dan terintegrasi. Langkah komprehensifnya meliputi kontrol manajemen, mekanik dan kimia.

Penanganan feses basah menjadi langkah awal untuk pengendalian lalat karena dalam 0,45 kg feses basah bisa menjadi tempat berkembangbiak 1000 ekor lalat. Agar feses kering makan diperlukan kontrol manajemen yang baik, diantaranya

-          Membersihkan feses minimal setiap minggu sekalu (sesuai periode lalat bertelur seiap seminggu sekali).

-          Berikan ransum dengan kandungan zat nutrisi yang sesuai. Hindari pemberian pakan yang mengandung protein kasar dan garam yang berlebihan karena bisa memicu feses menjadi encer (basah).

-          Jika perlu tambahkan batu kapur atau abu sehingga feses menjadi kering dan dapat mengembalikan kemampuan tanah menyerap air.

-          Hati-hati saat penggantian atau pengisian air minum, jangan sampai air minum tumpah. Perhatikan juga kondisi tempat air minum, paralon dan genting, jika ada kerusakan segera perbaiki.

-          Perhatikan sirkulasi udara (ventilasi) sehingga dapat mempercepat proses pengeringan feses.

-          Segera buang atau singkirkan bangkai ayam mati maupun telur yang pecah.

-          Bersihkan ransum dan feses yang tumpah dengan segera, terlebih jika dalam kondisi basah.

-          Bersihkan kandang dan peralatan kandang secara rutin kemudian semprot dengan desinfektan seperti Antisep, Neo Antisep atau Medisep.

Kontol mekanik bisa dilakukan terutama digudang telur, pakan maupun ruang kantor yang menggunakan alat perangkap elektrikal. Kontol ini kurang efektif jika dilakukan di kandang karena area yang terlalu luas dan daya jelajah lalat yang tinggi.

Kontrol kimia dengan memberikan obat pembasmi lalat, seringkali menjadi andalan peternak, tanpa disertai dengan kontrol lainnya. Akibatnya penanganan lalat menjadi tidak tuntas. Saat pemberian dihentikan maka lalat akan bermunculan kembali.oleh karena itu, kita harus ubah paradigma ini, kontrol kimia ini harusnya menjadi posisi penyempurna dari kontrol lainnya yang telah dilakukan.

Keberadaan lalat yang beterbangan hanya 20% dari jumlah populasi lalat dan 80% populasi lalat yang lain berada dalam fase lain (telur,larva dan pupa). Pembasmian lalat dewasa akan menjadi lebih sulit karena mobilitas lalat yang tinggi dan kemampuan lalat untuk menghindar. Oleh karena itu, pengendalian lalat sejak dini (stadium larva) menjadi sebuah langkah aplikatif yang efektif mengatasi lalat.

Salah satunya dengan menyampurkan Larvatox pada ransum yang dikonsumsi ayam (100 gram/ ton) teknik pemberian ini bertujuan untuk memutus siklus hidup lalat secara tuntas. Pengendalian lalat telah menjadi suatu keharusanm terlebih serangga ini bisa menjadi agen penularan penyakit, termasuk flu burung (Avian  Influenza). Pengaplikasian kontrol manajemen, mekanik dan kimia secara komprehensif terbukti efektif mengatasi lalat.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: