Fisiologi Ternak – Sel dan sistem organ pada ternak

Sel adalah bangunan bermembran yang merupakan unit terkecil penyusun tubuh hewan (Isnaeni, 2006). Walaupun struktur sel terdiri atas beberapa bagian, namun Isnaeni berpendapat bahwa pengkajian sifat fisika dan kimia sel akan didekati dengan mengkaji sifat fisika dan kimia dari protoplasma.  Hal tersebut dikarenakan protoplasma merupakan bagian terbesar dari sel berbentuk zat kental seperti jelly yang sebagian besar terdiri atas protein. Soeharsono dan Adriani (2010) menyebutkan bentuk dan ukuran sel berbeda-beda bergantung pada fungsi jaringan atau organ yang dibentuknya. Sebagai contoh, bentuk sel saraf umumnya panjang-panjang, sel tulang banyak mengandung bagian yang membentuk jaringan kuat, sel otot panjang-panjang dan longgar, sel jantung mempunyai sincitium, sel kelenjar bulat-bulat, dan sel darah terpisah-pisah. Jaringan dan organ melakukan fungsi fisiologi penting dalam kehidupan.  Setiap organ berasosiasi dengan pembuluh darah agar suplay nutrisi dan hormon terpenuhi. Sedangkan jenis sistem dan organ pada ternak yang terbentuk oleh sel adalah :

Pada dasarnya struktur sel terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu membran sel dan sitoplasma. Di dalam sitoplasma tersuspensi berbagai organel sel, yaitu:

  • Mitokhondria
  • Golgi Apparatus
  • Secretory Vesicle
  • Ribosomes
  • Lysosomes
  • Retikulum Endoplasma
  • Inti Sel
  • Sentriol

Sistem urinari ternak terdiri dari organ urinari yaitu sistem yang bertanggungjawab terhadap berlangsungnya berbagai produk yang akan dibuang dan sangat penting untuk mempertahankan keadaan yang relatif konstan dari lingkungan internal di dalam tubuh ternak (Soeharsono, dkk, 2010). Dalam konteks tersebuut, Isnaeni (2006) menyebutkan bahwa yang dimaksud lingkungan internal adalah cairan tubuh.

 

Sistem sirkulatori ternak atau sistem kardiovaskular terdiri dari organ sirkulatori atau organ kardiovaskular yaitu sistem yang pada hakekatnya mempelajari bagaimana darah didistribusikan dalam tubuh ternak (Soeharsono dan Mushawir, 2010). Menurut Isnaeni (2006), sistem sirkulasi secara garis memiliki tiga fungsi utama.

Sistem respiratori ternak atau sistem respirasi atau sistem pernapasan terdiri dari organ respirasi yaitu sistem yang berfungsi untuk memproses pertukaran gas oksigen dan karbondioksida sebagai rangkaian kegiatan kimia dan fisika dalam tubuh ternak dengan lingkungan sekitarnya. (Soeharsono, dkk, 2010) dan Isnaeni (2006). Oksigen yang diperoleh hewan dari lingkungannya digunakan untuk proses fosforilasi (metabolisme) oksidatif untuk merubah makanan menjadi energi.  Dalam kaitan ini maka muncul istilah respirasi aerob dan respirasi anaerob. Sementara itu, karbondioksida merupakan produk akhir yang harus dikeluarkan dari dalam tubuh.  Dalam kaitan ini, maka sistem dan organ respirasi berarti erat hubungannya dengan sistem ekskresi. Menurut Soeharsono dan Mushawwir (2010), selain untuk pertukaran udara, sistem dan organ respiratori memiliki sejumlah fungsi lain.  Selain itu, disebutkan pula bahwa respirasi ternyata menyangkut dua proses yang berbeda, yaitu respirasi eksternal dan respirasi internal. Sehubungan dengan tatalaksana peternakan maka muncul istilah respiratory quotient (RQ) yang sangat berharga dalam pengembangan jenis pakan dan kebutuhan nutrisi ternak, yang, pada giliranya dapat mengukur laju relatif metabolisme lemak, karbohidrat dan protein.

Sistem gastrointestinal ternak atau sistem pencernaan ternak terdiri dari organ pencernaan yaitu  sistem yang berfungsi untuk melakukan suatu proses sedemikian rupa sehingga makanan dapat diserap dan digunakan oleh sel tubuh ternak secara kimia dan fisika (Soeharsono dan Hernawan, 2010). Pada prinsipnya pakan yang masuk ke dalam tubuh ternak akan diubah menjadi energi dalam upaya mempertahankan kondisi homeostatis.  Namun energi yang terkandung di dalam pakan ternak tersebut tidak dapat langsung digunakan karena ukurannya yang masih kompleks.  Untuk itulah diperlukan sistem pencernaan. Seperti diketahui pakan merupakan faktor produksi dengan biaya tertinggi dalam usaha peternakan. Berdasarkan organ pencernaannya, khususnya tipe lambung yang dimilikinya, maka ternak dibagi menjadi ternak monogastrik dan ternak ruminansia.   Walaupun ternak unggas termasuk ke dalam ternak monogastrik, namun ternak unggas memiliki alat pencernaan yang berbeda dengan ternak monogastrik lainnya. Secara umum setiap ternak memiliki beberapa kesamaan, yaitu dalam hal proses mencerna, zat makanan yang dihasilkan, proses penyerapan, dan distribusi oleh darah ke seluruh sel dalam tubuh ternak.

 

Sistem otot ternak terdiri dari berbagai macam otot yaitu sistem yang berfungsi sebagai alat gerak, menyimpan glikogen dan menentukan fostur tubuh ternak. (Soeharsono dan Mushawwir, 2010). Sistem otot sangat penting untuk bidang peternakan, karena pada dasarnya hasil produksi ternak yang menjadi komoditas ekonomi adalah otot atau lebih dikenal di pasar sebagai daging.  Selain daging, hasil produksi ternak lainnya adalah telur dan susu, serta hasil sampingan lainnya seperti kulit, wol dan tulang.

Sistem integument ternak terdiri dari organ kulit dan bentuk kulit lainnya pada ternak yaitu sistem yang berfungsi untuk :

  1. membantu regulasi suhu tubuh melalui radiasi, konveksi, evaporasi, dan konduksi.
  2. mengatur keluar masuk insulasi panas melalui vasokonstriksi dan vaso dilatasi.
  3. memproteksi ternak dari luka secara mekanis, bahan beracun, irradiasi melalui lapisan lemak, bulu, kuku, rambut dan lapisan kulit bertanduk.
  4. bertindak sebagai organ ekskretori dan sekretori melalui keringat dan seburm.
  5. bertindak sebagai organ sensori karena mengandung ujung syaraf dan organ akhir yang menerima rangsangan melalui perabaan, suhu dan rangsangan sakit.
  6. membentuk vitamin D untuk metabolisme kalsium dan fosfor.
  7. sebagai antibakteri dan antijamur.

Sistem saraf ternak terdiri dari organ saraf yaitu sistem pada ternak yang berfungsi untuk menerima dan merespon rangsangan (Soeharsono, dkk, 2010). Menurut Isnaeni (2006), walaupun sistem saraf dan sistem endokrin memiliki perbedaan dalam hal cara kerja, namun kedua sistem tersebut seyogyanya merupakan sistem organ yang diperlukan untuk bersama-sama menyelenggarakan fungsi kendali dan koordinasi secara serasi, sehingga dikenal pula sebagai sistem neurohormon atau sistem neuroendokrinal.

Sistem endokrin ternak atau sistem hormonal atau sistem kelenjar buntu terdiri dari organ hormon adalah sistem yang berfungsi untuk memproduksi hormon yang mengatur dan mengendalikan aktivitas metabolisme, pertumbuhan, reproduksi, regulasi osmotik dan regulasi ionik pada tubuh ternak, (Soeharsono, dkk, 2010, dan Isnaeni, 2006). Walaupun sistem endokrin dan sistem saraf secara bersama-sama lebih dikenal sebagai supra sistem neuroendokrin yang bekerja secara kooperatif untuk menyelenggarakan fungsi kendali dan koordinasi pada tubuh ternak.  Namun demikian, kedua sistem ini ternyata memiliki perbedaan cara kerja.

Sumber :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: