Membuat Pakan Layer Fase Produksi

Selamat datang  semua pembaca blog ini..

Pada tulisan ini saya mencoba memberikan gambaran untuk formulasi pakan layer pada fase produksi dari mulai awal periode petelur sampai fase afkir.. saya membagi empat fase produksi ayam layer dimana fase 1 umur 17 – 35 minggu, fase 2 umur 36-55 minggu, fase 3 umur 56-74 minggu dan fase 4 umur 75 minggu – Afkir. Pada tulisan sebelumnya saya banyak mengulas formula pakan pada fase 1 umur 17-35 minggu, pada tulisan ini saya ingin memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai formula layer produksi dari mulai awal sampai afkir.

Pada tulisan ini saya menggunakan bahan baku yang umum digunakan untuk pakan ayam layer di Indonesia meliputi Jagung, Dedak Padi, Bungkil Kedelai (Protein Kasar 45%), Corn Gluten Meal (CGM-Protein Kasar 60%), Tepung daging dan tulang (MBM-Protein Kasar 50%), Minyak Sawit (CPO), Tepung Batu, MDCP (Phospor 21%), Garam dan Asam Amino Sintesis. Asam Amino sintesis yang digunakan ada 4 jenis yaitu L-Lysine, DL-Methionine, Threonine dan Tryptophan. Pada umumnya dilapangan baru menggunakan dua jenis asam amino sintesis yaitu lysine dan methionine. Untuk performan yang lebih optimal kita direkomendasikan untuk memenuhi kebutuhan seluruh asam amino dan keseimbangan antar asam amino sintesis.

Continue reading

Advertisements

Sumber Energi untuk Unggas : Pati Vs Minyak

Energi merupakan komponen nutrisi utama yang harus terpenuhi agar produktivitas ternak dapat maksimal. Pada umumnya biji-bijian merupakan sumber energy utama yang digunakan pada ternak unggas. Biji-bijian yang umum digunakan seperti jagung, gandum, shorgum, barley, padi, dsb. Selain biji-bijian, bahan yang sering difungsikan untuk menjadi sumber energy pada ternak yaitu umbi-umbian seperti singkong, ubi jalar, talas, dsb. Kandungan pati pada biji-bijian dan umbi-umbian merupakan komponen utama yang bisa dimanfaatkan oleh tubuh ternak sebagai sumber energy. Minyak nabati atau lemak hewani tinggi akan kandungan lemak, kandungan lemak yang tinggi mampu menghasilkan energy yang cukup tinggi. Minyak kelapa sawit (CPO) merupakan sumber minyak/lemak nabati yang umum digunakan sebagai sumber energy di Indonesia. Sebenarnya selain CPO bisa juga menggunakan Lard, Tallow, PKO, atau Olein sebagai pengganti CPO, hanya saja harganya lebih tinggi dibandingkan CPO.

Continue reading

Strategi Penyedian Pakan Untuk Sapi Perah

peningkatan pertumbuhan masyarakat kelas menengah di Indonesia mendorong tingginya konsumsi susu. tingginya permintaan susu sayangnya tidak diikuti dengan peningkatan produksi susu nasional sehingga mengharuskan untuk impor susu untuk mencukupi kebutuhan susu nasional. salah satu kendala dalam meningkatkan produksi susu nasional adalah penyediaan pakan dan rendahnya kualitas pakan yang diberikan.

pada umumnya para peternak sapi perah memberikan rumput dan konsentrat untuk memenuhi kebutuhan sapi mereka. rumput yang diberikan pada umumnya campuran antara rumput lapang dan rumput gajah serta sedikit dari jenis leguminosa. pemberian hasil ikutan pertanian seperti jerami padi, daun-batang jagung, atau limbah sayuran. selain konsentrat, biasanya juga dibeberapa peternak diberikan ampas tahu.

rata-rata produksi susu sapi per ekor/hari tergolong rendah dibawah 15 liter. hal ini salah satunya disebabkan karena asupan nutrisi yang tidak sesuai dengan kebutuhan sapi. pada umumnya rasio hijauan dan konsentrat yang diberikan sebesar 60% dan 40%. Rumput yang diberikan rata-rata berkualitas rendah dengan protein kasar rata-rata dibawah 8%. konsentrat sapi perah yang beredar di para peternak umunya berkualitas rendah, kandungan protein kasar sekitar 12% dengan TDN kurang dari 65%. menurut SNI untuk pakan sapi perah periode laktasi setidaknya mengandung protein kasar 16% dengan TDN 70%.

berikut simulasi jumlah nutrisi yang di berikan dengan pola pemberian pakan hijauan 60% dan konsentrat 40% :

Protein Rumput x 60% = 8% x 60% = 4.8 %

Protein konsentrat x 40% = 12% x 40% = 4.8%

Total protein kasar = 9.6%

dengan pola pemberian tersebut hanya sekitar 60% kebutuhan ternak terpenuhi, hal ini yang menyebabkan rendahnya produksi susu karena pakan yang diberikan hanya mencukupi untuk kebutuhan hidup pokok sapi saja. peningkatan kualitas pakan diharapkan bisa memperbaiki kondisi tersebut. agar bisa berproduksi dengan baik sapi memerlukan pakan dengan kandungan protein kasar min 14-16% dengan kandungan TDN 65-70%.

berikut gambaran formula konsentrat sapi perah (Kandungan Protein kasar 16% & TDN 68%)*

  • Onggok : 35%
  • Dedak : 10%
  • Pollard : 10%
  • Molases : 5%
  • Bungkil kelapa : 12.5%
  • Bungkil inti sawit : 10%
  • Bungkil kedelai : 15%
  • Urea : 1%
  • Kapur : 1%
  • Garam : 0.5%

*Note : Untuk vitamin-mineral disesuaikan dosisnya dengan merk yang dipakai

pola pemberian pakan yang disarankan untuk meningkatkan produksi susu adalah sebagai berikut:

rumput : 50-60%

Leguminosa : 10-20%

Konsentrat : 40%

 

 

 

Optimalisasi Penggunaan Leguminosa Dalam Usaha Penggemukan Kambing-Domba

Tulisan ini saya dedikasikan untuk sahabat-sahabat saya Mr. Eko Heru Dumadi, Mr. Kirenius Layratu, Mr. M. Natsir…

Usaha penggemukan ternak merupakan salah satu alternatif usaha yang menjanjikan. Pakan merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi disuatu usaha peternakan. Ternak ruminansia seperti kambing atau domba memiliki prospek bisnis yang tinggi dengan permintaan daging konsumsi, aqiqah atau untuk qurban.

Pada umumnya pemiliharaan ternak kambing-domba dilakukan dalam skala kecil dengan management yang sederhana. Ternak hanya diberikan rumput selama proses pemiliharaan tanpa penambahan pakan konsentrat. Kualitas dari rumput yang diberikan umumnya berkualitas rendah, sehingga kurang memenuhi kebutuhan ternak. Untuk berproduksi dengan maksimal ternak perlu tercukupi kebutuhan nutrisinya seperti protein dan energinya. Untuk ternak kambing-domba kebutuhan proteinnya berkisar 12-14% dengan kebutuhan TDN (energi) sebesar 70-75%.
Continue reading

Full Fat Soya

Full Fat Soya (FFS) merupakan salah satu bahan pakan yang potensial digunakan untuk menggantikan sebagian Soya Bean Meal (SBM) dalam formulasi pakan unggas. Full Fat Soya memiliki kandungan protein kasar sekitar 34%-36% dengan kandungan lemak kasar 14%-16%. Kandungan energy pada Full Fat Soya berkisar antara 3400-3600 kkal.
Continue reading