laporan praktikum ipn tentang mineral

Laporan Praktikum ke IV                                         Hari/tgl : Jum’at/ 9 Mei 2008

MK. Integrasi Proses Nutrisi                                    Tempat : Lab. BFM

Asisten : Ratna Mahajati

MINERAL

Nama         : Weny Rosmaya

NRP          : D14062344

Kelompok : 4

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN

FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2008

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Proses metabolisme di dalam tubuh ternak yang dilakukan demi menjaga kelangsungan fisiologis hidupnya memerlukan mineral selain karbohidrat, protein, lemak, air, dan vitamin. Mineral dibutuhkan dalam jumlah yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan jumlah kebutuhan atas nutrient mayor. Mineral berfungsi dalam  pembentukan struktur sel, untuk fungsi fisiologis, sebagai katalis dan sebagai regulator. Kebutuhan mineral dapat terpenuhi dengan mengonsumsi bahan pakan yang beragam karena bahan pakan ternak mengandung mineral dengan kadar dan susunan yang variatif.

Mineral yang essensial untuk ternak diklasifikasikan menjadi mineral makro dan mineral mikro. Mineral makro terdiri dari Ca, P, K, Na, Cl, S, dan Mg. Sedangkan mineral mikro terdiri dari Fe, Zn, Cu, Mo, Se, I, Mn, Co, Cr, Sn, V, F, Si, Ni, dan As. Pemberian ransum atau pakan pada ternak harus memperhatikan kandungan dan kualitas mineralnya. Kurangnya konsumsi mineral secara terus menerus dapat  menyebabkan penyakit defisiensi mineral yang dapat berakibat fatal bagi kesehatan ternak, begitu juga konsumsi yang berlebih dapat menyebabkan ternak terkena penyakit.

Tujuan

Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk mengetahui jenis mineral yang ada pada sample secara kualitatif melalui pengamatan adanya perubahan warna, gelembung gas atau pembentukan endapan.

TINJAUAN PUSTAKA

Mineral

Beberapa mineral merupakan elemen inorganic yang dibutuhkan oleh ternak untuk pertumbuhan dan reproduksi. Walaupun jumlah yang dibutuhkan hanya sedikit , keseimbangan dalam tubuh harus tetap terjaga. Berdasarkan kegunaannya dalam aktifitasnya hidup, mineral dapat dibagi menjadi 2 golongan yaitu golongan essensial dan non essensial. Berdasarkan jumlahnya, mineral dapat pula dibagi atas mineral makro dan mineral mikro ( Parakasi, 1986 ).

Magnesium ( Mg )

Magnesium merupakan mineral makro yang sangat penting. Sekitar 70% dari total Mg dalam tubuh terdapat dalam tulang atau kerangka ( Underwood, 1981 ), sedangkan 30% lainnya tersebar dalam berbagai cairan tubuh dan jaringan lunak ( Tillman et al., 2003 ). Mg dibutuhkan oleh sebagian besar sistem enzim, berperan dalam metabolisme karbohidrat dan dibutuhkan untuk mempernaiki fungsi sistem saraf ( Perry et al., 2003 ). Selain itu Mg berperan penting untuk sintesis protein, asam nukleat, nukleotida, dan lipid ( Girindra, 1988 ).

Indikator defesiensi Mg adalah menurunnya kadar Mg dalam plasma menjadi 1,2 – 1,8 mg/100ml dari kadar normal sebesar 1,8 – 3,2 mg/100ml ( McDowell, 1992 ). Tempat utama absorsi Mg pada ternak ruminansia adalah pada bagian reticulorumen, sekitar 25% Mg diabsorsi oleh hewan dewasa. Jumlah Mg yang diabsorsi menurun seiring dengan penurunan tingkat mineral di dalam pakan. Dalam kondisi defisiensi status Mg cadangan dalam tubuh untuk menggantikan sumbangan dari absorpsi Mg yang rendah ( McDowell, 1992 ).

Seng ( Zn )

Zn terdapat pada semua jaringan tubuh, tetapi sebagian besar terdapat dalam tulang. Jumlah yang besar juga terdapat dalam kulit, rambut, dan bulu hewan ( Tillman et al., 1998 ). Zn berperan penting pada sintesis DNA serta metabolisme protein sehingga sistem tubuh akan terganggu jika defisien Zn ( Underwood, 1981 ). Zn juga berperan penting dalam metabolisme karbohidrat dan lemak serta pembentukkan sistem kekebalan tubuh ( Perry et al., 2003 ). Menurut Linder (1992) Zn merupakan mikromineral yang tersebar didalam jaringan hewan, manusia, dan tumbuhan serta terlibat dalam fungsi metabolisme. Zn berperan juga dalam fungsi berbagai enzim, meningkatkan nafsu makan, produksi telur, daya tetas telur dan pertumbuhan tulang dan bulu pada ayam petelur.

Pada ternak ruminansia Zn diabsorpsi didalam rumen dan usus halus. Absorpsi Zn melibatkan transfer Zn dari lumen usus halus menuju mukosa sel. Transpor ini diatur oleh metabolisme, sintesis metallothonein dipengaruhi oleh level Zn dalam ransum dan konsentrasi Zn dalam plasma, sehingga senyawa tersebut dapat mengatur homeostatis Zn didalam tubuh ( McDowell, 1992 ). Indikasi defisien Zn adalah kadar Zn dalam serum atau plasma menurun dari level normal 0,08 – 0,12 mg100ml menjadi 0,015 – 0,02 mg/100ml ( Miller et al., 1988 ).

Besi ( Fe )

Lebih dari 90% Fe yang terdapat dalam tubuh terikat pada protein dan terutama pada hemoglobin darah mengandung Fe sebanyak 0,34%. Fe juga terdapat dalam mioglobin, hati, limpa dan tulang. Fe dalam serum darah terdapat dalam bentuk non hemoglobin yang disebut transferrin atau siderophilin. Pada individu normal hanya 30-40% transferrin yang membawa Fe, dalam keadaan normal plasma darah mengandung 240 – 480 mcg% ; pada sapi dewasa 130 – 140 mcg% ( Church, 1991 ).

Fungsi Fe yang penting adalah untuk absorpsi dan transport O2 ke dalam sel – sel, Fe juga merupakan komponen yang aktif dari beberapa enzim yaitu sitokrom perioksidase dan katalase. Selain itu Fe berfungsi sebagai mediator proses – proses oksidasi ( Tillman et al., 1998 ). Unsur Fe  diabsorpsi sesuai dengan kebutuhan dan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti status Fe dalam tubuh, umur hewan (Underwood dan Sutlle, 1999 ), kebutuhan metabolik tubuh, bentuk komponen zat besi yang terdapat dalam makanan dan ada tidaknya zat – zat  nutrisi lain yang mempengaruhi absorpsi zat besi ( Piliang, 2002 ). Fe lebih banyak diabsorpsi oleh hewan yang defisien Fe dibanding hewan yang tercukupi kebutuhan Fe, karena absorpsi dan metabolisme Fe diatur oleh status Fe pada mukosa usus. Tempat absorpsi Fe pertama adalah duodenum ( Underwood dan Sutlle, 1999 ).

Tembaga ( Cu )

Mineral Cu adalah salah satu mineral yang seiring dilaporkan defisien pada ternak ruminansia. Menurut McDowell ( 1992 ), defisien Cu dapat menyebabkan mencret, pertumbuhan terhambat, perubahan warna pada rambut dan rapuh serta mudah patahnya tulang – tulang panjang. Defisiensi sekunder mineral mikro sering dialami oleh ternak ruminansia walaupun ternak diberi suplemen mineral dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan ( Kardaya et al., 2001 ).

Unsur  Cu diabsorpsi kurang baik oleh ruminansia dalam metabolisme tubuh ( Kardaya, 2000 ). Meskipun Cu bukan merupakan bagian dari molekul haemoglobin, akan tetapi Cu ini adalah komponen yang sangat penting untuk pembentukkan sel darah merah dan menjaga aktivitasnya dalam sirkulasi ( Nugroho, 1986 ). Unsur Cu terdapat dalam plasma darah, kandungan Cu secara normal dalam plasma darah adalah 0,6 Cu/ml ( Underwood, 1981 ).

METODE

Materi

Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah larutan standar CSO4,CuSO4, FeSO4, MgSO4, Zn SO4,HCL 1:1, AgNO3, HNO3, CaCO3, NaCl, garam rochele, larutan nitroso R. salt, iodine, larutan NaOH 2N, larutan KOH 1N, larutan dithizone, dan aquadest.

Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah tabung reaksi, spoit, spotplate, kertas saring, gelas arloji, dan lap untuk membersihkan setelah praktikum.

Prosedur

1. Pengujian CO, Cu, Fe

Larutan A diteteskan pada kertas aring sebanyak 1-2 tetes, kemudian tambahkan sample secukupnya,tambahkan larutan B 2 tetes.  Amati perubahan warna larutan yang terjadi. Larutan standar yang digunakan adalah:

Untuk CO :  CSO4

Untuk Cu  :  CuSO4

Untuk Fe   :  FeSO4

2. Pengujian Mg

Larutan C  dalam spotplate diteteskan sebanyak 2-3 tetes, ditambahkan larutan D hingga warna agak kuning, lalu diteteskan pada kertas saring yang berisi sample. Amati perubahan warna yang terjadi. Larutan standar untuk Mg adalah MgSO4.

3. Pengujian Cl

Sample dilarutkan dengan air, lalu disaring dan masukkan pada tabung reaksi. HNO3 diteteskan sebanyak1-2 tetes, kemudian ditambahkan 1-2 tetes AgNO3 (5%) dalam tabung reaksi tersebut. Amati endapan putihnya. Sample standar untuk Cl adalah NaCl.

4. Pengujian CO2

Sample diteteskan seperlunya pada kaca arloji. Lalu ditambahkan larutan HCL 1:1. Amati gelembung yang terbentuk. Sampe standar untuk CO2 adalah CaCO3.

Keterangan :

Larutan A : garam rochele, dibuat dari 20 gr garam rochele ditambahkan 100ml aquadest

Larutan B   : larutan nitroso R. salt dibuat dari 1 gram nitroso R salt ditambahkan 500 ml aquadest

Larutan C   : larutan KOH 1 N

Larutan D  : 12.7 gram iodine ditambahkan 40 gr KI, dilarutkan dalam 25 ml aquadest dan diencerkan hingga 100 ml.

Larutan E   : Larutan NaOH 2N

Larutan F  : Larutan dithizone dibuat dari 0.1 gran dithizone dilarutkan dalam 100 ml aquadest.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Tabel  Uji Standar

Pengujian                    Standar                        Keadaan Awal                        Keadaan Akhir

CO                              COSO4 Merah                        cokelat kemerahan

Cu                               CuSO4 Biru tua                  hijau dengan pinggir

cokelat

Fe                                FeSO4 Hijau                      Hijau dengan pinggir

cokelat

Mg                               MgSO4 Putih                            Cokelat

Cl                                NaCl                            bening                         Endapan Putih

CO2 CaCO3 Putih ke cokelatan         Gelembung Gas

Tabel Uji Sampel Pengujian

Sampel                                    CO2 Cl        CO      Cu       Fe        Mg

I                                   +          +          –           –           +          –

II                              ++++                  +          –           –           +

III                              +++       –           –           +          –           –

IV                                ++        –           –           +          –           –

Keterangan :

+    : Sampel mengandung Mineral

–          : Sampel tidak mengandung Mineral

Pembahasan

Kebutuhan mineral dalam tubuh ternak untuk kelangsungan hidupnya harus terpenuhi dengan baik meskipun diperlukan dalam jumlah kecil saja dengan cara mengkonsumsi pakan yang mengandung mineral.Secara normal, konsentrasi mineral mikro dalam tubuh ternak tidak lebih dari 50mg/kg. Beberapa mineral merupakan elemen inorganik yang dibutuhkan oleh ternak untuk pertumbuhan dan reproduksi. Walaupun jumlah yang dibutuhkan hanya sedikit, keseimbangan dalam tubuh harus tetap terjaga. Berdasarkan kegunaannya dalam aktifitas hidup, mineral dapat dibagi menjadi 2 golongan yaitu golongan essensial dan non essensial. Berdasarkan jumlahnya, mineral dapat pula dibagi atas mineral makro dan mineral mikro ( Parakasi, 1986 ).

Fungsi mineral secara umum antara lain : untuk pembentukan struktur, untuk fungsi fisiologis, berfungsi sebagai katalis, dan sebagai regulator. Ternak memperoleh sebagian mineral yang dibutuhkannya berasal dari pakan, baik yang bersifat nabati maupun bersifat hewani. Tetapi sebagian kecil dapat diperoleh dari air,tanah,atau melalui kontaminasi. Mineral Cu dan CO adalah essensial pada ruminansia apabila dosis berlebihan maka akan menimbulkan efek racun pada ternak

Praktikum kali ini mengenai uji kualitatif mineral yang dilakukan untuk mengetahui jenis mineral pada sample secara kualitatif melalui adanya perubahan warna, gelembung gas atau terbentuknya endapan. Pengujian yang dilakukan adalah pengujian CO, Cu, Fe, Mg, Cl, dan CO2,. Pengujian dengan standar yang pertama adalah Cu dengan sampel standarnya CuSO4  warna awal adalah biru tua keadaan akhir menjadi hijau dengan pinggiran bewarna cokelat. Hal tersebut bisa terjadi dikarenakan adanya unsur-unsur yang membuat warna berubah seperti adanya basa. Pengujian dengan menggunakan sampel I dan II pada pengujian CuSO4 adalah tidak mengandung mineral sedangkan pada sampel III dan IV terdapat mineral Cu tersebut. Mineral Cu adalah salah satu mineral yang sering dilaporkan defisien pada ternak ruminansia. Menurut McDowell (1992), defisien Cu dapat menyebabkan mencret, pertumbuhan terhambat, perubahan warna pada rambut dan rapuh serta mudah patahnya, tulang – tulang panjang. Defisiensi sekunder mineral mikro sering dialami oleh ternak ruminansia walaupun ternak diberi suplemen mineral dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan ( Kardaya et al., 2001).

Unsur  Cu diabsorpsi kurang baik oleh ruminansia dalam metabolisme tubuh (Kardaya, 2000). Meskipun Cu bukan merupakan bagian dari molekul hemoglobin, akan tetapi Cu ini adalah komponen yang sangat penting untuk pembentukkan sel darah merah dan menjaga aktivitasnya dalam sirkulasi ( Nugroho, 1986 ). Unsur Cu terdapat dalam plasma darah, kandungan Cu secara normal dalam plasma darah adalah 0,6 Cu/ml ( Underwood, 1981 ).

Hal tersebut bisa terjadi dikarenakan adanya unsur-unsur yang membuat warna berubah seperti adanya basa. Pengujian dengan menggunakan sampel I – IV pada pengujian CuSO4 adalah tidak mengandung mineral. Mineral Cu adalah salah satu mineral yang seiring dilaporkan defisien pada ternak ruminansia. Menurut McDowell (1992), defisien Cu dapat menyebabkan mencret, pertumbuhan terhambat, perubahan warna pada rambut dan rapuh serta mudah patahnya tulang – tulang panjang. Defisiensi sekunder mineral mikro sering dialami oleh ternak ruminansia walaupun ternak diberi suplemen mineral dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan ( Kardaya et al., 2001).

Unsur  Cu diabsorpsi kurang baik oleh ruminansia dalam metabolisme tubuh (Kardaya, 2000). Meskipun Cu bukan merupakan bagian dari molekul hemoglobin, akan tetapi Cu ini adalah komponen yang sangat penting untuk pembentukkan sel darah merah dan menjaga aktivitasnya dalam sirkulasi ( Nugroho, 1986 ). Unsur Cu terdapat dalam plasma darah, kandungan Cu secara normal dalam plasma darah adalah 0,6 Cu/ml ( Underwood, 1981 ).

Pengujian kedua yaitu CO dengan sampel standarnya COSO4  warna awal adalah merah dengan keadaan akhir menjadi cokelat kemerahan. Kemudian pengujian CO dilakukan kembali dengan meggunakan sampel yang telah disediakan. Pada sampel II saja hasilnya menunjukan terdapatnya mineral CO sedangkan yang lainnya tidak ada.. Cobalt merupakan mineral mikro yang esensial bagi ternak yang dibutuhkan dalam jumlah yang sedikit dan berada pada jaringan hewan dalam bentuk senyawa cobalamin. Cobalt merupakan mineral mikro yang esensial bagi ternak yang dibutuhkan dalam jumlah yang sedikit dan berada pada jaringan hewan dalam bentuk senyawa cobalamin. Cobalt dikenal pertama kali sebagai pelengkap dan berperan dalam aktivitas biologis vitamin B12 yang dibutuhkan untuk metabolisme propionat dan pertumbuhan mikroorganismre. Bentuk Cobalt yang efektif dalam penyediaan Cobalt bagi ternak ruminansia untuk mencegah defisiensi adalah Co-karbonat, Co-sulfat, dan Co-nitrat (McDowell et al,1992)

Pengujian berikutnya adalah pengujian mineral dengan Fe dan sampel standar FeSO4dengan keadaan warna awalnya adalah hijau dan warna akhir hijau dengan pinggiran cokelat. Dengan menggunakan sampel I – IV pada pengujian FeSO4 hanya sampel I saja yang hasilnya positif mengandung mineral Fe. Fungsi Fe yang penting adalah untuk absorpsi dan transport O2 ke dalam sel – sel, Fe juga merupakan komponen yang aktif dari beberapa enzim yaitu sitokrom perioksidase dan katalase. Selain itu Fe berfungsi sebagai mediator proses – proses oksidasi ( Tillman et al., 1998 ). Defisiensi Fe ini akan mengakibatkan anemia dan hemosiderosis.

Pengujian Mg dengan sampel standar MgSO4 menghasilkan warna awal putih menjadi kecoklatan. Pengujian yang menggunakan sampel dari I – IV hasilnya hanya sampel II saja  yang mengandung mineral Mg. Magnesium merupakan mineral makro yang sangat penting. Sekitar 70% dari total Mg dalam tubuh terdapat dalam tulang atau kerangka (Underwood, 1981), sedangkan 30% lainnya tersebar dalam berbagai cairan tubuh dan jaringan lunak  (Tillman et al., 2003). Mg dibutuhkan oleh sebagian besar sistem enzim, berperan dalam metabolisme karbohidrat dan dibutuhkan untuk memperbaiki fungsi sistem saraf (Perry et al., 2003). Selain itu Mg berperan penting untuk sintesis protein, asam nukleat, nukleotida, dan lipid (Girindra, 1988). Pengujian berikutnya adalah pengujian Cl dengan sampel standar NaCl  yang merubahkan warna awal bening menjadi adanya endapan putih. Pengujian pada Cl berikutnya adalah dengan menggunakan sampel dari I – IV yang didapat dari pengujian hanya sampel I dan II saja yang mengandung mineral Cl yang lainnya tidak mengandung mineral Cl. Fumgsi Cl sendiri yaitu sebagai keseimbangan antara asam dan basa, osmoregulasi, dan sekresi cairan. Sedangkan defisiensi mineral Cl akan mengakibatkan alkalosis.Pengujian selanjutnya adalah pengujian mineral CO2  dengan standar CaCO3 dengan keadaan awal berwarna putih kecokelatan dan pada hasil percobaan terdapat adanya gelembung gas yang dikarenakan adanya oksigen. Pengujian dengan menggunakan sampel dari I – IV  hasilnya  adalah semua mengandung mineral.

KESIMPULAN

Praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwa sampel yang digunakan pada praktikum kali ini setelah dilakukan pengujian dari berbagai sampel yaitu sampel I-IV dihasilkan sampel I mengandung mineral Fe, CO2,  dan Cl, sampel ke II mengandung mineral CO, Mg, CO2 dan Cl, sampel ke III mengandung mineral Cu dan CO2, sampel ke IV mengandung mineral Cu dan CO2.

DAFTAR PUSTAKA

Church, D. C. 1991. The Ruminal Animal : Digestive, Physiology and Nutrition. Volume 2. Prentice Hall, New Jersey.

Girindra, A. 1998. Biokimia Patologi Hewan. Pusat Antar Universitas. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Kardaya, D., Supriyati, Suryahadi, dan T Toharmat. 2001. Pengaruuh suplementasi Zn-Proteinat, Cu-Proteinat dan amonium molibdat terhadap performans domba lokal. Media Peternakan, 24 (11) : 1-9

Kardaya, D. 2000. Pengaruh suplementasi mineral organik (Zn-Proteinat, Cu-Proteinat) dan amonium molibdat terhadap performans domba lokal. Tesis. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

McDowell, L. R. 1992. Mineral in Animal and Human Nutrition. Academic Press, INC, San Diego.

Miller, J. K., N. Ramsey and F. C. Madson. 1998. The Trace Elements. In : Church, D. C. (Ed). The Ruminal Animal : Digestive, Physiology and Nutrition. Prentice Hall, New Jersey.

Nugroho. 1986. Penyakit Kekurangan Mineral pada Sapi. Penerbit Eka Offset. Semarang.

Parakkasi, A. 1986. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Monogarstrik Vol IB . Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.

Perry, T. W., A. E. Cullison and R.S. Lowrey. 2003. Feeds and Feeding. Sixth Edition. Pearson Education, Inc., Upper Saddle River, New Jersey.

Piliang, W. G. 2002. Nutrisi Mineral. Edisi Kelima. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Tillman, A. D., H. Hartadi, S Reksohadiprojo, S. Prawirokusumo dan S. Lebdosukujo. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Cetakan Ke- 6. Fakultas Peternakan. Universitas Gajah Mada. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Underwood, E. J. and N. F. Suttle. 1999. The Mineral Nutrition of Livestock. Third Edition. CABI Publishing, London.

Underwood, E. J. 1981. The Mineral Nutrition of Livestock. Second Edition. Commonweath Agricultural Bureaux, London.

1 Comment

  1. Nothing Of Mee

    sangat membantu…terima kasih,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: