pengukuran kadar kreatinin darah

Laporan Praktikum ke: 11                                                                                Hari/Tanggal       : Kamis/ 27 Mei 2010

Fisologi Nutrisi                                                                                            Tempat Praktikum       : Laboratorium Biokimia,

Fisiologi, dan Mikrobiologi Nutrisi

Asisten                        :

1 Krisna Anindyka

2 Aditya Danu Wardana

PENGUKURAN KADAR KREATININ DARAH

Kelompok 3/ G1

FERI ANASARI                 D24080042

LIZA DESPIANI                D24080065

DEWI AYU LESTARI       D24080067

INTAN NURSIAM             D24080094

IWAN PURWANTO           D24080237

DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN

FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010


PENDAHULUAN

Latar belakang


Kreatinin merupakan produk penguraian keratin. Kreatin disintesis di hati dan terdapat dalam hampir semua otot rangka yang berikatan dengan dalam bentuk kreatin fosfat (creatin phosphate, CP), suatu senyawa penyimpan energi. Dalam sintesis ATP (adenosine triphosphate) dari ADP (adenosine diphosphate), kreatin fosfat diubah menjadi kreatin dengan katalisasi enzim kreatin kinase (creatin kinase, CK). Seiring dengan pemakaian energi, sejumlah kecil diubah secara ireversibel menjadi kreatinin, yang selanjutnya difiltrasi oleh glomerulus dan diekskresikan dalam urin.

Jumlah kreatinin yang dikeluarkan seseorang setiap hari lebih bergantung pada massa otot total daripada aktivitas otot atau tingkat metabolisme protein, walaupun keduanya juga menimbulkan efek. Pembentukan kreatinin harian umumnya tetap, kecuali jika terjadi cedera fisik yang berat atau penyakit degeneratif yang menyebabkan kerusakan masif pada otot.

Sejumlah besar kreatinin yang terdapat dalam sirkulasi darah akan ditapis keluar bersama dengan urin, dan tidak diserap kembali ke dalam darah. Oleh karena itu rasio konsentrasi kreatinina di dalam darah dan urin, dapat digunakan untuk menghitung rasio tapis kreatinina (bahasa Inggris: creatinine clearance, CrCl), yang setara dengan laju filtrasi glomerular (bahasa Inggris: glomerular fltration rate, GFR).

Tujuan

Pengamatan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kadar kreatinin dalam darah.

MATERI DAN METODE

Materi

Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah tabung reaksi dan raknya, spektrofotometer, dan spoit. Sedangkan bahan yang digunakan adalah larutan jenuh asam pikrat, larutan 10% NaOH, larutan standar keratin, urin domba, dan aquadest,

Metode

Dua labu ukur 10 ml yang satu berisi 0,1 ml urin dan yang kedua diisi dengan 1 ml larutan kreatinin standar. Kemudian masing-masing ditambahkan 2 ml larutan asam pikrat jenuh dan 0,15 ml NaOH 10%. Kemudian larutan dikocok sampai homogen dan dibiarkan pada suhu kamar selama 10 menit. Lalu labu ukur diisi dengan aquadest sampai batas tanda 100 ml. warna larutan yang ada dibandingkan antara labu ukur yang satu dengan yang lainnya pada alat spectrometer dengan panjang gelombang 520 nm.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Kelompok Nilai Absorbansi Kadar Kreatinin (mg/ ml)
Standar 0.018
1 0.331 1838.888889
2 0.338 1877.777778
3 0.209 1161.111111
4 0.266 1477.777778
5 0.500 2777.777778
6 0.275 1527.777778
7 0.328 1822.222222
8 0.302 1677.777778

Keterangan:

Rumus untuk menghitung kadar kreatinin yaitu:

Kadar kreatinin  =      absorbansi urin      x pengenceran

(Kelompok 3)        Absorbansi standard

=      0.209 x 100

0.018

=     1161.1111 mg/ ml

Pembahasan

Kreatinin merupakan produk sisa dari perombakan kreatin fosfat yang terjadi di otot yang merupakan zat racun dalam darah, terdapat pada seseorang yang ginjalnya sudah tidak berfungsi dengan normal. Sejumlah besar kreatinin yang terdapat dalam sirkulasi darah akan ditapis keluar bersama dengan urin, dan tidak diserap kembali ke dalam darah. Kreatin adalah asam organik bernitrogen yang terdapat secara alami di dalam hewan vertebrata. Kreatin dapat membantu menyediakan cadangan energi bagi jaringan otot dan saraf. Kreatin ditemukan pertama kali oleh Derek Edward Bye pada tahun 1832 sebagai komponen dari otot rangka. Nama kreatin sendiri berasal dari bahasa Yunani, dari kata Kreas yang berarti daging. Batas normal ureum : 20 – 40 mg/dl. Batas normal kreatinin : 0,5–1,5 mg/dl (Tanyuri, 2008). Kreatinin terbentuk akibat penguraian otot. Tingkat kreatinin dalam darah mengukur fungsi ginjal. Tingkat yang tinggi biasanya karena masalah dalam ginjal. Rasio kadar asam urat/kreatinin dalam urin sewaktu: Rasio > 0.8 menandakan over-production. Bila rasio ini > 0.9, menandakan adanya acute uric acid nephropathy. Bila rasio ini < 0.7 , menandakan terjadi hiperurisemia akibat gagal ginjal (Schlattner dkk., 2006).

Kreatin disintesis di hati dan terdapat dalam hampir semua otot rangka yang berikatan dengan dalam bentuk kreatin fosfat (creatin phosphate, CP), suatu senyawa penyimpan energi. Dalam sintesis ATP (adenosine triphosphate) dari ADP (adenosine diphosphate), kreatin fosfat diubah menjadi kreatin dengan katalisasi enzim kreatin kinase (creatin kinase, CK). Seiring dengan pemakaian energi, sejumlah kecil diubah secara ireversibel menjadi kreatinin, yang selanjutnya difiltrasi oleh glomerulus dan diekskresikan dalam urin (Anonim,  2008).

Jumlah kreatinin yang dikeluarkan setiap organisme setiap hari berbeda-beda, bergantung pada massa otot total daripada aktivitas otot atau tingkat metabolisme protein, walaupun keduanya juga menimbulkan efek. Pembentukan kreatinin harian umumnya tetap, kecuali jika terjadi cedera fisik yang berat atau penyakit degeneratif yang menyebabkan kerusakan masif pada otot.

Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan diperoleh data bahwa nilai aborban kreatinin yaitu sebesar 0.209 dan kadar kretinin yaitu 1161,11 mg/ ml. Nilai ini merupakan angka terendah jika dibandingkan dengan kadar kreatinin yang diperoleh oleh kelompok lain. Hal ini membuktikan bahwa kadar kreatinin tiap organisme berbeda-beda. Adanya perbedaan ini diduga disebabkan fungsi ginjal tiap organisme. Kreatinin darah meningkat jika fungsi ginjal menurun. Rendahnya kadar kreatinin ini diduga karena fungsi ginjal dari organisme yang digunakan baik. Pada gangguan ginjal jangka panjang yang parah, kadar urea terus meningkat, sedangkan kadar kreatinin cenderung mendatar, mungkin akibat akskresi melalui saluran cerna. Oleh karena itu kreatinin dianggap lebih sensitif dan merupakan indikator khusus pada penyakit ginjal dibandingkan uji dengan kadar nitrogen urea darah (BUN). Sedikit peningkatan kadar BUN dapat menandakan terjadinya hipovolemia (kekurangan volume cairan) (Tanyuri, 2008).

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamtan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan kadar kreatinin dalam urin domba kelompok 3 yaitu 1161,11 mg/ ml. Nilai ini merupakan angka terendah jika dibandingkan dengan kadar kreatinin yang diperoleh oleh kelompok lain. Hal ini membuktikan bahwa kadar kreatinin tiap organisme berbeda-beda. Adanya perbedaan ini diduga disebabkan fungsi ginjal tiap organisme. Kreatinin darah meningkat jika fungsi ginjal menurun. Rendahnya kadar kreatinin ini diduga karena fungsi ginjal dari organisme yang digunakan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Tanyuri, 2008. Cerita Dari Setetes Darah. [Terhubung berkala] http://tan-yuri.wordpress.com/2008/12/09/cerita-dari-setetes-darah/ (1 Juni 2010).

[Anonim]. 2008. Tanya Jawab. [terhubung berkala] http://media-sehat.com/tanyajawab499 (1 Juni 2010).

Schlattner U, Tokarska-Schlattner M, Wallimann T. 2006. Mitochondrial creatine kinase in human health and disease. 2006 Feb;1762(2):164-80. Review. Biochim Biophys Acta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: