pengguunaan kulit buah kakao sebagai pakan ternak

Salah satu kendala dalam penyediaan pakan ternak ruminansia adalah semakin sempitnya lahan pertanian dan faktor sosio-ekonomi petani yang lebih cendrung mengutamakan untuk menanam tanaman pangan atau perkebunan yang langsung dapat dimanfaatkan. Kondisi ini telah memicu pergeseran pola penyediaan pakan pada pencarian sumber pakan non-komersial seperti pemanfaatan hasil ikutan pertanian, perkebunan dan agroindustri.

Tanaman kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu tanaman perkebunan yang luas areal penanamannya terus mengalami peningkatan. Indonesia merupakan negara terbesar ketiga produsen kakao di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Luas areal tanaman kakao di Indonesia pada tahun 2008 mencapai 1.473.259 hektar dengan total produksi 792.791 ton (Deptan 2009). Peningkatan luas areal tanam dan priduksi kakao, diikuti juga dengan peningkatan jumlah hasil ikutan pengolahan buah kakao. Selama ini dari buah kakao, hanya keping biji yang dimanfaatkan sebagai komoditi ekspor,sedangkan bagian lain belum dimanfaatkan secara optimal. Hasil ikutan perkebunan dan pengolahan kakao terdiri dari kulit buah kakao, kulit biji kakao, debu kakao dan plasenta. Kulit buah kakao merupakan hasil ikutan yang proporsinya paling besar dihasilkan. Produksi satu biji ton kakao kering menghasilkan sekitar 10 ton kulit buah kakao segar (Figueira et al. 1993).

Kulit buah kakao segar mengandung bahan kadar air yang tinggi sehingga mudah busuk. Penggunaan kulit buah kakao sebagi mulsa disebar disekeliling tanaman dapat menjadi tempat tumbuh cendawan Phytopthora palmivora yang menyebabkan black pad diseases. Kenyataan ini menimbulkan masalah dalam penanganan hasil ikutan pengolahan buah kakao karena secara tidak langsung dapat menurunkan produksi biji kakao. Salah satu alternatif yang mungkin adalah pemanfaatan kulit buah kakao sebagai bahan pakan. Kulit buah kakao memiliki kandungan protein dan Total Degistible Nutrient (TDN) yang hampir setara dengan rumput gajah sehingga lebih cocok untuk digunakan sebagai pakan ternak ruminansia.

Kulit buah kakao merupakan kulit bagian luar yang menyelubungi biji kakao dengan tekstur yang kasar, tebal dan keras. Kandungan lignin yang tinggi dan tekstur yang keras dapat menurunkan konsumsi, kecernaan pakan dan penampilan ternak. Pengunaan kulit buah kakao sebagai bahan pakan memerlukan pengolahan dan pengayaan nutrisi. Nilai manfaat kulit buah kakao sebagai bahan pakan dapat ditingkatkan dengan memutus atau mengurangi keeratan ikatan antara selulosa dan hemiselulosa dengan lignin. Perlakuan secara biologis menggunakan Tricohederma viride, Phanerochaete chrysosporium dan Pleurotus ostreatus penah dilakukan.

Kandungan lignin kulit buah kakao yang mencapai 38,78% merupakan masalah tersendiri dalam pemilihan jenis kapang yang akan digunakan. Kapang yang digunakan harus mampu menghasilakn enzim ligninolitik yang merombak ikatan dan struktur lignin (delignifikasi) dinding sel. Delignifikasi dapat terjadi dengan merombak dan melarutkan lignin yang terkandung dalam kulit buah kakao. Ikatan ligninselulosa dapat diputus oleh ligninase seperti lignin peroksidase (LiP), mangan peroksidase (MnP) dan laccase (Takano et al. 2004). Enzim LiP dan MnP dihasilkan oleh beberapa organisme termasuk diantaranya oleh P.chrysosporium.

Penelitian terdahulu (Laconi 1998) menyebutkan bahwa fermentasi kulit buah kakao dengan P.chrysosporium mampu menurunkan kandungan lignin sebesar 18,36%. Melihat kemampuan P.chrysosporium dalam menghasilkan enzim lignolitik dan selulotik, ada kemungkinan kapang ini mampu menurunkan kandungan lignin yang lebih besar dari hasil penelitian terdahulu dengan meningkatkan pertumbuhan kapang dan aktivitas enzim ligninolitik.

Pertumbuhan P.chrysosporium dan aktifvitas enzim lignolitik salah satunya dipengaruhi oleh ketersediaan nutrien dalam substrat. Jumlah lignin yang terdegradasi mempunyai hubungan dengan jumlah miselia yang tumbuh. Miselia kapang akan menembus jaringan sehingga lebih banyak enzim ligninase yang dikeluarkan. Penelitian terdahulu (Wuyep et al. 2003) menunjukan bahwa ion Mn2+ dan Ca2+ dapat memacu pertumbuhan dan perpanjangan miselia 2 jenis Basidiomycetes yaitu Lentinus squarrosulus dan Psathyrella atroumbonata. Weil et al. (2006) melaporkan bahwa penambahan 100 mg Mn Kg-1 substrat menghasilkan pertumbuhan tertinggi pada Agaricus bisporus. Wuyep et al. (2003) melaporkan bahwa penambahan 2.400-3.200 ppm Ca mampu menghasilkan pertumbuhan dan aktivitas enzim lignoilitik terbaik pada Lentinus squarrosulus dan Psathyrella atroumbonata. Penambahan Mn ke dalam substrat mampu meningkatkan degradai lignin dan kecernaan bahan kering substrat. Biokonversi tongkol kapas dengan kapang P.ostreatus yang ditambah dengan MnSO4 mampu mengurangi kandungan lignin hingga 56% (Kerem & Hadar, 1997). Peneliti lain ( Jellison et al., 1997) menyebutkan LiP tertekan pada konsentrasi Mn tinggi, 40-199 ppm, namun  Jeffries et al., (1981) mengemukakan bahwa peningkatan konsentrasi Ca dapat meniadakan pengaruh Mn terhadap penurunan degradasi lignin.

Biokonversi dengan P.chrysosporium diduga mampu mengurangi keeratan ikatan dan kandungan lignin bahan yang dapat meningkatkan kualitas kulit buah kakao. Kenyataan bahwa kandungan TDN dan protein kulit buah kakao tanpa pengolahan hampir sama dengan yang ada pada rumput gajah, maka dalam penelitia ini dicobakan penggunaan kulit buah kakao sebagai pakan ternak kambing.

2 Comments

  1. Dedy

    Hehhehe..terlalu banyak bahasa2 yg gak ngerti..klu mau beri masukan jgn pki2 bahsa keren gt dong..kami yg melihara sapi biasanya kaum petani yg hidup dikampung..gak ngerti dg istilah anak sekolahan..

    • ya memang kita menyesuaikan dengan apa yang ingin kita tulis saja..intinya begini, ya kalau memang mau memanfaatkan kulit kakao sebagai pakan bisa dengan dua cara yaitu berikan kulit buah kakao tsb secara langsung atau diolah dahulu dengan cara amoniasi..tekniknya seperti ini fermentasi kulit buah kakao menggunakan urea..urea yang digunakan 1-2% dari jumlah kulit kakao yang akan diamoniasi,,larutkan urea dengan air secukupnya atau sampai kadar air tertentu (contoh, kita punya 100 kg kadar air kulit kakao 50% maka jika kita ingin menjadikan kadar air 60% maka perlu ditambah 10% air atau 10 liter air dan 1 kg urea) lalu kita peram atau fermentasi selam 21 hari..sebelum diberikan ke ternak terlebih dahulu diangin-anginkan sehari agar konsentrasi amonianya tidak terlalu kuat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: