laporan IPN 3 tan (saponin)

Laporan Praktikum ke : 3                                                   Hari / Tanggal : Senin / 22 Maret 2010

Integrasi Proses Nutrisi                                                      Tempat            : LaboratoriumBiokimia,

Fisologi dan Mirobiologi

Asisten            : – Fransisca

– Raisha

SAPONIN

Intan Nursiam

D24080094

DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN

FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Berbagai macam antinutrisi atau senyawa toksik terdapat pada berbagai biji cereal, biji legume dan tanaman lainnya. Sebagian besar zat kimia ini mengandung unsur normal dengan komposisi kimia yang bervariasi ( seperti protein, asam lemak, glycoside, alkaloid ) yang bias didistribusikan seliruhnya atau sebagaian tanaman.

Beberapa senyawa bisa menjadi tidak aktif dengan berbagai proses seperti pencucian, perebusan atau pemanasan. Apabila panas digunakan untuk menginaktifkan senyawa antinutrisi perlu dipertimbangkan agar tidak merubah kualitas nutrisi bahan makanan.

Adanya senyawa antinutrisi dalam bahan makanan dapat menjadi pembatas dalam penggunaanya dalam ransum, karena senyawa antinutrisi ini akan menimbulkan pengaruh yang negative terhadap pertumbuhan dan produksi tergantung dosis yang masuk ke dalam tubuh. Penggunaan bahan makanan yang mengandung anti nutrisi harus diolah terlebih dahulu untuk menurunkan atau menginaktifkan senyawa ini, tetapi perlu dipertimbangkan nilai ekonomis dari pengolahan ini.

Salah satu zat anti nutrisi yang sering ditemukan adalah saponin. Sebagian besar saponin ditemukan pada biji-bijian dan tanaman makanan ternak lainnya. Seponin umunya berkarakteristik yaitu rasa pahit, sifat iritasi mucosal, sifat penyabunan dan sifat hemolitik serta sifat membentuk kompleks dengan asam empedu dan cholesterol.

Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk mendeteksi keberadaan saponin dalam hijauan pakan ternak dengan menggunakan pelarut air. Tujuan lainya adalah untuk mengetahui kestabilan busa saponin di dalam larutan saliva buatan dan cairan rumen. Selain itu praktikum ini bertujuan untuk mencari tahu pengaruh penggunaan saponin terhadap populasi protozoa rumen.

TINJAUAN PUSTAKA

Saponin

Saponin adalah jenis glikosida yang banyak ditemukan dalam tumbuhan. Saponin memiliki karakteristik berupa buih. Sehingga ketika direaksikan dengan air dan dikocok maka akan terbentuk buih yang dapat bertahan lama. Saponin mudah larut dalam air dan tidak larut dalam eter. Saponin memiliki rasa pahit menusuk dan menyebabkan bersin serta iritasi pada selaput lendir. Saponin merupakan racun yang dapat menghancurkan butir darah atau hemolisis pada darah. Saponin bersifat racun bagi hewan berdarah dingin dan banyak diantaranya digunakan sebagai racun ikan. Saponin yang bersifat keras atau racun biasa disebut sebagai Sapotoksin.

Saponin adalah senyawa glikosida yang berfungsi sebagai detergen alami (Rao, 1996). Menurut Lacaille-Dubois dan Wagner (1996) aktivitas spesifik saponin meliputi aktivitas yang berhubungan dengan kanker seperti sitotoksik, antitumor, kemopreventif, antimutagen, dan yang menyangkut aktivitas antitumor, antiinflamatori dan antialergenik, imunomodulator, antivirus, antihepatotoksik, antidiabetes, antifungi, dan molusisidal.

Efek saponin berdasarkan sistem fisiologis meliputi aktivitas pada sistem kardiovaskular dan aktivitas pada sifat darah (hemolisis, koagulasi, kolesterol), sistem saraf pusat, sistem endokrin, dan aktivitas lainnya.  Saponin mampu berikatan dengan kolesterol, sedangkan saponin yang masuk kedalam saluran cerna tidak diserap oleh saluran pencernaan sehingga saponin beserta kolesterol yang terikat dapat keluar dari saluran cerna. Hal ini menyebabkan kadar kolesterol dalam tubuh dapat berkurang. (Lipkin, 1995).

Sifat-sifat Saponin adalah: 1) Mempunyai rasa pahit , 2)Dalam larutan air membentuk busa yang stabil, 3) Menghemolisa eritrosit, 4) Merupakan racun kuat untuk ikan dan amfibi, 5) Membentuk persenyawaan dengan kolesterol dan hidroksisteroid lainnya, 6) Sulit untuk dimurnikan dan diidentifikasi, 7) Berat molekul relatif tinggi, dan analisis hanya menghasilkan formula empiris yang mendekati. Toksisitasnya mungkin karena dapat merendahkan tegangan permukaan (surface tension). Dengan hidrolisa lengkap akan dihasilkan sapogenin (aglikon) dan karbohidrat (hexose, pentose dan saccharic acid). Pada hewan ruminansia, saponin dapat digunakan sebagai antiprotozoa, karena mampu berikatan dengan kolesterol pada sel membran protozoa sehingga menyebabkan membrondisis pada sel membrane protozoa. Saponin dapat beraktivitas sebagai adjuvant pada vaksin antiprotozoa yang nantinya mampu menghambat perkembangan sporozoit di dalam saluran pencernaan (Cheeke,1999).

Cairan rumen

Perut hewan ruminansia terdiri atas rumen, reticulum, omasum dan abomasum. Volume rumen pada ternak sapi dapat mencapai 100 liter atau lebih dan untuk domba berkisar 10 liter ( Putnam, 1991 ). Bagian cair dari isi rumen sekitar 8-10% dari berat sapi yang dipuasakan sebelum dipotong ( Gohl, 1981 ). Cairan rumen merupakan limbah yang diperoleh dari rumah potong hewan yang dapat mencemari lingkungan apabila tidak ditangani dengan baik. Bagian cair dari isi rumen kaya akan protein, vitamin B kompleks serta mengandung enzim-enzim hasil sintesa mikroba rumen ( Gohl, 1981 ).

Menurut Church ( 1979 ), menyatakan bahwa cairan rumen mengandung enzim alfa amylase, galaktosidase, hemiselulosa dan selulosa. Rumen merupakan tabung besar untuk menyimpan dan mencampur ingesta bagi fermentasi mikroba. Kerja ekstensif bakteri dan mikroba terhadap zat-zat makanan menghasilkan produk akhir yang dapat diasimilasi. Kondisi dalam rumen adalah anaerobik dengan temperature 38-420C. tekanan osmosis pada rumen mirip dengan tekanan aliran darah, pH dipertahankan oleh adanya absorpsi asam lemak dan amoniak. Saliva yang masuk kedalam rumen berfungsi sebagai buffer dan membantu mempertahankan pH tetap pada 6,8. Saliva bertipe cair, membuffer asam-asam, hasil fermentasi mikroba rumen. Selain itu juga saliva merupakan zat pelumas dan surfactant yang membantu didalam proses mastikasi dan ruminasi. Saliva mengandung elektrolit-elektrolit tertentu seperti Na, K, Ca, Mg, P, dan urea yang mempertinggi kecepatan fermentasi mikroba. Sekresi saliva dipengaruhi oleh bentuk fisik pakan, kandungan bahan kering, volume cairan isi perut dan stimulasi psikologis ( Arora, 1989 ).

Daun Gamal (Glicirida sepium )

Gamal merupakan salah satu jenis tanaman atau leguminosa pohon yang sering digunakan sebagai pohon pelindung tanaman kakao. Tanaman leguminosa merupakan hijauan pakan yang produksinya berkesinambungan dan memiliki nilai lebih dalam kandungan protein, mineral danvitamin sehingga dapat mengatasi kendala ketersediaan pakan sepanjang tahun. Gamal mempunyai kualitas yang bervariasi tergantung pada umur, bagian tanaman, cuaca dan genotif. Kandungan proteinnya sekitar 18,8%, diman kandungan protein ini akan menurun dengan bertambahnya umur, namun demikian kandungan serat kasarnya akan mengalami peningkatan. Palabilitas daun gamal merupakn masalah karena adanya kandungan antinutrisi flavano 1-3,5% dan total phenol sekitar 3-5% berdasarkan berat kering. Ruminansia yang tidal biasa mengkonsumsi dasun gamal umumnya tidak akan memakannya untuk yang pertama kali bila dicampurkan pada ransum. Dalam pemberiaannya sebaiknya dilayukan dulu. Kecernaan bahan kering daun gamal adalah 48-77%.( Nahrowi,2008 ).

Pemanfaatan daun gamal sebagai sumber pakan ruminansia sangat memungkinkan dan beralasan, mengingat tanaman gamal dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang kurang subur, tahan terhadap kekeringan dan produksi hijauan tinggi. Daun gamal dapat dimanfaatkan sebagai pakan basal ternak kambing maupun pakan campuran melalui proses pelayuan. Meski demikian, pemanfaatan daun gamal semata-mata ternyata belum mampu menunjukkan tingkat produktivitas ternak yang baik. Hal tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh tidak tercukupinya unsur-unsur nutrisi yang penting, adanya zat anti nutrisi utamanya saponin dan rendahnya palatabilitas. Oleh karena itu dibutuhkan suatu teknologi untuk mengoptimalkan produktivitas ternak melalui upaya suplementasi pakan. [http:// disnaksulsel .info / index.php?option=com_docman&task=cat_view&gid=21&mosmsg=You+are+trying+to+access+from+a+non-authorized+domain.+%28www.google.co.id%29 ( 27 maret 2010)].

Daun Kaliandra

Kaliandra merupakan tanaman yang sudah tersebar ke seluruh Indonesia. Proteinnya cukup tinggi terutama daunnya yaitu sekitar 24%, sedangkan serat kasarnya sekitar 27%. Umumnya tidak mengandung racun, kecuali adanya tannin yang cukup tinggi yang bisa mencapai 11%. ( Nahrowi,2008 ). Penanaman kaliandra pada tanah-tanah yang kurang produktif dapat menekan pertumbuhan gulma. Selain itu tanaman ini dapat digunakan sebagai tanaman penahan erosi dan penyubur tanah. Daun kaliandra mudah dikeringkan dan dapat dibuat sebagai tepung makanan ternak kambing. Kaliandra mengandung protein kasar 22,4%, lemak 4,1%, energi kasar 46,30 kkal/kg, SDN 24,0%, lignin 1995,0%, Ca 1,6% dan P 0,2% [http://kambingetawa.blogspot.com/2008_03_01_archive.html (27 Maret 2010)]. Upaya yang dilakukan untuk mengurangi pengaruh negatif tanin tersebut adalah melalui cara pencampuran daun kaliandra dengan daun dari jenis leguminosa lain pada imbangan yang tepat. Selain itu pengaruh negatif tanin dapat dikurangi dengan pemberian zat aditif [http: //www .fao. org/ agris /search /display .do;jsessionid =86703C9CAC8A8F968B3BB2B2D1B459D8?f=./2005/ID/ID0408.xml;ID2004000712 ( 27 Maret 2010)].

Daun Kembang Sepatu

Tanaman kembang sepatu ini sekitar 2 m – 5 m. Daun berbentuk bulat telur yang lebar atau bulat telur yang sempit dengan ujung daun yang meruncing. Tanaman ini bisa bisa tumbuh dan berkembang di daerah tropis. Kembang sepatu ini memiliki lima helai daun kelopak. Mahkota bunga terdiri dari 5 lembar atau lebih. Tangkai putik berbentuk silinder panjang dikelilingi tangkai sari berbentuk oval yang bertaburan serbuk sari.  Bunga kembang sepatu ini berbentuk terompet dengan diameter bunga sekitar 5 cm hingga 20 cm. Bunganya bisa mekar menghadap ke atas, ke bawah, atau menghadap ke samping. Pengembangbiakan tanaman kembang sepatu ini bisa dengan cara stek, pencangkokan, dan penempelan. Daun Kembang Sepatu  (Hibiscus Rosa Sinensis) mengandung : Flavonoida, Saponin & Polifenol [http: //www. bisnisbali.com /2008 /05/05 /news /agrohobi/yu.htm(27 Maret 2010)].

Daun Lamtoro ( Leucana leucocephala )

Lamtoro mempunyai kandungan protein kasar berkisar antara 14-19%, sedangakan kandungan serat kasar umumnya berfliktuasi dari 33 hingga 66%, dengan kandungan Beta-N berkisar antara 35-44%. Daun lamtoro umumnya defisiensi asam amino yang mengandung sulfur. Kandungan vitamin A dan C biasanya tinggi. Biji dan daun lamtoro mengandung glactomannan yang dapat membentuk ekstrasi protein dari kemungkinan penggunaannya oleh ternak. Zat ini mungkin mempunyai potensi sebagai bahan biomedical. ( Nahrowi,2008 ).

MATERI DAN METODE

Materi

Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah daun kaliandra, daun kembang sepatu, daun gamal, sabun colek, larutan NaOH 0,1%, rumen sapi yang masih segar, aquadest, larutan buffer McDougaldan gas CO2.

Alat yang digunakan pada praktikum kali ini antara lain mortar, corong, kapas, tabung reaksi dan rak, pipet tetes, timbangan kasar, gelas piala, cover glass, obyek gelas, spoit, mikroskop dan label.

Prosedur

1.Uji Saponin

Masing-masing daun (daun singkon, gamal, kembang sepatu dan kaliandra) digerus sampai halus kemudian ditimbng kira-kira 2 gram dan dimasukkan ke dalam gelas piala atau botol selai.air panas sebanyak 100 ml ditambahkan ke dalam gelas piala tersebut dan dididihkan selama 5 menit. Setelah itu, didinginkan pada suhu kamar. Isi gelas piala tesebut disaring dengan corong dan kapas sehingga didapatkan filtrate yang akan digunakan untuk pengujian. Sebanyak 5 ml filtrate tersebut dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan kocok selama 10 detik serta dibiarka selam 10 menit. Indikator adanya saponin ditandai dengan adanya buih yang stabil. Dilakukan hal yang sama akan tetapi menggunakan air dingin.

2. Uji Kestabilan Busa pada Saliva Buatan dan Cairan Rumen

Cairan filtrat (sisa filtrate yang menggunakan air dingin) sebanyak 5 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan saliva buatan sebanyak 5 ml kemudian dikocok selama 10 detik dan dibiarkan selama 10 menit. Ketinggian busa yang muncul diukur. Dilakukan hal yang sama tetapi saliva buatan diganti dengan cairan rumen. Dicatat hasil ketinggian busanya. Sabun colek ditimbang sebanyak 1 gram kemudian dilarutkan dengan aquadest sampai volumenya menjadi 100 ml. kemudian dilakukan pencampuran denga saliva atau cairan rumen seperti dengan cara sebelumnya yang menggunakan filtrat.

3. Uji Pengaruh Penambahan Saponin terhadap Populasi Protozoa Rumen

Tabung hungate yang berisi gas CO2 disiapkan terlebih dahulu. Filtrate diambil sebanyak 1 ml dengan menggunakan spoit dan dimasukkan ke dalam tabung hungate (jangan sampai gelembung udara ikut masuk ke dalam udara). Sebanyak 5 ml cairan rumen ditambahkan ke dalam tabung tersebut kemudian kocok perlahan selam 10 menit. Cairan tersebut kemudian diambil sedikit dengan menggunakan spoti dan diletakkan di atas obyek gelas serta ditutup dengan cover gelas, kemudian diamti dibawah mikroskop dengan perbesaran 100x. Dilakukan juga pengamatna untuk blanko yaitu dengan menggunakan cairan rumen tanpa perlakuan dan di taruh di atas obyek gelas dan titutup dengan cover gelas, kemudian diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 100x.

4. Pembuatan Saliva Buatan

Cairan A : Masukan 12 ml air bebas ion ke dalam tabung erlenmeyer ditambah 1 ml NaOH 1 N ditambah 0,25 gram pereduksi bubuk. Setelah semua bahan masuk, campurkan semua bahan tersebut.

Cairan B : campurkan 50 ml air bebas ion, 0,0125 mikromineral, 25 ml rumen buffer, 25 ml makromineral, 0,125 resajurin. Titrasikan antar larutan A dan B sampai bening.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Pengamatan

Table 1. Hasil Uji Saponin pada Fitrat Hijauan (Daun)

Nama daun

Air Panas Air Dingin
Buih Ketinggian Buih Ketinggian
Lamtoro +++ +++ 0,5 cm
Gamal
Kaliandra ++ ++ 0.3 cm
Kembang sepatu
Sabun cair ++++ 6,3 cm
Sabun colek ++++ 4,7 cm

Keterangan :    –          : tidak terdapat buih

+          : sedikit

++        : agak banyak

+++     : banyak

++++   : paling banyak

Table 2. Hasil Uji Kestabilan Busa pada Saliva Buatan dan Cairan Rumen

Nama daun

Panas Dingin
Buih Ketinggian Buih Ketinggian
Lamtoro ++ 1,2 cm ++ 0,5 cm
Gamal + 0,1 cm
Kaliandra ++ 0,6 cm + 0,2 cm
Kembang sepatu + 0,3 cm ++ 0,5 cm
Sabun cair +++ 5, 1 cm
Sabun colek ++++ 9,7 cm

Keterangan : –             : tidak terdapat buih

+             : ada tetapi sedikit

++           : agak banyak

+++        : banyak

++++      : lebih banyak

+++++    : paling banyak

Table 3. Hasil Uji Saponin pada Fitrat Hijauan dengan cairan rumen

Nama daun

Air Panas Air Dingin
Buih Ketinggian Buih Ketinggian
Lamtoro
Gamal
Kaliandra
Kembang sepatu
Sabun cair +++ 2,3 cm
Sabun colek ++++ 5,4 cm

Keterangan :    –          : tidak terdapat buih

+          : sedikit

++        : agak banyak

+++     : banyak

++++   : paling banyak

Tabel 4 Hasil Uji Pengaruh Penambahan Saponin terhadap Populasi Protozoa Rumen

Nama daun/ Cairan Jumlah Protozoa
Lamtoro
Gamal 5
Kaliandra 6
Kembang sepatu 6

PEMBAHASAN

Pada ketiga percobaan yang dilakukan diperoleh hasil bahwa daun gamal memiliki tinggi busa yang paling rendah dibandingkan dengan tinggi busa yang lainnya. Daun lamtoro mempunyai tinggi busa paling tinggi jika dibandingkan dengan filtrate dari daun-daun yang diuji lainnya. Daun kaliandra memiliki tinggi busa yang sedikit lebih besar daripada busa yang dihasilkan pada bunga sepatu. Hal ini mengindikasikan bahwa tinggi busa berkolerasi dengan tinggi rendahnya kandungan saponin pada hijauan pakan.

Pemberian perlakuan suhu pada filtrat yang diujikan ternyata memperlihatkan perbedaan pada tinggi busa yang dihasilkan. Pada pengujian dengan saliva daun kalindra yang dipasankan ternyata memiliki tinggi busa yang lebih tinggi dibandingkan dengan filtrate yang tidak dipanaskan. Untuk daun lainnya pada pengujiaan yang sama berkebalikan hasilnya dengan tinggi busa pada kembang sepatu. Pada lamtoro, gamal dan kaliandra ternyata filtrate yang tidak dipanaskan ternyata memiliki tinggi busa yang lebih tinggi dibandingkan dengan filtrate yang dipanaskan. Pemanasan ternyata dapat menurunkan kadar saponin pada hijauan pakan.

Saponin pada hijaun pakan ternyata memberikan pengaruh terhadap jumlah protozoa yang ada di cairan rumen. Pada pengujian jumlah protozoa rumen dengan menggunakan daun kaliandra ditemukan 6 protozoa. Hasil yang sama ditemukan pada penujian menggunakan daun kembang sepatu. Pengujian dengan daun gamal ditemukan 5 protozoa rumen. Pada perlakuan kontrol hanya ditemukan 1 buah protozoa rumen. Ini menunjukan bahwa kandungan saponin pada hijaun pakan dapat mempengaruhi jumlah protozoa dalam rumen.

KESIMPULAN

Tingginya busa yang dihasilkan pada pengujian filtrate hijauan pakan dapat mengindikasikan tingginya kandungan saponin pada hijauan pakan tersebut. Pemberian pemasan juga mempengaruhi tinggi busa yang dihasilkan yang berarati pemanasan berpengaruh untuk menurunkan kadar saponin pada hijauan pakan. Saponin juga dapat mempengaruhi jumlah protozoa dalam cairan rumen. Hal ini menunjukan bahwa tinggi rendahnya kandungna saponin pada hijaun pakan dapat mempengaruhi jumlah protozoa karena saponin mempunyai sifat penyabunan yang dapat mempengaruhi jumlah protozoa pada cairan rumen.

DAFTAR PUSTAKA

Arora, S.P. 1989. Pencernaan Mikroba Pada Ruminansia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Cheeke.2000. Saponin : Suprising Benefits of Desert Plants. http :www . lpi . orego- nstate.edu/sp-spdp/saponin.htm. (6 Mei 2003)

Church, D.C.1979.Digestive Physology and Nutrition of Ruminant. 2nd Edition. Oxford Press, Oregon.USA

Gohl, B.O.1981.Topical Feed, Food and Agriculture Organitation of The United Nation, Rome.

Lacaille-Dubois R dan H. Wagner.1996. A Review of The Biological and Pharmacological activities of saponin. Phytomedidine 2 363-386

Lipkin R. 1995. Scientist Though The Health Benefits of Saponins. 11-148

Nahrowi.2008. Pengetahuan Bahan Pakan. Nutri Sejahtra Press. Bogor.

Putnam, P.A.1991.Handbook of Animal Science.Academic Press, San Diego.

Rao AV.1996. Anticarcinogenic properties of plant Saponin . Second International Symposium on Roleof soy. Brussels, Belgium.

[http: //www .fao. org/ agris /search /display .do;jsessionid =86703C9CAC8A8F9- 6B3BB2B2D1B459D8?f=./2005/ID/ID0408.xml;ID2004000712 ( 27 Maret 2010)].

[http: //www. bisnisbali.com /2008 /05/05 /news /agrohobi/yu.htm(27 Maret 2010)].

[http:// disnaksulsel .info / index. php?option =com_ docman &task =cat _ view & gid=21&mosmsg=You+are+trying+to+access+from+a+non-authorized+domain.+%28www.google.co.id%29 ( 27 Maret 2010)].

[http://kambingetawa.blogspot.com/2008_03_01_archive.html (27 Maret 2010)].

1 Comment

  1. Ivan Babus Satryo

    Yth. Mbak Intan

    Saya perlu informasi kandungan Saponin di Biji Mahoni berapa ya? Terimakasih sekali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: