laporan IPN 4 tan (buffer)

Laporan Praktikum ke : 4                                      Hari / Tanggal : Senin / 29 Maret 2010

Integrasi Proses Nutrisi                                         Tempat            : LaboratoriumBiokimia,

Fisologi dan Mikrobiologi

Asisten            : – Dicky Zulharman

BUFFER

Intan Nursiam

D24080094

DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN

FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Ternak Ruminansia (sapi, kerbau, kambing, domba) merupakan ternak herbivore yang memiliki empat perut. Salah satu perutnya adalah rumen. Ternak Ruminansia mempunyai alat pencernaan yang unik yaitu retikulo-rumen yang dipisahkan oleh lipatan reticulo-ruminal sehingga isi rumen dan reticulum dapat tercampur dengan mudah. Rumen dan reticulum merupakan alat pencernaan fermentativ yang di dalamnya terdapat mikroorganisme seperti bakteri, prozoa, dan fungi. Di dalam rumen, zat-zat makanan akan disederhanakan melalui fermentasi mikroba menjadi produk yang mudah dimanfaatkan induk semang.

Mikroorganisme pada rumen dapat hidup karena walaupun proses fermentasi yang terjadi dalam rumen menghasilkan asam, epitel rumen dapat menghasilkan larutan penyangga yang dapat mempertahankan pH rumen agar tetap normal.

Buffer merupakan penyangga yang terdiri dari asam lemah dan basa kuat. Buffer dapat mempertahankan pH dan buffer fosfat merupakan salah satu jenis penyangga .

Tujuan

Membuktikan rumen mempunyai penyangga atau tidak dengan penambahan larutan yang bersifat asam dan basa.

TINJAUAN PUSTAKA

Cairan rumen

Perut hewan ruminansia terdiri atas rumen, reticulum, omasum dan abomasum. Volume rumen pada ternak sapi dapat mencapai 100 liter atau lebih dan untuk domba berkisar 10 liter ( Putnam, 1991 ). Bagian cair dari isi rumen sekitar 8-10% dari berat sapi yang dipuasakan sebelum dipotong ( Gohl, 1981 ). Cairan rumen merupakan limbah yang diperoleh dari rumah potong hewan yang dapat mencemari lingkungan apabila tidak ditangani dengan baik. Bagian cair dari isi rumen kaya akan protein, vitamin B kompleks serta mengandung enzim-enzim hasil sintesa mikroba rumen ( Gohl, 1981 ).

Menurut Church ( 1979 ), menyatakan bahwa cairan rumen mengandung enzim alfa amylase, galaktosidase, hemiselulosa dan selulosa. Rumen merupakan tabung besar untuk menyimpan dan mencampur ingesta bagi fermentasi mikroba. Kerja ekstensif bakteri dan mikroba terhadap zat-zat makanan menghasilkan produk akhir yang dapat diasimilasi. Kondisi dalam rumen adalah anaerobik dengan temperature 38-420C. tekanan osmosis pada rumen mirip dengan tekanan aliran darah, pH dipertahankan oleh adanya absorpsi asam lemak dan amoniak. Saliva yang masuk kedalam rumen berfungsi sebagai buffer dan membantu mempertahankan pH tetap pada 6,8. Saliva bertipe cair, membuffer asam-asam, hasil fermentasi mikroba rumen. Selain itu juga saliva merupakan zat pelumas dan surfactant yang membantu didalam proses mastikasi dan ruminasi. Saliva mengandung elektrolit-elektrolit tertentu seperti Na, K, Ca, Mg, P, dan urea yang mempertinggi kecepatan fermentasi mikroba. Sekresi saliva dipengaruhi oleh bentuk fisik pakan, kandungan bahan kering, volume cairan isi perut dan stimulasi psikologis ( Arora, 1989 ).

Larutan Buffer

Larutan buffer adalah larutan yang pHnya tidak berubah terhadap penambahan sedikit asam sedikit basa atau pengenceran. Semua cairan tubuh harus merupakan larutan buffer, agar pH selalu konstan saat metabolisme berlangsung. Ada dua jenis larutan buffer yaitu buffer asam dan buffer basa, komponen buffer asam adalah asam lemah dan basa konyugasinya, sedang buffer basa terdiri dari basa lemah dan konyugasinya. Campuran asam lemah berlebih dengan basa kuat dapat membentuk buffer asam dapat membentuk buffer basa. Sifat larutan buffer : (1) pH larutan tidak berubah jika diencerkan (2) pH larutan tidak berubah jika ditambahkan kedalamnya sedikit asam atau basa (www.dikmenum.go.id).

Larutan penyangga yang bersifat asam adalah sesuatu yang memiliki pH < 7. Larutan penyangga yang bersifat asam biasanya terbuat dari asam lemah dan garamnya garam natrium. Larutan penyangga yang bersifat basa memiliki pH diatas 7. Larutan yang bersifat basa biasanya terbuat dari basa lemah dan garamnya, seringkali digunakan sebagai contoh adalah campuran larutan amonia dan larutan ammoniumklorida.(http://free.vlsm.org/v12/sponsor/SponsoPendamping/Praweda/kimia/0188%20Kim%202-2d.htm).

NaOH

Natrium hidroksida (NaOH) merupakan basa kuat yang menerima proton dari Na+. Basa ini mengandung unsur dari golongan alkali, yakni Natrium (Na+). Ciri lain dari golongan alkali adalah reduktor kuat dan mampu mereduksi asam, mudah larut dalam air, merupakan penghantar arus listrik yang baik dan panas, urutan kereaktifannya meningkat seiring dengan bertambahnya berta atom. NaOH biasanya digunakan sebagai pelarut disebabkan kegunaan dan efektifitasnya sangat banyak antara lain untuk menetralkan asam. NaOH dihasilkan dari elektrolisis larutan NaCl dan merupakan basa kuat . NaOH sangat Reaktif dalam bereaksi dengan lautan asam, ekses yang melebihi keperluan netralisasi akan bereaksi dengan material fospatida. Natrium hidroksida (NaOH) merupakan basa kuat yang menerima proton dari Na+. Basa ini mengandung unsur dari golongan alkali, yakni Natrium (Na+). Cirri lain dari golongan alkali adalah reduktor kuat dan mampu mereduksi asam, mudah larut dalam air, merupakan penghantar arus listrik yang baik dan panas, urutan kereaktifannya meningkat seiring dengan bertambahnya berta atom (Linggih, 1988).

HCl

Asam klorida adalah larutan akuatik dari gas hidrogen klorida (HCl). Ia adalah asam kuat dan merupakan komponen utama dalam asam lambung. Senyawa ini juga digunakan secara luas dalam industry. Asam klorida harus ditangani dengan wewanti keselamatan yang tepat karena merupakan cairan yang sangat korosif (id. Wikipedia. Org).

MATERI DAN METODE

Materi

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah botol selai, kertas pH, pengaduk kaca, gelas ukur.

Bahan yang digunakan adalah cairan rumen, larutan HCl, larutan NaOH, larutan buffer fosfat.

Metode

  1. Sebanyak 50 ml cairan rumen dimasukkan ke dalam botol selai lalu diukur dan dicatat pH awalnya. Larutan HCl ditambahkan sebanyak 10 ml lalu diaduk hingga homogen dan diukur serta dicatat perubahan pH-nya. Penambahan HCl dilakukan berulang kali sampai pH-nya mendekati dengan pH HCl.
  2. Sebanyak 50 ml cairan rumen dimasukkan ke dalam botol selai, lalu diukur dan dicatat pH awalnya. Larutan NaOH ditambahkan sebanyak 10 ml lalu diaduk hingga homogen dan diukur serta dicatat perubahan pH-nya. Penambahan NaOH dilakukan berulang kali sampai pH-nya mendekati pH NaOH
  3. Sebanyak 50 ml buffer fosfat dimasukkan ke dalam botol selai, lalu diukur dan dicatat pH awalnya. Larutan HCl ditambahkan sebanyak 10 ml lalu diaduk hingga homogen dan diukur serta dicatat perubahan pH-nya. Penambahan HCl dilakukan berulang kali sampai pH-nya mendekati pH HCl.
  4. Sebanyak 50 ml buffer fosfat dimasukkan ke dalam botol selai, lalu diukur dan dicatat pH awalnya. Larutan NaOH ditambahkan sebanyak 10 ml lalu diaduk hingga homogen dan diukur serta dicatat perubahan pH-nya. Penambahan NaOH dilakukan berulang kali sampai pH-nya mendekati pH NaOH.
  5. Sebanyak 50 ml HCl dimasukkan ke dalam botol selai, lalu diukur dan dicatat pH awalnya. Larutan NaOH ditambahkan sebanyak 10 ml lalu diaduk hingga homogen dan diukur serta dicatat perubahan pH-nya. Penambahan NaOH dilakukan berulang kali sampai pH-nya mendekati pH NaOH.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

pH buffer pospat         : 7                                pH HCl           : 2

pH rumen                    : 2                                pH NaOH       : 11

No Penambahan HCl Perubahan pH
1 10 ml 7
2 20 ml 7
3 30 ml 7
4 40  ml 6
5 50 ml 6
6 60 ml 6
7 70 ml 5
8 80 ml 5
9 90 ml 5
10 100 ml 4
11 110 ml 4
12 120 ml 4
13 130 ml 3
14 140 ml 3
15 150 ml 3
16 160 ml 2
17 170 ml 2

Tabel 1. Penambahan HCl pada cairan rumen.

Tabel 2. Penambahan NaOH pada cairan rumen

No Penambahan NaOH Perubahan pH
1 10 ml 7
2 20 ml 8
3 30 ml 9
4 40 ml 10
5 50 ml 11
6 60 ml 11

Tabel 3. Penambahan HCl pada buffer pospat

No Penambahan HCl Perubahan pH
1 10 ml 6
2 20 ml 6
3 30 ml 6
4 40 ml 5
5 50 ml 5
6 60 ml 5
7 70 ml 4
8 80 ml 4
9 90 ml 3
10 100 ml 3
11 110 ml 3
12 120 ml 3
13 130 ml 2

Tabel 4. Penambahan NaOH pada larutan buffer pospat

No Penambahan NaOH Perubahan pH
1 10 ml 7
2 20 ml 8
3 30 ml 8
4 40 ml 8
5 50 ml 8
6 60 ml 9
7 70 ml 10
8 80 ml 11

Tabel 5. Titrasi HCl dengan NaOH

No Penambahan NaOH Perubahan pH
1 10 ml 1
2 20 ml 2
3 30 ml 2
4 40 ml 11

Pembahasan

Pengamatan dilakukan untuk membandingkan kekuatan menyangga pH dari cairan rumen dan buffer fosfat. pH cairan rumen sebesar 7 sedangkan pH buffer fosfat sebesar 7. Pada pengujiaan  pH cairan rumen yang ditambah HCl, dibutuhkan sekitar 170 ml HCl untuk merubah pH cairan rumen yang tadinya ber-pH 7 menjadi pH 2. Pengujian selanjutnya dilakukan dengan larutan basa berupa NaOH untuk mengetahui kemampuan mempertahankan pH cairan rumen terhadap larutan yang bersifat basa. Setidaknya dibutuhkan 60 ml NaOH untuk merubah pH cairan rumen dari 7 menjadi pH 11.

Pada pengujian buffer fosfat yang ditambah dengan HCl dibutuhkan sekitar 130 ml HCl untuk merubah pH dari 6 menjadi 2. Sedangkan pada penambahan NaOH pada buffer fosfat memerlukan 80 ml NaOH untuk merubah pH dari 7 menjadi 11. Pada titrasi HCl oleh NaOH memerlukan tambahan sebesar 40 ml NaOH untuk merubah pH dari 1 menjadi 11.

Dari data diatas terlihat bahwa kemampuan cairan rumen dalam mempertahankan pH terutama pH yang bersifat asam lebih kuat jika dibandingkan dengan kemampuan dari buffer fosfat. Larutan HCl kurang mempunyai kemampuan yang baik untuk dipakai sebagai larutan penyangga.

KESIMPULAN

Kemampuan cairan rumen sebagai buffer atau larutan penyangga yang membuat

kestabilan pH dalam tubuh ternak lebih kuat dibandingkan dengan buffer posfat.

DAFTAR PUSTAKA

Arora, S.P. 1989. Pencernaan Mikroba Pada Ruminansia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Church, D.C.1979.Digestive Physology and Nutrition of Ruminant. 2nd Edition. Oxford Press, Oregon.USA

Gohl, B.O.1981.Topical Feed, Food and Agriculture Organitation of The United Nation, Rome.

Linggih, S. R dan P. Wibowo. 1988. Ringkasan Kimia. Ganeca. Exact Bandung. ITB, Bandung.

Putnam, P.A.1991.Handbook of Animal Science.Academic Press, San Diego.

http://www.dikmenum.go.id (1 April 2010).

http://free.vlsm.org/v12/sponsor/SponsoPendamping (1 April 2010).

http://id. Wikipedia. Org (1 April 2010).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: