otot dan saraf

BAB II

SARAF DAN OTOT

2.1. Sistim Saraf

Sistem saraf bersama dengan sistem endokrin, mengurus sebagian besar pengaturan fungsi tubuh. Pada umumnya, sistem saraf ini mengatur aktivitas tubuh yang cepat, misalnya kontraksi otot, perubahan viseral yang berlangsung dengan cepat, dan bahkan juga kecepatan sekresi beberapa kelenjar endokrin.

Pembagian sistem saraf :

1.  Susunan Saraf Pusat (SSP):

a. Otak

b. Sumsum tulang belakang (punggung)

2.  Susunan Saraf Tepi (SST)

Otak

Otak merupakan organ tempat mengatur perintah yang dijalankan oleh sistem saraf. Otak terdiri dari :

  1. Serebrum dan diencephalon yang disebut dengan otak besar (forebrain)
  2. Midbrain, pons dan medula oblongata yang disebut dengan batang otak
  3. Serebelum yang disebut dengan otak kecil.

Adapun  otak besar terdiri dari :

    1. serebral hemisphere
    2. korteks (sistem motor)
    3. subkotikal nuklei: untuk pergerakan,tingkah laku dan tegaknya tubuh
    4. Thalamus
    5. Hypothalamus, yang fungsinya :

–          pengaturan kelenjar pituitaria depan

–          Mengatur keseimbangan air

–          Mengatur sistem saraf otonom

–          Mengatur tingkah laku makan dan minum

–          Mengatur sistem reproduksi

–          Mengatur tingkah laku

–          Menimbulkan dan mengatur circadian rhythmis

Batang otak (bagian medula oblongata) berfungsi sebagai :

–    Pusat kehidupan, mengatur kerja jantung dan pernafasan

Serebelum berfungsi sebagai :

–   Tegaknya tubuh dan pergerakan sedikit ingatan

Sumsum Tulang Punggung

Bagian berwarna abu-abu terdiri dari :

Interneron, badan sel dan denrit dari neron eferent, serabut neron dari neron

aferent dan sel glial

Bagian yang berwarna putih terdiri dari:

Myelin

Sistem Saraf Tepi

  1. Serabut Aferent
  2. Serabut Eferent
  1. Sistem saraf somatik
  2. Sistem saraf otonomik:

–          Saraf simpatik

–          Saraf parasimpatik

Perbedaan sisten saraf somatik dan otonomik :

Saraf somatik Saraf otonomik
Antara SSP dan efektor hanya satu neron Antara SSP dan efektor ada dua neron yang dipisahkan oleh sinaps
Mensarafi otot rangka Mensarafi otot polos dan jantung, kelenjar dan sistem pencernaan
Menyebabkan kontraksi otot Menyebabkan eksitasi daninhibitori sel efektor

Ada tiga kelas neron:

1. Neron aferent :

– menghantarkan informasi dari reseptor sensori ke SSP

– letaknya sebagian besar diluar SSP, hanya sedikit yang didalam SSP

– tidak memiliki denrit

2. Neron eferent :

– menghantaarkan informasi ke luar SSP menuju efektor (otot, kelenjar)

– letaknya sebagian besar diluar SSP, hanya sedikit yang didalam SSP

3. Interneron:

– Sebagian besar berada di dalam SSP

– jumlahnya 99% dari total neron seluruh tubuh

Neurotransmiter : merupakan zat kimia yang dikeluarkan oleh neron guna menyampaikan

informasi dari satu neron ke neron lain (alat komunikasi sel).

Bagian-bagian dari neron (saraf):

1.      Badan saraf:

Terdiri dari: inti sel, mitokondria, endoplasmik retikulum dan organel lain.

Daerah ini  bagian yang memberi makan saraf dan ada serabut-serabut saraf atau

dendrit yang  berfungsi sebagai area penerima pesan

2. Batang saraf:

Menghantarkan transmisi pesan (impuls) atau informasi dari badan saraf.

Batang   saraf dilapisi oleh pelapis yang disebut lapisan myelin  berbentuk

segmen, dengan jarak  antar segmen   2 mm yang disebut node of Ranvier.

Adanya lapisan myelin dan  nodes of Ranvier menyebabkan saraf dapat

menghantarkan impuls dengan cepat. Pada vertebrata myelin dilapisi lagi oleh sel

Schwan.

  1. Ujung saraf:

Melepaskan neurotransmiter yang dihasilkan oleh badan sel dan memberikan  pesan berikutnya kepada sel target, baik saraf lain maupun organ.

Kontrol aktifitas otonom.:

a.      Otak dan tulang belakang pada umumnya mengkontrol sistem saraf otonom.

Walaupun ketidaktergantungan dapat dikatakan  merupakan fungsi integratif dari

ganglionnya.

b.       Pada medula oblongata yang mengkontrol jantung, vasomotor dan kegiatan

pernafasan.

c.      Pusat refleks menerima impuls sensorik dari jeroan (viscera) pada saraf vagus

dan menggunakan jalur otonom untuk merangsang motor respon di otot dan

kelenjar.

d.     Demikian juga hipotalamus meregulasi temperatur, lapar, air dan keseimbangan

elektrolit melalui jalur saraf otonom.

Gambar 1.  Bagian-bagian saraf (neron)

Alur ganglion saraf otonom:

  1. Preganglion saraf simpatik maupun parasimpatik melepaskan asetil kholin.
  1. Postganglion saraf simpatik melepaskan norephinephrine atau noradrenalin, dan

sarafnya disebut adrenergik.

  1. Postganglion saraf parasimpatik melepaskan asetilkholin dan sarafnya disebut kholinergik.

Dalam banyak hal adrenergik dan kholinergik sifatnya antagonistik misalnya pada jantung adrenergik akan mempercepat detak jantung sedangkan kholinergik memperlambatnya. Tapi dalam banyak hal ada juga suatu organ didominasi oleh satu saraf otonom saja. Misalnya parasimpatis mendominasi stimulasi motilitas sistem percernaan. Adrenergik pada pembuluh darah akan mengatur lebar/sempitnya pembuluh darah.

Gambar 2. Arah perjalanan informasi dari reseptor ke otak

Gambar 3. Mekanisme refleks

Gambar 4. Transmisi sinaps

KONSTRUKSI UMUM SISTEM SARAF

Neron Sistem Saraf Pusat – ­Unit Fungsional Dasar

Sistem saraf pusat terdiri atas lebih dari 100 juta neron. Sinyal yang datang masuk melalui sinaps pada dendrit-dendrit neron atau badan sel untuk berbagai jenis neron, mungkin hanya terdapat beberapa ratus atau sampai 200.000 sambungan sinaptik dari serabut yang masuk. Sinyal yang keluar berjalan melalui jalur akson tunggal meninggalkan neron, tetapi akson ini memiliki banyak cabang yang berbeda ke bagian-bagian lain sistem saraf atau tubuh bagian perifer. Gambaran khusus dari. sebagian besar sinaps adalah bahwa dalam keadaan normal sinyal hanya berjalan ke arah depan kecuali dalam situasi tertentu.

Bagian sis­tem sensorik, yakni bagian somatik yang menghan­tarkan informasi sensorik dari reseptor di seluruh permukaan tubuh dan beberapa struktur dalam. Infor­masi ini akan masuk ke datam sistem saraf pusat me­lalui saraf-saraf perifer dan dihantarkan ke berbagai area sensorik pada (a) semua tingkat medula spinalis; (b) substansia retikuler dari medula, pons, dan mesen­sefalon; (c) serebelum; (d) talamus; dan (e) area somestetik dari korteks serebri. Namun di samping area sensorik primer ini, sinyal-sinyal terutama akan disiarkan dengan baik ke bagian sistem saraf lainnya.

Pembagian Motorik-Efektor

Peran yang paling penting dari sistem saraf adalah mengatur berbagai aktivitas tubuh. Hal ini dapat dicapai melalui pengaturan (1) kontraksi otot rangka seluruh tubuh, (2) kontraksi otot polos organ dalam, dan (3) sekresi kelenjar eksokrin dan endokrin di sebagian besar tubuh. Seluruh aktivitas ini disebut ,fungsi motorik sistem saraf, sedangkan otot dan ke­lenjar disebut efektor karena otot dan kelenjar ini me­laksanakan fungsinya sesuai dengan yang diperin­tahkan oleh sinyal sarafnya.

Sumbu motorik sis­tem saraf  dipakai untuk mengatur kontraksi otot rangka. Ada suatu sistem saraf lain yang berjalan se­jajar dengan sumbu di atas, yang dipakai untuk meng­atur otot polos, kelenjar, dan sistem dalam tubuh lainnya, yakni sistem saraf otonom. Tam­pak bahwa otot rangka itu dapat diatur dari banyak ketinggian sistem saraf pusat, termasuk (1) medula spinalis; (2) substansia retikuler dari medula, pons, dan mesensefalon; (3) ganglia basalis; (4) serebelum; dan (5) korteks motorik. Setiap daerah ini mempu­nyai peran yang khusus, bagian bawah terutama ber­hubungan dengan respons otomatik yang berlangsung segera dari tubuh terhadap rangsangan sensorik, dan daerah yang lebih tinggi bersama-sama dengan gerak­an yang disengaja diatur oleh proses ingatan dari serebrum.

Proses Informasi  Penyatuan Sistem Syaraf

Fungsi utama sistem saraf adalah mengolah infor­masi yang masuk melalui beberapa jalan sehingga timbul respon motorik yang cocok. Lebih dari 99 persen seluruh informasi sensorik itu dibuang oleh otak karena tidak berhubungan dan tidak penting. Sesudah informasi sensorik yang penting itu di­seleksi lalu akan disalurkan ke bagian motorik otak yang sesuai sehingga dapat timbul respons yang dii­nginkan. Penyaluran informasi ini disebut fungsi in­tegratif dari sistem saraf.

PERAN SINAPS DALAM PENGOLAHAN INFOR­MASI.

Sinaps merupakan titik penghubung satu ne­ron ke neron lainnya. Si­naps itu menentukan arah penyebaran sinyal saraf dalam sistem saraf. Sinyal yang bersifat mempermudah atau menghambat yang berasal dari daerah sistem saraf lain dapat juga mengatur penjalaran sinaps.

Fungsi Protein Reseptor

Pada sinaps, membran neron postsinaps mengan­dung banyak sekali protein reseptor. Reseptor-reseptor ini mempunyai dua komponen penting, yakni: (I) kom­ponen pengikat yang menonjol keluar dari membran masuk ke dalam celah sinaps. Di sini komponen akan berikatan dengan neurotransmiter yang berasal dari ujung presinaps dan (2) komponen ionofor yang melewati semua jalur melalui membran ke bagi­an dalarn neron postsinaps. Ionofor me­rupakan : (1) saluran ion yang memungkinkan berjalannya ion jenis khusus untuk melalui saluran atau (2) aktivator pemberi pesan kedua (second massenger) yang bukan berupa saluran ion me­lainkan penonjolan ke dalam sitoplasma sel dan mengaktivasi satu atau lebih bahan-bahan di bagian dalam neron postsinaps.

SALURAN ION.

Saluran ion di dalam membran neron postsinaps biasanya terdiri atas dua jenis: (1) saluran kation yang seringkali me­mungkinkan ion natrium, ion kalium atau ion kalsium lewat dan (2) saluran anion yang terutama memungkinkan ion klorida untuk lewat.

Saluran kation yang menghantarkan ion natrium dibatasi oleh muatan negatif. Saluran anion, untuk menyalurkan ion klorida berjalan masuk ke dalam saluran dan melaluinya  arah yang berla­wanan. Substansi transmiter yang mem­buka saluran natrium disebut sebagai transmiter ek­sitator. Substansi transmiter yang mem­buka saluran klorida disebut sebagai trans­miter inhibitor.

Reseptor Eksitasi dan Inhibisi Pada Membran Postsinaps

Berbagai mekanisme molekular dan membran di­gunakan oleh berbagai reseptor untuk menimbulkan eksitasi atau inhibisi seperti berikut ini:

Eksitasi

Saluran natrium yang terbuka memungkinkan pelepasan listrik bemuatan positif dalam jum­lah besar untuk mengalir ke bagian anterior dari sel postsinaps. Hal ini akan meningkatkan potensial membrane dalam arah positif menuju nilai ambang rangsang untuk menyebabkan ek­sitasi.

Inhibisi

Pembukaan saluran ion klorida melalui mole­kul reseptor. Hal ini memungkinkan ion klo­rida bermuatan negatif untuk berdifusi secara cepat dari bagian luar neuron postsinaps ke bagian dalam, dengan demikian membawa muat­an negatif ke dalam dan meningkatkan nega­tivitas di bagian dalam, yang bersifat inhibisi.

Substansi Kimia yang Berfungsi sebagai Transmiter Sinaptik

KlasI  :   Asetilkolin Kolin

KlasII : Amina, Norepinefrin, Epinefrin, Dopamine, Serotonin, Histamin

Klas III : Asam Amino, Asam γ-aminobutirat (GABA), Glisin, Glutamat

Aspartat

Klas IV: Oksida nitrat (NO)

Golongan  molekul kecil, yaitu neurotransmiter yang be­kerja cepat adalah salah satu yang menyebabkan se­bagian besar respons cepat dari sistem saraf, seperti penjalaran sinyal sensorik ke otak dan sinyal motorik kembali ke otot. Sebaliknya, neuropeptida biasanya menyebabkan kerja yang lebih lambat, seperti peru­bahan jangka panjang jumlah reseptor, pembukaan atau penutupan jangka panjang dari saluran ion ter­tentu,  bahkan perubahan jangka pan­jang jumlah sinaps atau ukuran sinaps.

Asetilkolin adalah transmiter molekul kecil yang khas yang mematuhi prinsip-prinsip sintesis dan pele­pasan sel seperti di atas. Substansi transmiter ini disin­tesis di ujung presinaptik dari koenzim asetil A dan kolin dengan adanya enzim kotin asetiltransferase. Ke­mudian substansi ini dibawa ke dalam gelembung spesifiknya. Ketika kemudian gelembung melepaskan asetilkolin ke dalam celah sinaptik, asetilkolin dengan cepat memecah kembali menjadi asetat dan kolin de­ngan bantuan enzim kolinesterase, yang berikatan de­ngan retikulum proteoglikan dan mengisi ruang celah sinaptik. Kemudian gelembung mengalami daur ulang, dan kolin juga secara aktif dibawa kembali ke dalam ujung sinaps untuk digunakan kembali bagi keperluan sintasis asetilkolin baru.

Asetilkolin disekresi oleh neron yang ter­dapat di sebagian besar daerah otak khusus­nya oleh sel-sel piramid besar korteks motorik, beberapa neuron dalam ganglia basalis,  neron motorik yang memginervasi otot-otot rangka,  neron preganglion sistem saraf otonom, oleh neron postganglion sistem saraf parasimpatik, dan oleh be­berapa neron postganglion sistem saraf simpatik. Pada sebagian besar contoh di atas, asetilkolin mem­punyai efek eksitasi namun, asetilkolin ini telah di­ketahui juga mempuuyai efek inhibisi pada beberapa ujung saraf parasimpatik perifer, misalnya inhibisi jantung oleh nervus vagus.

Norepinefrin disekresi oleh sebagian besar neron yang badan sel somanya terletak dalam batang otak dan hipotalamus. Secara khas, neron pe­nyekresi norepinefrin yang terletak di dalam lokus seruleus di dalam pons akan mengirimkan serabut-se­rabut saraf ke daerah yang luas di dalam otak dan akan membantu pengaturan seluruh aktivitas dan pe­rasaan, seperti peningkatan kewaspadaan. Pada seba­gian besar daerah ini, norepinefrin mungkin meng­aktivasi reseptor eksitasi, namun pada daerah yang lebih sempit malahan mengaktivasi reseptor inhibisi.

SISTEM LIMBIK

Kata limbik berarti perbatasan. Sistem lim­bik  artinya ke seluruh lintasan neronal yang mengatur tingkah laku emosional dan do­rongan motivasional.Bagian utama dari sistem limbik adalah hipo­talamus. Selain perannya dalam mengatur perilaku, area ini mengatur banyak kondisi internal dari tubuh, seperti suhu tubuh, osmolalitas cairan tubuh, dan dorongan. untuk makan dan minum serta mengatur berat badan. Fungsi internal ini secara bersama-sama disebut fung­si vegetatif otak, dan pengaturannya berkaitan erat dengan perilaku.

ANATOMI FUNGSlONAL SISTEM LIMlBIK, PERAN KUNCI HIPOTALAMUS

Banyak fungsi perilaku yang dicetuskan dari hipotalamus dan struktur-straktur limbik lainnya dijalarkan melalui nuklei retikular di batang otak. Seba­gian besar sinyal-sinyal yang dipakai untuk mengatur sistem saraf otonomik juga dijalarkan melalui nuklei yang terletak dalam batang otak. Jalur komunikasi yang penting antara sistem lim­bik dan batang otak adalah berkas otak depan bagian  medial (medial forebrain bundle), yang menyebar dari regio septal dan orbitofrontal kortikal ke bawah melalui bagian tengah hipotalamus ke formasi retikularis batang otak. Berkas ini membawa serat-serat dalam dua arah, membentuk garis batang sistem komunikasi (trunk-line communication system). Jalur komunikasi yang kedua adalah jarak pendek yang melewati formasi retikularis batang otak, talamus hipotalamus, dan sebagian besar area lainnya yang berhubungan dengan bagian basal otak.

HIPOTALAMUS, DAERAH PENGATUR UTAMA UNTUK SlSTEM LlMBIK

Hipotalamus mempunyai sistem komunikasi dua arah yang berhubungan dengan semua tingkat sistem yang telah dikenal, meliputi kenaikan tekanan arteri, penurunan tekanan arteri, peningkatan fre­kuensi denyut jantung, dan penurunan frekuensi denyut jantung. Pada umumnya, perangsangan ba­gian posterior dan lateral hipotalamus meningkatkan tekanan arteri dan frekuensi denyut jantung,  sedangkan perangsangan pada area preoptik sering menimbulkan efek yang berlawanan, sehingga menyebabkan penurunan frekuensi denyut jantung dan tekanan arteri. Efek ini disalurkan melalui pusat pengatur kardiovaskular di regio retikular dari medula dan pons.

PENGATURAN SUHU TUBUH.

Bagian anterior hipotalamus, khususnya area preoptik, berhubung­an dengan pengaturan suhu tubuh. Peningkatan suhu darah yang mengalir melewati area ini me­ningkatkan aktivitas neron-neron yang peka ter­hadap suhu, sedangkan penurunan suhu akan menu­runkan aktivitasnya.

PENGATURAN CAIRAN TUBUH.

Hipotalamus mengatur cairan tubuh melalui dua cara: (1) dengan mencetuskan sensasi haus, yang menyebabkan hewan minum air, dan (2) dengan mengatur ekskresi air ke dalam urin. Di hipotalamus bagian lateral terdapat area yang disebut pusat rasa haus. Bila elektrolit yangterdapat dalam neron di pusat ini atau di daerah yang berkaitan dengan hipo­talamus menjadi sangat pekat, maka hewan akan berkembang hasrat untuk minum air.

Pengaturan ekskresi air oleh ginjal terutama di­lakukan oleh nukleus supraoptikus. Bila cairan tu­buh menjadi sangat pekat, maka neron-neron dalam area ini menjadi terangsang. Serat-serat saraf yang berasal dari neron ini diproyeksikan ke bawah melalui infundibulum hipotalamus ke ke­lenjar hipofise posterior, di mana ujung-ujung saraf mensekresikan suatu hormon yang disebut hormon antidiuretik (disebut juga vasopresin). Selanjutnya hormon ini diabsorbsi ke dalam darah dan bekerja pada duktus koligentes ginjal guna menimbulkan re-absorpsi air, sehingga mengurangi jumlah air yang hilang ke dalam urin. .

PENGATURAN GASTROINTESTINAL DAN HASRAT MAKAN.

Perangsangan beberapa area pada hipotalamus menyebabkan hewan mengalami rasa lapar yang amat sangat, selera makan yang tak ada puas-puasnya, dan hasrat yang besar sekali untuk mencari makanan. Area yang paling berhubungan dengan rasa lapar adalah area hipo­talamik lateral. Sebaliknya, bila area ini rusak, maka hewan kehilangan nafsu makan, yang kadangkala menyebabkan kematian karena kelaparan (lethal starvation).

Pusat yang berlawanan dengan hasrat makan, disebut pusat rasa kenyang, terletak di nukleus ven­tromedial. Bila pusat ini dirangsang dengan listrik, maka hewan yang sedang makan, tiba-tiba meng­hentikan makannya dan benar-benar mengabaikan makanan tersebut. Sebaliknya, bila area ini dirusak secara bilateral, hewan tersebut tidak dapat ter­puaskan, malahan pusat rasa lapar yang terdapat di hipotalamus menjadi sangat aktif, sehingga hewan menjadi sangat rakus, dan menimbulkan kege­mukan yang hebat.

EFEK YANG DISEBABKAN OLEH LESI HIPOTA­LAMIK.

Pada umumnya, lesi pada hipotalamus akan menimbulkan efek yang berlawanan dengan yang di­timbulkan oleh perangsangan. Contohnya:

1.  Lesi bilateral pada hipotalamus lateral akan mengurangi hasrat minum dan nafsu makan hampir sampai hilang sama sekali, sehingga sering menimbulkan mati kelaparan. Lesi ini menimbulkan sikap pasif yang ekstrim pada hewan, disertai dengan hilangnya sebagian besar dorongan bertindak.

2. Lesi bilateral pada area ventromedial hipo­talamus menimbulkan efek yang terutama ber­lawanan dengan yang disebabkan oleh lesi hipotalamus lateral: menimhulkan hasrat mi­num dan nafsu makan yang berlebihan, disertai keadaan hiperaktif dan seringkali menjadi sa­ngat buas disertai keinginan menyerang.

SISTEM SARAF OTONOM  MEDULA ADRENAL

Bagian sistem saraf yang mengatur fungsi viseral tubuh disebut sistem saraf otonom. System ini mem­bantu mengatur tekanan arteri, motilitas dan sekresi gastrointestinal, pengosongan kandung kemih, berkeringat, suhu tubuh.

Salah satu sifat yang paling menonjol dalam sis­tem saraf otonom adalah kecepatan dan intensitasnya yang dapat mengubah fungsi viseral dalam waktu singkat. Contohnya, dalam waktu 3 sampai 5 detik saja sistem ini sudah dapat meningkatkan frekuensi denyut jantung sebesar dua kali dari normal, dan te­kanan arterinya dapat digandakan hanya dalam waktu 10 sampai 15 detik. Pada contoh ekstrim lain­nya, tekanan arteri hanya dalam waktu 4 sampai 5 detik dapat diturunkan sampai sebegitu rendahnya se­hingga penderita pingsan. Berkeringat dapat ditim­bulkan dalam waktu beberapa detik saja. dan secara tak disadari timbul pengosongan kandung kemih, yang juga terjadi dalam waktu beberapa detik. Peru­bahan yang sangat cepat ini dapat dicatat dengan alat poligraf detektor.

SUSUNAN UMUM SISTEM SARAF OTONOM

Sistem saraf otonom terutama diaktifkan oleh pu­sat-pusat yang terletak di medula spinalis,  batang otak, dan hipotalamus. Juga, bagian                serebri, khususnya korteks limbik, dapat menghantarkan im­puls ke pusat-pusat yang lebih rendah sehingga de­ngan demikian mempengaruhi pengaturan otonomik. Seringkali sistem saraf otonom juga bekerja sebagai refleks visera. Jadi sinyal-sinyal sensorik yang memasuki ganglia otonomik, medula, batang otak, atau hipotalamus dapat menimbulkan respons refleks yang sesuai untuk kembali langsung ke organ-organ viseral dan mengatur aktivitas organ-organ tersebut.

Penjalaran sinyal otonomik eferen ke seluruh tu­buh dapat dibagi dalam dua subdivisi utama yang di­sebut sistem saraf simpatis dan sistem saraf para­simpatis, yang sifat-sifat dan fungsinya dijelas­kan pada gambar 5.

Gambar 5.  Saraf Simpatis

Anatomi Fisiologik Sistem Saraf Simpatis

Dalam Gambar  tampak susunan umum dari bagian perifer sistem saraf simpatis, termasuk salah satu dari dua rantai simpatis paravertebral pada ganglia yang terletak di kedua sisi kolumna vertebra, dua ganglia prevertebral (seliak dan hipo­gastrik), dan saraf-saraf yang menyebar dari ganglia ke berbagai organ internal. Saraf simpatis dimulai dari medula spinalis antara segmen T-1 dan L-2, dan dari tempat ini mula-mula ke rantai simpatis, untuk selanjutnya ke jaringan dan organ yang me­rangsang oleh saraf-saraf simpatis.

Neuron-Neuron Preganglionik dan Postganglionik Simpatis

Saraf simpatis berbeda dengan saraf motorik skeletal dalam hal berikut: Setiap jaras simpatis dari medula ke jaringan yang terangsang terdiri atas dua neron, yakni neron preganglionik dari neron postganglionik, sebaliknya dengan jaras motorik skeletal  hanya memiliki satu neron. Badan sel setiap neron preganglionik terletak di kornu in­termediolateral medula spinalis dan serat-seratnya berjalan melewati radiks anterior medula menuju saraf spinal yang terkait. Segera setelah saraf spinal meninggalkan ka­nalis spinalis, serat preganglionik simpatisnya me­ninggalkan saraf itu dan berjalan melewati berkas putih ke salah satu ganglia dari rantai simpatis. Selanjutnya serat-serat ini dapat mengalami salah satu dari ketiga hal berikut: (1) Serat-serat dapat bersinaps dengan neron postganglionik yang ada di dalam ganglion yang dimasukinya. (2) Serat-­serat dapat berjalan ke atas atau ke bawah dalam rantai dan bersinaps pada salah satu ganglia lain dalam rantai tersebut. Atau (3) serat itu dapat ber­jalan melalui rantai ke berbagai arah selanjut­nya melalui salah satu saraf simpatis memisahkan diri keluar dari rantai, untuk akhirnya berakhir di salah satu ganglion  prevertebral.

Neuron postganglionik kemudian dapat berasal dari salah satu ganglia rantai simpatis atau dari salah satu ganglia prevertebral.Kedua sumber ini, serat-serat postganglionik berjalan ke berbagai organ tujuannya.

Anatomi Fisiologik Sistem Saraf Parasimpatis

Sistem saraf parasimpatis seperti yang tampak dalam gambar di bawah, memperlihatkan bahwa serat­-serat parasimpatis meninggalkan sistem saraf pusat melalui saraf kranial III, VII, IX, X; saraf sakral spi­nal kedua dan ketiga; dan kadangkala saraf sakral pertama dan keempat. Kira-kira 75 persen dari selu­ruh serat saraf parasimpatis terdapat da1am nervus vagus (saraf kranial X), berjalan ke seluruh  toraks dan abdomen tubuh. Oleh karena itu, yang terutama dianggap sebagai sistem saraf parasimpa­tis oleh para pakar fisiologi adalah kedua nervus va­gus. Nervus vagus menyediakan saraf parasimpatis ke jantung, paru-paru, esofagus, lambung, seluruh usus halus, setengah bagian proksimal kolon, hati, kandung empedu, pankreas, dan bagian atas ureter.

Saraf parasimpatis yang berada dalam saraf ke­tiga berjalan ke sfingter pupil dan otot siliaris mata. Saraf-saraf yang berasal dari saraf ketujuh berjalan ke kelenjar lakrimalis, nasalis, dan submandibu­laris, sedangkan saraf-saraf yang berasal dari saraf kesembilan berjalan ke kelenjar parotis.  Sarat parasimpatis sakral berkumpul di saraf pelvik, meninggalkan pleksus sakralis di se­tiap sisi medula pada segmen S-2 dan S-3 dan menyebarkan saraf perifernya ke kolon desen­den, rektum, kandung kemih, dan bagian bawah ureter. Kelompok serat parasimpatis sakral ini juga mensuplai sinyal-sinyal saraf ke genitalia eksterna untuk menimbulkan ereksi.

NEURON PREGANGLIONIK DAN POSTGANG­LIONIK PARASIMPATIS

Seperti halnya sistem sim­patis, maka sistem parasimpatis juga mempunyai neron preganglionik dan postganglionik. Namun pada beberapa saraf kranial parasimpatis, preganglionik tanpa mengalami hambatan berjalan menuju organ-organ yang diaturnya. Ke­mudian pada dinding organ terdapat neron postganglionik. Serat preganglionik bersinaps de­ngan neron postganglionik, dan  postgang­lionik yang pendek, berukuran panjang 1 milimeter sampai beberapa sentimeter, meninggalkan neron untuk menyebar ke organ. Letak neron postgang­lionik parasimpatis ini dalam organ viseral sendiri sangat berbeda dengan susunan ganglia simpatis, karena badan sel dari neron postganglionik sim­patis hampir selalu terletak dalam ganglia rantai simpatis atau daIam berbagai ganglia lainnya yang memang ada dalam abdomen daripada dalam organ yang dirangsang itu sendiri.

Gambar 6. Sistem saraf parasimpatis

SIFAT-SIFAT DASAR FUNGSI SIMPATIS DAN PARASIMPATIS

Serat saraf simpatis dan parasimpatis mensekresi­kan salah satu dari kedua bahan transmiter sinaps ini, asetilkolin atau norepinefrira. Serat-serat yang men­sekresi asetilkolin disebut serat kolinergik. Serat-serat yang mensekresi norepinefrin disebut serat adrener­gik, suata istilah yang bcrasal dari kata adrertalin, Di dalam sistem saraf simpatis dan parr.simpatis, semua neron preganglionik bersifat kolinergik. Oleh karena itu, bila bahan asetilkolin atau bahan seperti asetilkolin diberikan pada ganglia, maka akan me­rangsang neron pastganglionik simpatis dan para­simpatis. Semua atau hampir semua neron postganglionik dari sistem parasimpatis juga bersifat kolinergik. Sebaliknya, sebagian besar neuron postgang­lionik simpatis bersifat adrenergik, walaupun tidak seluruhnya demikian sebab serat-serat saraf post­ganglionik simpatis yang ke kelenjar keringat, ke otot-otot piloerektor, dan ke beberapa pembuluh darah bersifat kolinergik.

Jadi, ujung saraf terminal dari sistem parasimpatis semua atau hampir semua mensekresi ase­tilkolin, dan sebagian besar ujung saraf simpatis men­sekresi norepinefrin. Hormon-hormon ini, sebaliknya bekerja pada berbagai organ untuk menimbulkan efek simpatis dan parasimpatis yang sesuai. Oleh karena itu, asetilkolin disebut transmiter parasimpatis, dan norepinefrin disebut transmitersimpatis.

Pustaka :

Guyton , A.C. dan  J.E. Hall. 1997.  Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Ed. Ke 9,

diterjemahkan oleh I. Setiawan. Jakarta EGC

Mc Donald P., RA Edwards, JFD Greenhalgh, and C.A. Morgan. 2002. Animal

Nutrition. 6th Ed. Ashford Colour press Ltd., Gosport

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: