PBMT : Pendahuluan

BAB I

PENDAHULUAN

Ada banyak cara yang digunakan untuk menentukan kualitas bahan makanan ternak. Secara garis besar penentuan kualitas dapat dilakukan secara fisik, kimia dan biologis. Seorang ahli kimia dalam menetukan kualitas bahan makanan ternak akan mempertimbangkan kualitas pakan dari segi protein, lemak atau kandungan zat makanan lainnya. Lain halnya dengan ahli nutrisi, mereka selanjutnya akan memikirkan juga kualitas makanan secara biologis seperti nilai kecernaannya dan nilai biologis lainnya. Lebih luas lagi di industry makanan ternak, manajer industry pakan akan memikirkan hal lain seperti daya tahan bila dalam bentuk pellet dan stabilitas air apabila disimpan, sedangkan manajer peternakan lebih banyak mempertimbangkan pengaruhnya terhadap produksi dan pertumbuhan ternaknya.

Umumnya dalam penentuan bahan makanan ternak secara kimia masih menggunakan metode analisa proksimat (Weende) yang telah dikembangkan mulai 100 tahun lalu. Metode ini tetap merupakan dasar penetuan kualitas yang banyak digunakan di dunia peternakan. Bahan makanan dibagi dalam 6 fraksi terdiri dari kadar air, abu, protein kasar, lemak kasar, serat kasar dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (Beta-N). walaupun perkembangan teknologi  dalam analisa kima sudah sedemikian maju, namun analisa tersebut merupakan analisa kelanjutan atau perluasan dari analisa proksimat ini.

Beberapa hal yang menyebabkan analisa komposisi kimia perlu ditentukan seperti misalnya kadar air bahan makanan. Hal ini sangat berpengaruh untuk stabilitas penyimpanan disamping dari segi nilai gizinya. Apabila kadar airnya lebih tinggi daripada kadar air yang seharusnya untuk penyimpanan, maka bahan makanan itu akan mudah dicemari mikroba yang dapat menghasilkan racun (mycotoxin) sehingga dapat membahayakan baik untuk ternaknya sendiri ataupun untuk konsumen hasil produksi ternak tersebut.

Kadar protein kasar makanan yang dianalisa metode Kjeldhal, walaupun tidak terlalu berarti untuk manusia, akan tetapi masih sangat berguna untuk menentukan nilai protein bahan makanan yang dapat didegradasi pada hewan ruminansia. Dengan demikian cara ini masih merupakan metode yang penting untuk penentuan protein walaupun beberapa metode telah dikembangkan.

Penentuan serat dengan menggunakan metode serat deterjen asam Van Soest dalam beberapa hal lebih baik daripada penentuan serat kasar dengan metode weende. Perbedaan utama antara serat deterjen asam dan serat kasar adalah sebagian pentosan dari bahan ekstrak tanpa nitrogen (Beta-N) akan teranalisa sebagai serat asam. Serat deterjen asam dapat digunakan untuk mengasumsikan kecernaan bahan makanan dengan lebih tepat. Walaupun demikian keragaman sering terjadi karena nilai ini sangat tergantung pada derajat lignifikasi dari dinding sel yang menetukan kandungan ligninnya.

Akhir-akhir ini telah banyak digunakan mikroskop untuk pengawasan mutu bahan makanan ternak. Mikroskop dapat digunakan sebagai pelengkap analisa kimia dalam uji cepat untuk penentuan ada tidaknya pemalsuan bahan makanan ternak. Pengunaan mikroskop juga dapat memecahkan masalah untuk bahan yang mungkin sulit atau tidak mungkin dianalisa secara kimia. Hal lain yang juga penting adalah untuk mengetahui ada tidaknya kapang dan sporanya dapat diidentifikasi dengan menggunakan miksroskop.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: