sistem cardiovaskular (sistem peredaran darah)

Bab 3  SISTEM CARDIOVASCULAR

System ini terdiri dari cor (jantung), pembuluh darah yang membawa darah dari cor (arteri) dan pembuluh darah yang membawa darah ke cor (vena), serta pembuluh kapiler tempat terjadinya pertukaran nutrisi, oksigen, karbondioksida, produk sisa, hormon dan elemen selular antara aliran darah dan jaringan. Aliran darah dipertahankan oleh konstraksi jantung.

FUNGSI SISTEM CARDIOVASCULAR

Fungsi system cardiovasculare adalah untuk membawa darah ke jaringan dan organ yang memerlukannya. Beberapa organ seperti cor, susunan saraf pusat, retina mata, glandula endocrine dan ren memerlukan suplai darah yang banayk dan konstan. Organ lain seperti: otot volunter selama periode konstraksi aktif, canalis alimentarius selama pencernaan dan kulit ketika panas tubuh dikeluarkan, memerlukan suplai darah yang berbeda. Suplai darah ini dihasilkan dari control vasomotor saraf autonom dari arteriole dan dilatasi anyaman kapiler local. Bila semua anyaman kapiler dalam tubuh terbuka pada saat yang samar, individu akan mengalami pendarahan sampai akhirnya meninggal karena kosongnya system sirkulasi. Eritrosit berfungsi membawa oksigen dan karbondioksida, plasma darah dengan makanan, produk sisa dari pemecahan jaringan, hormone dan garam-garam mineral terutama yang diperlukan untuk membuat dan mempertahankan rangka tubuh. Leukosit berperan pada reaksi tubuh terhadap infeksi bakteri, yang dapat timbul berupa peradangan akut dan kronis, dan proses pemulihan jaringan. Setelah perdarahan yang hebat, sel-sel darah akan diganti oleh jaringan pembentuk darah dari lien (limpa) dan sumsum tulang.

COR

Cor terletak asimetris pada bagian sentral thorax, karena biasanya letaknya lebih ke sinister dari garis median. Mengandung kantung jaringan fibrosa yang disebut pericardium. Bagian luar pada tiap sisinya diselubungi oleh jaringan pleura dari cavum pleura. N. phrenicus pada tiap sisi, berjalan melalui thorax di anterior hilum pulmonalis sepanjang permukaan pericardium untuk mencapai diaphragma. Pericardium bergabung dengan permukaan pembuluh afferent dan efferent dari cor, dan terletak agak jauh dari daerah masuk atau keluarnya dari cor. Di kaudal, pericardium melekat erat dengan permukaan cranial diaphragma pada bagian sentral.

Margo dexter cor terletak berdekatan dengan margo dexter sternum, meluas dari cartilage costalis III sampai VI. Margo sinister cor terletak di depan spatium intercostales kedua, di dekat margo sinister sternum dan meluas ke kaudal serta ke sinister, sejauh spatium intercostales kelima sekitar 3 inci (7½ cm) dari tepi sternum (3½ inci dari garis median). Di sini, di superficial apex cordis, bunyi detak jantung dapat didengar dengan stetoskop.

Cor terdiri dari empat ruang: atrium sinister dan dexter yang menerima vena yang masuk ke cor, dan ventriculus sinister dan dexter, yang merupakan tempat asal a. pulmonalis dan aorta. Dinding atrium yang tipis dan terdiri dari otot hanya berfungsi untuk memompa darah ke ventriculus melalui ostium (orifisium) atrio-ventriculare. Tiap ostium atrio-vetriculare dilindungi oleh valva atrio-ventricularis, untuk mencegah agar darah tidak mengalir kembali ke atrium selama konstraksi ventriculus. Ostium atrio-ventriculare dexter mempunyai tiga cuspis utama dan kadang- kadang disebut sebagai valva tricuspidalis; sedangkan ostium atrio-ventriculare sinister mempunyai dua cuspis utama dan disebut sebagai valva mitralis.

Dinding ventriculus lebih tebal dari atrium. Ventriculus dexter berfungsi memompa aliran darah menuju pulmo; ventriculus sinister memompa darah ke bagian tubuh lainnya dan mempunyai otot paling banyakpada dinding-dindingnya. Ostium mengarahkan ventriculus ke a. pulmonalis dan aorta dilindungi oleh valva pulmonalis dan valva aortae. Tiap katup mempunyai cuspis yang berbentuk seperti kantung mencegah agar darah tidak mengalir kembali ke ventriculus pada akhir tahap konstraksi.

ATRIUM

Atrium dexter terletak pada sisi dexter cor dan berhubungan dengan sternum, cartilago costalis III sampai VI dari sisi sebelah dexter dan pulmo dexter. Mendapat suplai darah dari :

  • Vena cava superior yang masuk dari superior
  • Vena cava inferior yang masuk dari inferior
  • Sinus coronarius di mana berbagai vena mendrainase dinding cor, dari posterior

Ostium coronarius biasanya dilindungi oleh katup: valvula vena cava inferior yang kadang tidak dijumpai atau bersisa pada manusia dewasa. Pada bagian posterior dinding septum atrium dexter terdapat cekungan (fossa ovalis) yang terlihat berupa lubang kunci yang kecil. Ini adalah sisa dari foramen ovale yang pada masa kehidupan fetus memungkinkan sebagian besar darah yang masuk ke atrium dexter dialirkan ke atrium sinister, menuju pulmo yang sebelumnya tidak digunakan sebagai organ pernafasan sampai fetus dilahirkan. Aurícula atrium dexter adalah ruang atrium kecil yang terletak di ventral aorta. Bagian dalam atrium mempunyai beberapa otot (musculi pectinati) yang berakhir di belakang dalam bentuk crest-crista terminalis.

Pada awal perkembangan cor, vena masuk ke sinus venosus, yang berhubungan dengan true atrium chamber. Pada perkembangan selanjutnya sinus venosus akan bergabung dengan atrium dexter. Bagian atrium yang berasal dari sinus venosus akan terletak di belakang crista terminalis, berupa daerah yang halus dan tidak dilapisi otot pada bagian dalamnya.

Atrium sinister terletak di posterior cor, di balik origo a. pulmonalis dan aorta, serta di ventral oesophagus. Menerima suplai darah dari pulmo melalui vv. Pulmonales dan berjalan ke ventriculus sinister melalui ostium mitralis. Walaupun biasanya ada dua vv. pulmonales dari tiap bagian pulmo, jumlah vv. pulmonales bervariasi antara dua sampai empat, karena dinding posterior atrium sinister ikut terlibat selama perkembangan, dengan cara serupa seperti sinus venosus yang bergabung dengan atrium dexter, untuk membentuk dinding atrium. Auricula atrium sinister berhubungan erat dengan truacus pulmonalis. Atrium terpisah dari aorta dan truncus pulmonalis oleh sinus transversus pericardii.

VENTRICULUS

Ventriculus terpisah satu sama lain oleh septum yang berjalan oblig ke posterior dan ke dexter dari dinding anterior ke posterior dari cor. Akibatnya ventriculus dexter terletak lebih ke anterior daripada ventriculus sinister. Dalam masing-masing ventriculus terdapat alur dan sejumlah penonjolan otot (m. papillaris) berjalan sejumlah korda ramping seperti tendon (chordae tendineae) yang mendapat pelekatan pada permukaan ventriculus dari valva atrio-ventricularis. Chordae tendineae menghalangi valva bergerak ke atrium selama konstraksi ventriculus. Bagian tiap ventriculus di dekat ostium trunci pulmonalis atau aorta, halus dan tidak menunjukan adanya penonjolan otot.

Tiap katup terdiri dari inti atau jaringan ikat yang tertutup oleh endotel, yang mengelilingi jantung dan berhubungan dengan batas endotel pembuluh darah aferen dan eferen serta dengan sistem vascular.

BENTUK COR

Bentuk umum dari cor manusia adalah berupa konus tumpul :

  1. Basis cordis dibentuk oleh atrium dexter dan sinister yang menghadap ke posterior dan sedikit ke kranial serta berlawanan dengan vertebrae thoracicae V sampai VIII, di sebelah anterior oesophagus dan aorta descendens serta terpisah darinya oleh pericardium. Bagian dari cavum pericardium disebut sebagai sinus obliquus pericardii.
  2. Apex cordis mengarah ke anterior, ke posterior dan ke sinister, terletak pada spatium intercostalis V sisi sinister, sekitar 3½ inci (9 cm) dari garis median.
  3. Facies sternocostalis atau anterior menghadap ke anterior, ke kranial dan ke sinister. Terletak di balik sternum dan cartilago costalis III sampai VI pada tiap sisi, tetapi terutama pada sisi sinister. Sebagian dibentuk oleh atrium dan ventriculus dexter, dan sebagian kecil ventriculus sinister. Antara atrium dan ventriculus dexter terletak sebagian sulcus coronarius (atrioventricular) yang mengandung batang utama a. coronaria dexter. Facies sternocostalis ditutupi oleh pleura dan pulmo, yang dipisahkan oleh pericardium.
  4. Facies diaphragmatica atau inferior hampir horisontal posisinya dan terletak di atas centrum tendineum dari diaphragma. Terbentuk dari dinding ventriculus sinister dan dexter yang dipisahkan oleh sulcus interventricularis posterior.
  5. Margo/ Facies dexter berkontak dengan permukaan mediastinum dan pulmo dexter dan dipisahkan oleh pericardium. Terdiri dari dinding atrium dexter.
  6. Margo/ Facies sinister (kadang-kadang disebut sebagai margo obtusus) berkontak dengan pulmo sinister dan pleura, yang dipisahkan oleh pericardium. Terdiri dari dinding ventriculus sinister.

Hubungan ruangan cor terhadap permukaan adalah :

  1. Atrium dexter membentuk facies dexter, bagian dari facies sternocostalis, dan sebagian kecil dari basis cordis.
  2. Atrium sinister membentuk sebagian besar basis cordis.
  3. Ventriculus dexter membentuk sebagian besar facies intercostalis dan sebagian facies diaphragmatica.
  4. Ventriculus sinister membentuk sebagian kecil facies intercostalis seluruh permukaan kiri dan sebagian kecil dari facies diaphragmatica.

STRUKTUR COR

Cor terbentuk dari tiga lapisan jeringan :

  • Epicardium

Suatu selaput serosa eksternal yang terefleksi pada daerah orifisium pembuluh darah besar dari permukaan dalam pericardium. Jumlah dan distribusi lemak subepicardial bervariasi dari individu satu ke yang lain. Dan meningkatkan seiring dengan bertambahnya usia.

  • Myocardium

Membentuk sebagian besar dinding cor, terutama pada ventriculum. Terdiri dari otot jantung. Pada atrium, otot jantung tersusun atas lapisan superfisisal dan profundal. Lapisan superfisial terdapat pada kedua atrium; lapisan profundal terpisah untuk masing-masing dinding atrium. Pada ventriculus, lapisan superfisial dan profundal membentuk sistem spiral kompleks. Sebagian besar septum interventriculare adalah otot tetapi bagian atasnya terdiri dari jeringan kyat (pars membranacea septi). Otot jantung melekat pada ’rangka jantung’. Membentuk empat cincin jaringan ikat yang terletak di sekitar ostium atrioventriculare dan arteri serta septum jaringan fibrosa yang membentuk bagian membran dari septum interventriculare. Berbeda dengan endotel, otot jantung tidak berhubungan dengan pembuluh besar dan mempunyai struktur histologis yang berbeda dari otot polos pembuluh darah, membentuk syncytium percabangan dari musculus striatus. Walaupun otot dari atrium dan ventriculus juga terpisah satu sama lain pada cincin fibrosa atrioventricularis, otot dihubungkan secara fungsional oleh bundel His atrioventricularis yang terdiri dari otot jantung yang termodifikasi (serabut purkinje), dan yang mengkonduksi impuls saraaf yang mengkoordinasi konstraksi ventrikel. Impuls ini dimulai pada nodus atrioventricularis yang terletak pada bagian bawah septum interarteriae, tepat di kranial ostium sinus coranarii. Konstraksi atrium dimulai pada nodus sinoatrialis yang terletak di bagian kranial atrium dexter di dekat ostium vena cava superior.

  • Endocardium

Terbentuk dari sel-sel endotel dengan permukaan yang halus dalam bentuk epitel skuamosa dari atrium dan ventriculus berhubungan dengan endotel dari pembuluh besar yang keluar dan masuk ke cor, serta didukung oleh selapis tipis jaringan ikat kecil.

PEMBULUH DARAH JANTUNG

A. coronaria dexter keluar dari aorta di kranial cuspis anterior valva atrioventricularis sinister dan berjalan antara a. pulmonalis dan auricula atrial dexter. Berjalan ke kaudal dan ke dexter pada sulcus coronarius di sekitar tepi dexter cor ke permukaan posterior (basis), dan berakhir dengan berjalan pada sulcus interventricularis posterior. Cabang-cabang utamanya adalah :

  1. Satu atau dua cabang yang berjalan pada facies sternocostalis ventriculus dexter dan cabang besar yang berjalan sepanjang tepi inferior antara facies sternocostalis dan diaphragmatica.
  2. Cabang kecil ke dinding atrium dexter
  3. Cabang kecil ke a. pulmonalis dan aorta

A. coronaria sinister, biasanya lebih besar daripada yang dexter, keluar dari aorta di kranial cuspis posterior sinister. Terlihat pada permukaan anterior antara a. pulmonalis dan auricula atrial sinister dan mengeluarkan cabang besar ke sulcus interventricularis anterior. Berlanjut ke posterior cor pada sulcus coronarius. Cabang-cabangnya adalah :

  1. Sejumlah cabang yang berjalan pada permukaan ventriculus sinister dan dexter, berasal dari pembuluh utama dan ramus interventricularis anterior yang besar.
  2. Cabang kecil ke dinding atrium sinister. Pada beberapa kasus, a. coronaria sinister mencapai sulcus interventricularis posterior dan mengeluarkan rami interventricularis posterior menuju arteri dexter.

A. coronaria dexter memperdarahi keseluruhan ventriculus dexter kecuali dinding anterior sepertiga sinister. Biasanya juga memperdarahi bagian posterior septum interventriculare dan bagian dari dinding posterior ventriculus sinister, separuh septum anterior dan sebagian dinding anterior ventriculus dexter. Ada variasi individual pada luas anastomosis antara cabang a. coronaria.

VENAE CORDIS

V. coronaria dimulai pada daerah di mana v. interventricularis ascendens masuk ke sulcus interventricularis anterior. Vena ini berjalan ke sinister melalui sinus coronarius dan kemudian antara basis cordis dan facies diaphragmatica untuk berakhir di dekat margo dexter dan masuk ke atrium dexter. Menerima cabang dari dinding atrium dan ventriculus. Cabang terpanjang adalah dari permukaan sinister jantung (ramus marginalis sinister) dan dari sulcus interventricularis anterior dan posterior.

Selain bergabung dengan sinus coronarius, sejumlah vena berukuran sedang (v. cardiaca parva) dari permukaan anterior atrium dexter dan ramus marginalis dexter bermuara ke atrium dexter. Sejumlah vena kecil (vv. Cardiacae minimae) juga bermuara ke atrium sinister dan dexter.

PERICARDIUM

Pericardium adalah kantong fibrosa; yang mengelilingi cor dan radix pembuluh besar dan mempunyai garis luar yang berhubungan dengan cor.

  • Pericardium fibrosum terletak pada centrum tendineum diaphragma dan bergabung dengannya; di kranial dan di dorsal, berhubungan dengan tunica adventicia dari pembuluh besar yang masuk dan keluar dari cor. Pericardium fibrosum dikelilingi oleh pericardium serosum yang mempunyai dua lapisan :
    1. Lapisan luar atau lamina parietalis melekat ke pericardium fibrosum.
    2. Lapisan dalam atau lamina visceralis terletak dibalik cor dan membentuk epicardium.
  • Pericardium serosum adalah kantung tertutup membentuk cavum pericardium yang terletak diantara lapisan-lapisannya adalah rongga kapiler yang mengandung sejumlah kecil cairan serosa yang berfungsi sebagai pelumas antara permukaan yang berlawanan dari kantung selama gerak jantung.

PEMBULUH BESAR THORAX

AORTA

Bermuda pada ostium aorta di profundal sternum setinggi spatium intercostales II. Aorta berjalan ke kranial sekitar 4 cm (pars ascendens) dan kemudian melengkung ke dorsal dan ke sinister (arcus aorta) untuk mencapai sisi sinister columna vertebralis tepat di sisi sinister oesophagus. Dari posisi ini, aorta menuju kaudal melalui cavum thorax dan berjalan keluar melalui hiatus aorticus  pada diaphragma. Ketika berjalan ke kaudal, aorta membelok ke garis median dan terletak di dorsal bagian terminal oesophagus pada bagian kaudal cavum thorax.

Cabang-cabang aorta thoracica

Cabang-cabang berikut ini merupakan cabang dari aorta thoracica :

  1. Dua a. coronaria. Cabang dari aorta ascendens.
  2. Truncus brachiocephalica dexter, a. carotis communis sinister dan a. subelavia sinister. Kesemuanya adalah cabang arcus aorta. Truncus brachicephalica dexter, setelah dipercabangkan oleh arcus aorta, akan bercabang menjadi a. subelavia dexter dan a. carotis communis dexter.
  3. Cabang aorta descendens adalah :
    1. Sembilan pasang a. intercostales ke bagian kaudal spatium intercostales kedua dan sepasang a. subcostalis yang berjalan di profunda costa terakhir. Kedua spatium intercostales pertama ini diperdarahi oleh truncus costocervicalis dari a. subelavia.
    2. Dua atau lebih rami bronchiales ke pulmo.
    3. Empat atau lima rami oesophageales ke oesophagus.
    4. Cabang kecil ke lymphonodus dari bagian posterior mediastinum.
    5. Cabang kecil ke pericardium.
    6. Cabang ke facies superior diaphragma (a. phrenica superior).

A. intercostales berjalan di antara costa dan memperdarahi mm. intercostales serta batas pleura parietalis dan pleura visceralis pada cavum pleura. Di anterior, bergabung dengan arteri yang berjalan vertikal di tepi sternum, profundal cartilago costales. Arteri ini adalah a. thoracica interna atau mammaria interna, cabang a. subclavia dan disebut demikian karena bercabang ketika berjalan melalui spatium intercostales untuk memperdarahi glandula mammae.

A. intercostales yang berasal dari aorta descendens pada perjalanannya disertai dengan vena dan saraf intercostales. Vena intercostales bermuara ke vena cava superior melalui v. azygos. Karena aorta thoracica terletak di sinister garis median selama perjalanannya, sebagian besar a. intercostales dexter akan melewati columna vertebralis dan karena itu akan lebih panjang daripada a. intercostales sinister.

TRUNCUS PULMONALIS

Truncus pulmonalis berlanjut dari ventriculus dexter pada ketinggian sedikit lebih tinggi dan pada mulanya di anterior aorta. Kemudian, segera berjalan ke sisi sinister aorta ascendens di inferior arcus aorta dan terpisah menjadi cabang terminal sinister dan dexter, a. pulmonalis.

A. pulmonalis dexter berjalan di posterior aorta ascendens dan vena cava superior untuk mencapai hilum pulmonalis dexter. A. pulmonalis sinister berjalan di anterior aorta thoracica descendens untuk mencapai hillum pulmonalis sinister. Berhubungan dengan arcus aorta melalui ligamentum arteriosus.

Sumbatan truncus pulmonalis yang mendadak oleh timbunan zat-zat tertentu (embolus) dapat berasal dario vena bagian dalam kaki setelah operasi atau immobilisasi. Bila sumbatan menyeluruh, kematian terjadi dengan cepat; tetapi kadang-kadang kondisi ini berjalan lebih lambat dan operasi untuk membuang sumbatan dapat dilakukan melalui insisi vertikal di dinding pembuluh yang tersumbat.

VENA CAVA SUPERIOR

Vena cava superior menerima darah dari separuh atas tubuh dan dimulai dari profundal cartilago costa I pada sisi dexter di dekat sternum, melalui penggabungan v. brachiocephalica dexter dan sinister. V. brachiocephalica sinister lebih besar daripada dexter dan berjalan di profundal manubrium sterni, di anterior arcus aorta dan mempunyai tiga cabang besar (v. brachiocephalica, carotis communis sinister dan subelavia sinister). Vena cava superior berjalan vertikal menurun 5 cm di profundal tepi dexter sternum dan di anterior hilum pulmonalis dexter. Bagian kaudal pembuluh terletak di bagian dalam pericardium dan berakhir pada bagian kranial atrium dexter, berlawanan dengan tepi superior cartilago costales III dexter. N. phrenicus dexter berjalan pada sisi dexter, Turín melalui bagian kranial thorax. Pada sisi sinister terdapat pangkal truncus brachiocephalica dan aorta ascendens berjalan superfisial dari arteri tersebut. Pada ujung kranial hilum pulmonalis, vena cava menerima v. azygos yang melengkung melewati bagian superior hilum pulmonalis ketika vena berjalan dari dorsal mediastinum untuk bermuara pada vena cava.

VENA CAVA INFERIOR

Vena cava inferior menembus diaphragma (setinggi vertebrae thoracicae VIII) sedikit ke dexter dari garis median dan hampir akan masuk ke pericardium dan basis atrium dexter.

VENA PULMONALIS

Meninggalkan hilum pulmonalis dan membawa darah teroksigenasi ke atrium sinister.

v  Sistem sirkulasi terdiri dari dua macam, yaitu sirkulasi sistemik dan sirkulasi pulmonal. Sirkulasi sistemik adalah darah mengalir dari atrium sinister masuk ke ventrikel sinister, dan kemudian melalui aorta masuk jalinan kapiler organ-organ; dari mana ia mengalir kembali melalui v. cava masuk ke atrium dexter. Sirkulasi pulmonal ahíla darah mengalir dari atrium dexter masuk ke ventrikel dexter dan kemudian melalui arteri pulmonalis masuk ke jalinan kapiler paru-paru; dari mana ia mengalir kembali melalui v. pulmonalis masuk ke atrium sinister.

a). Darah

Menurut Guyton, (1991) darah terdiri dari tiga komponen utama yaitu sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (lekosit) dan plasma darah. Secara umum darah berfungsi sebagai pembawa nutrien, oksigen dan karbondioksida, sebagai penghatar (meratakan) panas tubuh, sebagai membentuk antibodi dan mendistribusikan hormon yang diperlukan oleh bagian tubuh. Jumlah volume darah berkisar 8% dari total bobot tubuh dan 55 % berupa plasma darah.  Sel darah baik eritrosit, lekosit dan plasma darah secara umum dibentuk di sumsum tulang belakang dengan lama masa aktif yang berbeda-beda.

b). Sel Darah Merah

Fungsi utama sel darah merah adalah untuk mentransport hemoglobin, yang selanjutnya membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan. Pada beberapa binatang tingkat rendah, hemoglobin beredar sebagai protein bebas dalam plasma, tidak terbatas dalam sel darah merah. Oleh karena itu, bila hemoglobin terdapat bebas dalam plasma manusia, kira-kira 3% hemoglobin akan menerobos melalui membran kapiler masuk ke dalam ruang jaringan atau melalui membran glomerulus ginjal, masuk ke dalam kapsula Bowman setiap kali darah melalui kapiler. Oleh karena itu, agar hemoglobin tetap berada dalam aliran darah, ia harus tetap berada dalam sel darah merah.

Sel darah merah mempunyai fungsi lain disamping mentransport hemoglobin. Misalnya, mereka mengandung anhindrase karbonat dalam jumlah besar yang mengkatalisis reaksi antara karbondioksida dan air, meningkatkan kecepatan reaksi sekitar 250 kali. Cepatnya reaksi ini memungkinkan darah bereaksi dengan sejumlah besar karbondioksida dan mentransportnya dari jaringan ke paru-paru. Hemoglobin dalam sel juga merupakan dapur asam-basa yang baik (seperti sebagian besar protein), sehingga sel darah merah bertanggung jawab kira-kira 70% dari semua daya dapar seluruh darah.

c). Pembentukan Hemoglobin

Sintetis hemoglobin mulai dalam eritroblast dan terus berlangsung sampai tingkat normoblast. Meskipun sel darah merah mudah meninggalkan sumsum tulang dan masuk ke dalam aliran darah, mereka terus membentuk hemoglobin dalam jumlah kecil selama hari-hari berikutnya.

Gambar 5-5 memberi langkah-langkah kimia dasar pembentukan hemoglobin. Dari penyelidikan dengan isotop diketahui bahwa bagian dalam hem dari hemoglobin terutama disintesis dari asam asetat dan glisin, dan sebagian besar sintesis ini terjadi dalam mitokondria. Diduga bahwa asam asetat diubah dalam siklus krebs, menjadi asam alfa-ketoglutarat, dan kemudian dua molekul asam alfa-ketoglutarat berikatan dengan satu molekul glisin membentuk senyawa pirol. Selanjutnya, empat senyawa pirol bersatu membentuk senyawa protoporfirin. Salah satu senyawa protoporfirin, dikenal sebagai protoporfirin III, kemudian berikatan dengan besi membentuk molekol hem. Akhirnya empat molekul hem berikatan dengan satu molekul globin, suatu globulin yang disintesis dalam ribosom retikulum endoplasma, membentuk hemoglobin. Hemoglobin mempunyai berat molekul 60.000.

d). Leukosit

Leukosit adalah unit mobil dari sistem pertahanan tubuh. Mereka dibentuk sebagian dalam sumsum tulang (granulosit dan monosit, dan beberapa limfosit), dan sebagian dalam jaringan limfe (limfosit dan sel plasma) tetapi setelah pembentukan, mereka ditransport dalam darah ke berbagai bagian tubuh di mana mereka digunakan. Manfaat sebenarnya dari sel darah putih yaitu sebagian besar mereka secara khusus ditransport ke daerah-daerah peradangan yang berbahaya, dengan cara demikian memberikan pertahanan yang cepat dan poten terhadap setiap agent infeksi yang mungkin terdapat.

  • Eosinofil

Dalam keadaan normal eosinofil merupakan 1 -3% semua leukosit. Eosinofil adalah fagosit yang lemah, dan mereka menunjukan kemotaksis, tetapi dibandingkan dengan neutrofil, diduga bahwa eosinofil secara bermakna penting untuk melindungi terhadap infeksi umum.

Eosinofil masuk ke dalam darah dalam jumlah besar setelah infeksi benda asing. Selanjutnya, eosinofil banyak terdapat daalm mukosa saluran pencernaan dan dalam jaringan paru, di mana protein asing dalam keadaan normal masuk dalam tubuh. Diduga bahwa fungsi eosinofil adalah detosikasi protein sebelum mereka dapat menyebabkan kerusakan dalam tubuh. Eosinofil juga bermigrasi dalam bekuan darah di mana mungkin mereka mengeluarkan zat profibrinolisin. Zat ini kemudian diaktifkan menjadi fibrinolisin yang merupakan enzim yang mencerna fibrin. Oleh karena itu, eosinofil mungkin penting untuk pelarutan bekuan yang tua.

Jumlah total eosinofil sangat meningkat dalam sirkulasi darah selama reaksi alergi, dan eosinofil berkumpul sekitar reaksi antigen-antibodi dalam jaringan. Kemungkinan bahwa reaksi-reaksi alergi mengeluarkan zat dari jaringan yang selanjutnya menyebabkan jumlah eosinofil adalah jaringan dan sirkulasi darah meningkat. Juga diduga bahwa kompleks antigen-antibodi setelah proses imun melakukan fungsi ini.

Mungkin penyebab tersering jumlah eosinofil yang sangat meningkat dalam darah adalah infeksi parasit. Pada keadaan yang dinamakan trichinosis, yang merupakan akibat dari invasi otot oleh parasit trichinella (cacing babi) setelah makan daging babi yang tidak dimasak, persentase eosinofil dalam sirkulasi darah dapat meningkat mencapai 25-50% dari semua leukosit. Cara dimana infeksi parasit menyebabkan peningkatan eosinofil juga tidak diketahui, walaupun fungsi eosinofil adalah untuk detoksikasi protein, mungkin bahwa parasit secara terus menerus mengeluarkan protein yang harus didetoksikasi.

  • Basofil

Basofil dalam sirkulasi darah sangat mirip dengan mast cells besar yang terletak tepat diluar kapiler tubuh. Sel ini mengeluarkan heparin ke dalam darah, suatu zat yang dapat mencegah koagulasi darah dan juga dapat mempercepat pembuangan partikel lemak dari darah setelah makan lemak. Oleh karena itu, mungkin bahwa basofil dalam sirkulasi darah melakukan fungsi-fungsi yang sama dalam aliran darah, atau malahan mungkin bahwa darah dapat dengan mudah mentransport ke jaringan dimana mereka kemudian menjadi mast cell dan melakukan fungsi pengeluaran heparin.

Jumlah total basofil dalam darah biasanya sangat sedikit, berkisar dari empat sel untuk setiap 1000 leukosit. Jumlah ini meningkat selama fase penyembuhan peradangan, dan juga meningkat sedikit selama peradangan kronik. Telah diketahui dengan baik bahwa peradangan yang berkepanjangan menyebabkan kecenderungan sel-sel darah merah melekat satu sama lainnya. Oleh karena itu, mungkin bahwa peningkatan basofil dalam darah dan dalam jaringan dapat berarti bahwa dengan dikeluarkannya heparin proses koagulasi darah dihambat, untuk melawan kecenderungan perlekatan sel.

  • Limfositosis

Hingga saat ini, dianggap bahwa limfosit merupakan sekelompok sel yang homogen, yang dibedakan antara apa yang dinamakan limfosit besar dan limfosit kecil. Akan tetapi, sekarang diketahui bahwa sel yang dinamakan limfosit terdiri dari berbagai jenis sel. Pada hakekatnya semua sel tersebut mempunyai sifat pewarnaan yang sama. Beberapa dari sel tersebut, mungkin yang terutama dihasilkan dalam sumsum tulang, tampaknya merupakan sel yang multipotensial yang sama dengan stem sel dari mana dapat dibentuk hampir setiap jenis sel lainnya. Sel-sel multipotensial ini, dalam keadaan tertentu mungkin dapat diubah menjadi eritroblast, mioblast, dan sebagainya. Akan tetapi, sebagian besar limfosit memegang peranan khusus dalam proses kekebalan.

e). Sistem imun

Imunitas adalah resistensi terhadap penyakit terutama penyakit infeksi. Gabungan sel, molekul dan jaringan yang berperan dalam resistensi terhadap infeksi disebut sistem imun. Reaksi yang dikoordinasi sel-sel, molekul-molekul terhadap mikroba dan bahan lainnya disebut respons imun. Sistem imun diperlukan tubuh untuk mempertahankan keutuhannya terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup (Baratawidjaja, 2006).

Senyawa saponin dapat meningkatkan respon kebal. Pemberian ketika memberikan saponin dari Quillaja kepada anak babi terjadi peningkatan immunoglobulin (Turner et al., 2002; Isley et al., 2005). Penelitian pengaruh saponin terhadap respon kebal  masih sangat terbatas dan perlu dilakukan karena banyaknya kasus ternak mati atau menderita sakit karena parasit, bakteri, virus dan lain-lain. Sifat saponin yang mengikat kolesterol dan menurunkan tegangan permukaan, kemungkinan berpengaruh pada metabolisme lemak di dalam tubuh. Pengaruh saponin dalam menurunkan kadar kolesterol dilaporkan lebih banyak pada hewan monogastrik dibanding ternak ruminansia. Publikasi terakhir melaporkan bahwa saponin dari teh dapat menurunkan kadar kolesterol darah pada kambing Boer (Hu et al., 2006).  Oleh sebab itu penelitian ini bermaksud untuk menganalisis profil darah yang berhubungan dengan metabolisme lemak untuk mengetahui pengaruh lerak terhadap kadar kolesterol. Diharapkan pengaruh lerak dapat menurunkan kolesterol sehingga diperoleh daging yang rendah kolesterol

Gambar 1.  Gambaran   Sistem Imun

SISTEM IMUN SPESIFIK

Berbeda dengan sistem imun non spesifik, sistem imun spesifik mempunyai kemampuan untuk mengenal benda yang dianggap asing bagi dirinya. Benda asing yang pertama kali muncul dalam badan segera dikenal oleh sistem imun spesifik sehingga terjadi sensitasi sel-sel sistem imun tersebut. Benda asing yang sama, bila terpapar ulang akan dikenal lebih cepat, kemudian dihancurkan. Oleh karena sistem tersebut hanya dapat menyingkirkan benda asing yang sudah dikenal sebelumnya, maka sistem itu disebut spesifik. Untuk menghancurkan benda asing yang berbahaya bagi tubuh, sistem imun spesifik dapat bekerja tanpa bantuan sistem imun nonspesifik. Pada umumnya terjalin kerjasam yang baik antara antibodi-komplemen-fagosit dan antara sel T-makrofag.

Pada imunitas humoral, sel B melepas antibodi untuk menyingkirkan mikroba ekstraselular. Pada imunitas selular, sel T akan mengaktifkan makrofag untuk menghancurkan mikroba atau mengaktifkan sel Tc untuk memusnahkan sel terinfeksi.

A. Sistem imun spesifik humoral

Pemeran utama dalam sistem imun spesifik humoral adalah limfosit B atau sel B. Humor berarti cairan tubuh. Sel B berasal dari sel asal multipoten di sumsum tulang. Pada unggas, sel yang disebut Bursal cell atau sel B akan bermigrasi dan berdiferensiasi menjadi sel B yang matang dalam alat yang disebut Bursa Fabricius yang terletak dekat kloaka. Pada mamalia diferensiasi tersebut terjadi dalam sumsum tulang. Bila sel B dirangsang oleh benda asing, sel tersebut akan berproliferasi, berdiferensiasi dan berkembang menjadi sel plasma yang memproduksi antibodi. Antibodi yang dilepas dapat ditemukan dalam serum dalam bentuk fraksi gama globulin, yang lebih dikenal sebagai immunoglobulin (Ganong, 1977). Fungsi utama antibodi ini ialah pertahanan terhadap infeksi ekstraselular, virus dan bakteri serta menetralisasi toksinnya (termasuk di dalamnya antinutrisi).

B. Sistem imun spesifik selular

Limfosit T atau sel T berperan pada sistem imun spesifik selular. Sel tersebut juga berasal dari sel asal yang sama seperti sel B. Pada hewan mamalia, sel T dibentuk di dalam sumsum tulang tetapi proliferasi dan diferensiasinya terjadi di dalam kelenjar timus atas pengaruh berbagai faktor asal timus. Ada 90-95% dari semua sel T dalam timus tersebut mati dan hanya 5-10% menjadi matang dan meninggalkan timus untuk masuk ke dalam sirkulasi.

1 Comment

  1. plazma kiralama lcd kiralama projeksiyon kiralama ses sitemleri kiralama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: