Kapasitas Tampung Padang Penggembalaan

Kapasitas Tampung Padang Penggembalaan

Kapasitas tampung merupakan analisis kemampuan areal padang penggembalaan atau kebun rumput untuk dapat menampung sejumlah ternak, sehingga kebutuhan hijauan rumput dalam 1 tahun bagi makanan ternak tersedia dengan cukup.

Kapasitas tampung padang penggembalaan atau kebun rumput, erat berhubungan dengan jenis ternak, produksi hijauan rumput, musim, dan luas padang penggembalaan atau kebun rumput. Oleh karena itu, kapasitas tampung bisa bermacam-macam dan tergantung pada pengukuran produksi hijauan rumput. Pada musim basah, hijauan rumput akan tinggai produksinya daripada musim kering. Hal demikian juga berarti bahwa pada musim basah bisa tersedia lebih banyak produksi hijauan rumput untuk sejumlah ternak, namun pada musim kering jumlah ternak akan terbatas jumlahnya sesuai dengan tersedianya hijauan rumput.

Besarnya produksi hijauan atau kebun rumput pada suatu areal dapat diperhitungkan, seperti berikut :

  1. Produksi Kumulatif, merupakan produksi padang penggembalaan atau kebun rumput yang ditentukan bertahap selama 1 tahun. Setiap pemotongan produksi hijauan rumput diukur dan dicatat. Setalah 1 tahun seluruh produksi dijumlah, dan hasilnya merupakan produksi kumulatif.
  2. Produksi Realitas, merupakan produksi yang ditentukan oleh setiap pemotongan hijauan rumput seluruh areal padang penggembalaan atau kebun rumput. Jadi, produksi realitas adalah produksi sebenarnya yang bisa diukur dengan produksi ternak.
  3. Produksi Potensial, merupakan produksi yang ditentukan atas dasar perkiraan suatu areal padang penggembalaan atau kebun rumput. Jadi, perhitungan ini cenderung disebut sebagai taksiran.

Rumput Lapang

Rumput lapang merupakan campuran dari beberapa jenis rumut lokal yang umumnya tumbuh secara alami dengan daya produksi dan kualitas nutrisi yang rendah. Kualitas rumput lapang sangat beragam karena tergantung pada kesuburan tanah, iklim, komposisi spesies, waktu pemotongan, cara pemberiannya, dan secara umum kualitasnya dapat dikatakan rendah. Walaupun demikian rumput lapang merupakan hijauan pokok yang sering diberikan pada ternak (Pulungan, 1988).

Menurut Aboenawan (1991), rumput lapang merupakan pakan yang sudah umum digunakan sebagai pakan utama ternak ruminansia (sapi dan domba). Rumput lapang banyak terdapat di sekitar sawah atau ladang, pegunungan, tepi jalan, dan semak-semak. Rumput lapang tumbuh liar sehingga memiliki mutu yang kurang baik untuk pakan ternak. Rumput lapang yang dikeringkan matahari memiliki komposisi zat makanan seperti pada tabel berikut.

Tabel komposisi zat makanan rumput lapang (%bahan kering)

Zat Makanan % Bahan Kering
Bahan Kering (%) 78,37
Protein Kasar (%) 7,12
Serat Kasar (%) 27,59
Lemak Kasar (%) 0,91
BETN (%) 35,61
Total Nutrien Tercerna (%) 54,29

Padang Penggembalaan

Menurut Reksohadiprodjo (1994) padang penggembalaan adalah suatu daerah padangan dimana tumbuh tanaman makanan ternak yang tersedia bagi ternak yang dapat merenggutnya menurut kebutuhannya dalam waktu singkat. Beberapa macam padang penggembalaan diantaranya padang penggembalaan alam, padang penggembalaan permanen yang sudah ditingkatkan, padang penggembalaan temporer dan padang panggembalaan irigasi. Beberapa cara menggembalakan ternak di padang penggembalaan antara lain yaitu cara ekstensif denga menggembalakan ternak di padangan yang luas tanpa erosi, semi-ekstensif dengan melakukan rotasi namun pemilihan hijauan masih bebas, cara intensif dengan melakukan rotasi tiap petak dengan hijauan dibatasi, strip grazing dengan menempatkan kawat sekelilig ternak yang bisa dipindah dan solling dengan hijauan padangan yang dipotong dan diberikan ada ternak di kandang.

Produksi rumput di padang penggembalaan ditentukan oleh beberapa faktor seperti iklim, pengelolaan, kesuburan tanah, pemeliharaan dan tekanan penggembalaan (Reksohadiprodjo,1994) rumput yang biasa digunakan untuk pastura (padang penggembalaan) adalah Brachiaria humidicola yang merupakan rumput tahunan yang memiliki perkembangan vegetatif dengan stolon yang begitu cepat sehingga bila ditanam di lapang akan segera membentuk hamparan.

Leguminosa

Nitrogen merupakan unsur yang penting dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman, tetapi sebagian besar tanah di daerah tropis miskin unsur nitrogen. Menurut Buckman dan Brady (1982) ada beberapa cara penambahan nitrogen dalam tanah antara lain fiksasi nitrogen, fiksasi bebas atau azofiksasi, melalui air hujan dan petir, dan penambahan dalam bentuk pupuk kimia, pupuk kandang atau pupuk hijau.

Di Indonesia tanaman leguminosa telah lama diketahui selain untuk meningkatakan kesuburan tanah, juga untuk menahan erosi, tanaman pelindung, kayu bakar dan daunnya sangat baik sebagai pakan ternak karena mempunyai nilai nutrisi yang tinggi.

Jenis leguminosa yang banyak digunakan adalah yang tahan terhadap pemotongan dan pertumbuhannya cepat, dapat tumbuh bersama dengan tanaman inang tanpa mengakibatkan terjadinya persaingan penggunaan cahaya dan tidak mengurangi produksi ranaman pokok.

DAFTAR PUSTAKA

Aboenawan, L. 1991. Pertambahan berat badan, konsumsi ransum dan total digestible nutrien (TDN) pellet isi rumen dibanding pellet rumput pada domba jantan. Laporan Penelitian. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Pulungan, H. 1988. Peranan rumput lapangan sebagai ransum pokok ternak domba. Hasil Temu Tugas Sub Sektor Peternakan, 4:218-288.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: