Kesehatan dan Penyakit Pada Pedet

Kesehatan dan Penyakit Pada Pedet

Pedet adalah anak sapi yang baru lahir hingga umur 8 bulan. Selama 3-4 hari setelah lahir pedet harus mendapatkan kolostrum dari induknya, karena pedet belum mempunyai antibodi untuk resistensi terhadap penyakit. Setelah dipisahkan dari induk sapi, barulah pedet dilatih mengkonsumsi suplemen makanan sedikit demi sedikit sehingga pertumbuhanya optimal. Pada umumnya penyakit-penyakit pada anak sapi disebabkan oleh infeksi virus, bakteri atau karena tata laksana pemberian pakan (manajemen pakan) yang kurang baik. Biasanya penyakit yang sering menyerang anak sapi adalah septikemia akut, salesma dan radang paru-paru (Syarief dan Sumoprastowo, 1984).

  1. Diare (Mencret)

Penyakit yang sering ditemui pada pedet adalah diare. Diare pedet masih cukup menakutkan karena seringkali berakibat kematian. Menurut Kurniawan (2009), jika pedet kehilangan lebih dari 15% cairan tubuhnya, dia akan mengalami stress yang luar biasa dan mengakibatkan kematian. Dari sekian banyak sebab diare pada pedet, penanganan saat lahir, tidak adanya desinfeksi pusar dan sanitasi kandang pedet yang buruk adalah penyebab utamanya.

Ada beberapa langkah untuk mengatasi diare pada pedet yaitu dengan langkah-langkah antara lain, (1) memperbaiki cairan tubuh pedet dengan memberikan cairan elektrolit/oralit dan susu secara bergantian dan juga mengurangi konsumsi susu karena susu bisa menstimulasi bakteri ikutan. (2) Memberikan antibiotik karena 80% diare disebabkan karena infeksi bakteri, kemudian menambahkan Vitamin C sebagai antistress. Jika pedet tidak mau makan, maka harus ditambah multivitamin dan antipiretik jika suhu badannya lebih dari 39,5 celsius. (3) Memperbaiki kondisi kandang menjadi bersih dan kering karena kandang yang buruk sanitasi berpeluang memperparah infeksi. (4) Segera pisahkan pedet yang terjangkit dengan pedet yang lain untuk mencegah penularan. (5) Mengamati setiap saat kondisinya untuk memastikan pedet tetap aktif.

  1. Cacingan

Menurut Tuimin (2009), menyatakan bahwa Toxocara vitulorum, merupakan cacing askarid. Stadium dewasanya banyak dijumpai pada anak sapi (pedet). Akibat dari penyakit cacingan (toxocariasis) sangat menekan produktivitas ternak, berarti menjadi beban ekonomi bagi peternak secara berkepanjangan jika tidak dilakukan pengendalian.

Walaupun demikian penyakit parasit cacing khususnya cacing saluran pencernaan yang sering dijumpai pada pedet adalah gangguan parasit usus. Salah satu jenis parasit usus yang sering dilaporkan menyerang pedet muda adalah toxocariasis. Parasit cacing ini menimbulkan kerugian yang cukup besar, bahkan dapat mengakibatkan kematian pada pedet. Toxocariasis merupakan penyakit yang banyak ditemukan di negara tropik dengan kelembaban tinggi.

Upaya pengendaliannya menurut mereka sampai saat ini belum jelas, hal ini disebabkan belum adanya informasi tentang keadaan toxocariasis pada pedet. Tersedianya obat cacing, umumnya hanya berkhasiat terhadap stadium dewasa, kurang berkhasiat untuk stadium larva dan telur.

  1. Radang paru-paru

Radang paru-paru adalah infeksi paru-paru dan telah menyebabkan banyak kematian. Cacing paru-paru merupakan penyebab dengan menginfeksi paru-paru. Pedet yang dapat bertahan radang paru-paru, memerlukan waktu lama untuk sembuh. Biasanya akan terjadi gangguan pertumbuhan dan produktifitas yang rendah saat telah mulai berproduksi (Thau, 2004).

Penyakit radang paru-paru bisa menyebabkan kematian pada anak sapi umur 3-8 minggu. Manajemen pemeliharaan ternak yang tidak baikseperti penempatan hewan selamanya dalam kandang saja, tempat yang lembab dan berdebu, ventilasi udara yang tidak baik, berbagi umur dalam satu kandang, penempatan ternak terlalu banyak dalam satu kandang, dan pedet yang tidak mendapatkan banyak kolostrum merupakan faktor-faktor yang mendukung terjadinya radang paru-paru dalam suatu peternakan. Penyakit ini muncul karena adanya bakteri, virus, jamur, dan parasit (Yusmichad, 1995).

Gejala yang ditimbulkan apabila pedet terserang radang paru-paru adalah peset biasanya batuk-batuk, pernapasan cepat dan suhu badan naik hingga 39°C atau lebih, mata tidak bercahaya, nafsu makan hilang, bulu-bulu kasar dan kering, dan keluar cairan yang berbau dari lubang hidungnya.

Pencegahan paling penting adalah penyediaan lokasi pemeliharaan yang bersih hangat dan tidak lembab, sirkulasi yang baik, dan cukup mendapat sinar matahari. Pedet yang sakit sebaiknya dipindahkan dari yang sehat atau dibuat kandang tersendiri yang kering dan hangat. Pengobatan yang dapat dilakuakan adalah pemberian antibiotik sesuai dosis yang dianjurkan.

DAFTAR PUSTAKA

Adi Sudono, R. Fina Rosdiana, dan Budi S Setiawan, 2004. Beternak Sapi Perah secara   intensif, Penerbit Agromedia Pustaka.

Astuti, Retno. 2010. Evaluasi Pemberian Tepung Lerak (Sapindus rarak De            Candole) terhadap Sapi Peranakan Ongole pada Pakan Berbasis Jerami Padi. Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Coleman, S.W. and Moore J.E. 2003. Feed Quality and animal performance. Field Crops Res84:17-29.

Darmanto, Dede. 2009. Respon Fisiologis Domba Ekor Tipis Jantan yang Diberi    Pakan Rumput Brachiaria Humidicola dan Kulit Singkong pada Level yang      Berbeda. [Skripsi]. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Ernawani, 1991. Pengaruh Tatalaksana Pemerahan Terhadap Kualitas Susu Kambing. Media Peternakan Vol 15: 38-46. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Forrest, J.C., E. D. Aberle, H. B. Hedrick, M. D. Judge & R. A. Merkel. 1975. Principles of Meat Science. W. H. Freeman and Company, San Fransisco.

Imron, Muhammad. 2009. Manajemen Pemeliharaan Pedet (terhubung berkala). http://betcipelang.info.%5B1 Januari 2011].

Kumar Saha .A. .2001. Technical efficiency and Costs Competitiveness of Milk        Production by Dairy Farm in Main milk Production National Dairy Reseach Institut, Kamal India.

Kurniawan, deddy F. 2009. Bagaimana Cara Mengatasi Diare Pada Pedet (terhubung berkala). http://www.sapiperahindonesia.worpress.com [1 Januari 2011].

Maynard, L.A., J.K. Loosli, H.F. Hintz, and H.G. Wanner.1979. Animal Nutrition. 3rd Ed. McGraw Hill Publishing Co Ltd. New York.

Muljana, Wahyu. 1982. Pemeliharaan dan Kegunaan Ternak Sapi Perah. Semarang : Aneka Ilmu.

Perdhanayuda, Rolis. 2010. Penampilan Produksi Pedet Peranakan Friesian Holstein Jantan Periode Pra-sapih yang Diberi ransum Starter dengan Cara Bebas Pilih (Cafetaria Feeding). Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Sauvant D, Dijkstra J, Mertens D. 1995. Optimization of ruminal digestion: a modeling approach. Di dalam : Journet M, Grenet E, Farce M.H, Theriez M, Dermaquilly C, editor. Recent Development in the Nutrition of Herbivores. Proceeding of Fourth International Symposium on the Nutrition of Herbivores,Clemont-Ferrand, 11-15 Sep 1995. Paris : INRA. Hlm 143-165.

Soetarno, Timan. 2003. Manajemen Budidaya Sapi Perah. Laboratorium Ternak Perah Fakultas Peternakan UGM : Yogyakarta.

Syarief Zein M. dan Sumoprastowo.RM 1984. Ternak Perah. CV Yasaguna . Jakarta.

Thau, T.D. 2004. Factors Affecting Technical Efficiency of Household Dairy        Cattle  Production in Two Communes of Gialam District, Hanoi. Journal of       ISSAAS. Vol. 10. Number 1, June 2004. Page : 86 – 90.

Tuimin. 2008. Kasus Cacingan Padasapi Pedet (terhubung berkala). http://infovet.com [1 Januari 2011].

Wahyuni, Dimar Sari. 2008. Fermentabilitas dan degradabilitas in vitro serta produksi biomassa mikroba ransum komplit kombinasi rumput lapang, konsentrat dan suplemen kaya nutrient. [Skripsi]. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Wasdiantoro, H. 2010. Imbangan hijauan dan konsentrat yang berbeda pada          penampilan produksi   sapi sumba ongole yang diberi tiga macam ransum           penggemukan. Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Willamson, G dan W.J.A. Payne. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis.     (Gadjah Mada University Press, Yogyakarta (Terjemahan oleh : SGN  Djiwa  Darmaja).

Yusmichad Yusdja, Bambang Sayaka, and Reithmuller P. (1995), A Study Of Cost          Structures Of Dairy Cooperatives and Farmer Incomes In East Java Reseach Institute for Animal Production and Departement of Economics, The University     of Quensland, Australia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: