laporan industri pakan tan-pengukuran aktivitas air bahan pakan

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pakan Merupakan salah satu faktor penting dalam industri peternakan. Namun, kontinuitas suplai bahan baku, seperti jagung dan dedak padi masih tergolong fluktuatif, baik dalam hal jumlah maupun harga. Dalam mencegah kekurangan bahan baku pada musim tertentu, banyak industri pakan menyimpan bahan baku dalam jumlah banyak agar proses produksi dapat terus berjalan.

Penyimpanan adalah salah satu bentuk tindakan pengamanan yang selalu terkait dengan waktu yang bertujuan untuk mempertahankan dan menjaga komoditi yang disimpan dengan cara menghindari, menghilangkan berbagai faktor yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas komoditi tersebut. Dalam dunia peternakan pakan merupakan faktor penentu keberhasilan usaha, dimana ketersediannya sangat terkait dengan waktu, sehingga perlu dilakukan penyimpanan. Penyimpanan pakan yang terlalu lama akan menurunkan kualitas dari pakan tersebut.

Selama proses penyimpanan sering terjadi kerusakan-kerusakan yang dapat menurunkan kualitas bahan baku. Kerusakan yang terjadi diantaranya kerusakan kimiawi yang merupakan akibat dari reaksi-reaksi kimia dalam bahan, kerusakan fisik akibat kesalahan penanganan, dan kerusakan biologis akibat serangan mikrooranisme.

Tujuan

Mengetahui aktivitas air yang terkandung pada berbagai macam bahan baku pakan ternak.

MATERI DAN METODE

Alat dan Bahan

Peralatan yang digunakan pada pengukuran aktivitas air (AW) adalah AW meter. Bahan yang digunakan adalah bahan pakan (Serabut sawit, Pelet indigovera (besar), Ketan hitam, Kacang hijau, Tongkol jagung, Bungkil kedelai, CGM, Kacang tanah, Jagung dan Ketan putih serta larutan BaCl2 untuk proses kalibrasi aw meter.

Cara Kerja

Aktivitas air jagung diukur dengan menggunakan aw meter, yang sebelumnya sudah dikalibrasi dengan menggunakan larutan BaCl2, selama 24 jam. Larutan BaCl2 memiliki nilai aktivitas air sebesar 0,9 (Syarief dan Halid, 1993). Sample jagung dimasukan kedalam wadah, kemudian wadah ditutup dengan aw meter. Sampel jangan terlalu banyak, agar tidak mengganggu alat. Pembacaan skala aw meter dilakukan setelah 3 jam pengukuran. Aktivitas air ditentukan dengan Rumus:

Aw = Skala + [(suhu-200C) x 0.002]

TINJAUAN PUSTAKA

Aktivitas Air (AW)

Aktivitas air sangat dipengaruhi oleh kelembaban relatif (Hall, 1980). Aktivitas air merupakan jumlah air didalam bahan yang tersedia untuk pertumbuhan mikroba (Winarno, 1991). Aktivitas air yang tinggi berdampak pada semakin meningkatnya jumlah mikroorganisme yang tumbuh pada bahan selama penyimpanan. Aktivitas air diatas 0,8, laju kerusakan mikrobiologis kimiawi dan enzimatik berjalan dengan cepat (Alamsyah, 2004)

Aktivitas air bahan pakan meningkat seiring dengan lama penyimpanan. Penambahan zeolit pada jagung dapat menghambat peningkatan aktivitas ai). Peningkatan suhu juga berpengaruh terhadap peningkatan aktivitas air pada kadar air yang sama, juga meningkatkan laju reaksi kerusakan yang terjadi (Yusawisana, 2002).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

No Nama Bahan Pembacaan skala Temperatur (0C) Nilai
1 Serabut sawit 0.74 32 0.794
2 Pelet indigovera (besar) 0.74 32 0.764
3 Ketan hitam 0.76 32 0.7624
4 Kacang hijau 0.75 32 0.7524
5 Tongkol jagung 0.77 33 0.796
6 Bungkil kedelai 0.73 33 0.756
7 CGM 0.75 32.5 0.775
8 Kacang tanah 0.74 33.5 0.767
9 Jagung 0.73 32.5 0.755
10 Ketan putih 0.72 32.5 0.747

Pembahasan

Aktivitas air diartikan sebagai jumlah air didalam bahan yang tersedia untuk pertumbuhan mikroba (Winarno, 1991). Aktivitas air yang tinggi berdampak pada semakin meningkatnya jumlah mikroorganisme yang tumbuh pada bahan selama penyimpanan. Aktivitas air diatas 0,8, laju kerusakan mikrobiologis kimiawi dan enzimatik berjalan dengan cepat (Alamsyah, 2004).

Berdasarkan hasil pengamtan diketahui bahwa serabut sawit memiliki nilai aktivitas air yang lebih besar dibandingkan bahan lainnya. Hal ini dimungkinkan karena struktur dari serabut sawit tersebut yang berserat dan berpori yang menyebabkan banyaknya air yang terkandung. Bahan yang memilki nilai aktivitas air yang paling rendah adalah ketan putih dengan aktivitas air sebesar 0,747. Kecilnya nilai aktivitas air ini dikarenakan pengolahan ketan sebelum penggilingan harus melewati proses pengeringan terlebih dahulu.

Bahan-bahan pakan yang diujikan rata-rata memiliki nilai aktivitas air sebesar 0,75. Menurut Alamsyah (2004) aktivitas air diatas 0,8, laju kerusakan mikrobiologis kimiawi dan enzimatik berjalan dengan cepat. Tinginya angka aktivitas air pada suatu bahan akan menentukan cara penyimpanan bahan pakan tersebut selanjutnya.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa aktivitas air mempengaruhi teknik dan durasi dari penyimpanan. Semakin tinggi nilai aktivitas air suatu bahan maka akan semakin tinggi juga potensi kerusakan bahan tersebut selama penyimpanan.

DAFTAR PUSTAKA

Alamsyah, A.T. 2004. Perubahan Bilangan Peroksida Tepung Tulang Kaki Ayam Broiler Selama Penyimpanan Dalam Bahan Pengemas Yang Berbeda. Skripsi, Program Studi Teknologi Hasil Ternak. Fakultas Peternakan. Institu Pertanian Bogor. Bogor.

Hall, C. W. 1980. Drying. Handling and Storage of food Grain in Tropical and Subtropical Areas. FAO. Rome.

Winarno, F.G. 1991. Kimia Pangan dan Gizi Edisi Kelima. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Yusawisana, S. 2002. Uji Kerusakan Lemak Ransum Ayam Broiler yang Menggunakan CPO (Crude Palm Oil) dengan Penambahan Antioksidan Alami Bawang Putih (Allium sativum) Selama Penyimpanan. Skripsi. Program Studi Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

1 Comment

  1. really like this brother

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: