laporan mikrobiologi tan : evaluasi in vitro

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kecernaan merupakan suatu gambaran mengenai kemampuan ternak untuk memanfaatkan pakan. Kemampuan ternak untuk mencerna suatu bahan pakan berbeda-beda sesuai dengan status fisiologis dari ternak itu sendiri. Nilai kecernaan yang tinggi menunjukan bahwa ternak tersebut efektif memanfaatkan bahan pakan yang diberikan.

Suatu bahan pakan yang memiliki nilai kecernaan yang tinggi menunjukan bahwa bahan pakan tersebut mudah dicerna oleh ternak. Nilai kecernaan suatu bahan pakan ditentukan oleh kandungan serat kasar (sellulosa, hemiselulosa, lignin dan silika). Semakin tinggi persentase serat kasar pada suatu bahan pakan maka kecernaan dari bahan pakan tersebut akan semakin rendah.

Banyak teknik yang dikembangkan untuk pengukuran kecernaan suatu bahan pakan salah satunya adalah metode in vitro. Metode ini dikembangkan dengan prinsip semirip mungkin dengan keadaan di dalam rumen. Beberapa hal yang bisa diamati menggunkan tekni in vitro diantaranya NH3, asam lemak terbang (VFA), kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik.

Tujuan

Tujuan praktikum ini adalah untuk mempelajari prinsip dan prosedur evaluasi kecernaan secara in vitro.

MATERI DAN METODA

Alat dan Bahan

Peralatan yang dipergunakan pada praktikum ini diantaranya tabung fermentor, tutup karet, pipet mohr, bulp, erlenmayer, water bath, sackher water bath, tabung CO2 dan kertas pH. Bahan-bahan yang dipergunakan antara lain adalah cairan rumen dan larutan Mc. Dougall

Cara Kerja

Siapkan larutan Mc. Dougall terlebih dahulu, larutan ini dibuat dengan mencampurkan NaHCO3, Na2HPO4.10H2O, KCl, NaCl, MgSO4.7H2O, CaCl2 dan aquades. Dalam pembuatan larutan Mc. Dougall ini penambahan CaCl2 dilakukan setelah bahan-bahan lain homogen terlebih dahulu. Nilai pH dari larutan Mc. Dougall yang telah dibuat dicek dengan menggunakan kertas pH. Jika didapat pH larutan yang lebih besar dari 7, maka dilakukan penambahan gas CO2 pada larutan sampai pH larutan tersebut mendekati atau menjadi 7.

Proses fermentasi dilakukan dengan memasukan 12 ml larutan Mc. Dougall ditambah 8 ml cairan rumen dan diberi CO2 selama 30 detik ke dalam tabung fermentor yang disimpan didalam water bath bersuhu 390C. Setelah selesai lanjutkan fermentasi dengan menyimpan tabung fermentor di dalam sackher water bath sampai proses fermentasi yang diinginkan. Untuk evaluasi NH3 dan VFA dari suatu bahan pakan, fermentasi dilakukan selama 4 jam dan untuk mengevalusi KCBK dan KCBO, proses fermentasi dilakukan selama 48 jam. Tetesi HgCl2 untuk menghentikan proses fermentasi tersebut.

PEMBAHASAN

Kecernaan menggambarkan bagian nutrien dari bahan makanan yang tidak di ekskresikan dalam feses. Kecernaan nutrien dapat diukur menggunakan ternak in vivo, in sacco dan in vitro. Jumlah pakan yang dapat dicerna sangat dipengaruhi oleh bentuk, komposisi nutrien dan perlakuan pendahuluan terhadap bahan pakan.

Penggunaan saliva buatan atau larutan Mc.Dougall pada proses evaluasi in vitro bertujuan untuk mempertahankan pH selama proses fermentasi berlangsung. Penggunaan gas CO2 bertujuan untuk mempertahankan pH selama proses fermentasi. Penambahan gas CO2 dilakukan secara cepat agar tidak terjadi perubahan pH. Penggunaan water bath dan sachker water bath ditujukan untuk menirukan gerakan didalam rumen. Suhu fermentasi diusahakan sama dengan suhu dalam rumen, yaitu 39-40oC. Kondisi anaerob diusahakan dengan mengalirkan gas CO2 ke dalam larutan buffer sebelum larutan itu digunakan dan ke dalam larutan fermentasi sebelum tabung fermentasi ditutup.

Tabel 1. Komposisi larutan buffer untuk fermentasi anaerob in vitro.

Bahan g/10 L
NaHCO3 49,00
KHCO3 58,50
NaH2PO4.H2O 18,00
KH2PO4 20,40
NaCl 4,700
MgCl2.6H2O 1,278
CaCl2.2H2O 0,001
Aquadest q.s.

Tilley and Terry (1963)

Penambahan CaCl2 dilakukan Pada pencampuran bahan yang dibutuhkan, CaCl2 dicampur secara terakhir dengan bahan lainnya. Hal ini karena CaCl2 ini tidak mudah larut, sehingga untuk menghindari penggumpalan dicampurkan terakhir. Pada pembuatan larutan mc.doughal, ditambahkan pula gas CO2. Gas CO2 dapat menyebabkan suasana asam karena CO2 dapat menangkap ion H+ dan H2O, dimana ion H+ inilah yang menyebabkan suasana atau kondisi asam.

KESIMPULAN

Prinsip pengukuran kecernaan secara in vitro merupakan teknik pengukuran kecernaan yang dibuat semirip mungkin dengan kondisi di dalam rumen. Kelebihan penggunaan teknik in vitro adalah pelaksanaannya yang sederhana, lebih ekonomis dan mewakili kemampuan ternak dalam memfermentasi bahan pakan.

DAFTAR PUSTAKA

Tilley , J. M. A, and R. A. Terry. 1963. A two stage technique for the in vitro digestion of forage crop. Journal of British Grassland 18 : 104 – 111.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: