Penggunaan Asam Organik dalam Pakan Ternak

Idealnya, efek positif dari acidifier adalah mengontrol keseimbangan mikroflora saluran pencernaan, menstimulus kinerja enzim-enzim pencernaan, meningkatkan kecernaan pakan dan penampilan produksi unggas. Optimalisasi fungsi saluran pencernaan sebagai pintu gerbang penyerapan zat nutrien pakan perlu dijaga guna memperoleh produktivitas ayam yang maksimal. Pakan unggas akan dicerna, diserap dan dimetabolisme di dalam saluran pencernaan. Beberapa komponen sangat mempengaruhi kinerja saluran pencernaan seperti enzim pencernaan, asam empedu, pH, laju aliran pakan, keseimbangan mikroflora dan sebagainya. Perubahan-perubahan komponen tersebut akan mempengaruhi struktur saluran pencernaan dan tingkat kecernaan pakan. Pemberian antibiotik sebagai salah satu upaya untuk menjaga kondisi saluran pencernaan dengan mengontrol keseimbangan mikroflora dan menstimulus senyawa kimia dalam saluran pencernaan unggas.

Pemanfaatan antibiotik dalam pakan ternak sudah digunakan sejak tahun 1946 dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas dan status kesehatan ternak. Pada unggas, antibiotik digunakan dengan tujuan untuk meningkatkan kecernaan pakan, pertumbuhan dan produksi telur, memperbaiki konversi pakan, menekan kematian dan menjaga kondisi kesehatan. Namun seiring dengan pelarangan penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan pada beberapa negara di dunia perlu dicari solusi untuk mensubsitusi penggunaan antibiotik dalam pakan unggas. Probiotik, prebiotik, asam organik, minyak esensial, ekstrak tanaman dan enzim sebagai aditif pakan telah digunakan untuk mensubstitusi penggunaan antibiotik. Dalam artikel ini akan dijelaskan penggunaan asam organik sebagai aditif pakan unggas untuk menjaga kondisi saluran pencernaan.

Istilah asam organik adalah suatu senyawa kimia dari golongan asam lemak yang memiliki pH di bawah 7 atau bersifat asam. Namun dalam istilah pakan ternak lebih dispesifikkan lagi fungsinya bahwa penggunaan asam organik bertujuan untuk pengawet pakan (feed preservation) dan mengontrol pH saluran pencernaan (acidifier). Dalam artikel ini akan dibahas penggunaan asam organik sebagai acidifier bagi unggas. Istilah acidifier juga masih kontradiktif di kalangan peneliti. Beberapa peneliti mengistilahkan bahwa acidifier digunakan untuk menurunkan pH saluran pencernaan namun di sisi lain peneliti menyimpulkan bahwa acidifier digunakan untuk mengontrol pH di dalam saluran pencernaan karena apabila dalam suatu kondisi dimana pH saluran pencernaan sudah optimum, acidifier tidak akan bekerja untuk menurunkan pH karena akan menyebabkan suasana pH yang terlalu asam dan menyebabkan gangguan pencernaan dan ketidakseimbangan mikroflora usus.

Ada dua jenis asam organik yang dijual dipasaran yaitu asam organik tunggal dan asam organik kompleks. Masing-masing produk memiliki fungsi yang hampir sama yaitu menjaga kondisi saluran pencernaan dan meningkatkan produktivitas unggas. Namun produk yang dijual bukan asam organik murni melainkan sudah bercampur dengan garam-garam untuk menyesuaikan pH saluran pencernaan. Penggunaan asam organik secara tunggal maupun cocktail dalam pakan akan menunjukkan hasil yang berbeda-beda tergantung dari jenis asam organik yang digunakan, asal asam organik, jumlah asam organik yang diberikan, komposisi pakan dan kondisi ternak (Soltan, 2008). Secara umum, peranan acidifier dalam pakan unggas dapat dilihat pada Tabel 1.

Peranan acidifier dalam mengontrol pH saluran pencernaan

Acidifier membuat suasana asam dalam usus halus sehingga menghasilkan kondisi ideal bagi pertumbuhan Lactobacillus dan mikroba non patogen lain serta menghambat perkembangan Eschericia coli, Salmonella dan mikroba patogen lain. Kinerja acidifier dalam usus halus akan mendukung aktivitas dan fungsi enzim pencernaan, memacu konsumsi pakan, mengurangi produksi amonia dan hasil metabolit mikroba yang menghambat pertumbuhan dan meningkatkan absorpsi zat nutrien pakan.

Penambahan acidifier dalam pakan juga akan menurunkan nilai pH dalam pakan seperti yang dijelaskan oleh Soltan (2008). Abdel-Fattah et al. (2008) melakukan penelitian dengan membandingkan tiga jenis acidifier yaitu asam asetat, asam sitrat dan asam laktat yang ditambahkan dalam pakan ayam pedaging. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan 3 % asam asetat atau 3 % asam sitrat atau 1.5 % asam laktat dalam pakan dapat menurunkan pH gizzard, duodenum, jejenum dan ileum ayam pedaging walaupun secara statistik tidak berbeda nyata. Kontrol terhadap pH saluran pencernaan sangatlah penting untuk menjaga keseimbangan mikroflora dan kinerja enzim saluran pencernaan.

Peranan acidifier dalam meningkatkan proses metabolisme dalam saluran pencernaan

Acidifier juga akan mempengaruhi pH lambung. Dengan adanya penurunan pH lambung maka akan meningkatkan konversi enzim pepsinogen menjadi pepsin yang berfungsi untuk meningkatkan laju absorpsi protein, asam amino dan mineral. Kecernaan pakan akan meningkat seiring dengan penambahan asam organik dalam pakan. Hernandez et al. (2006) melaporkan bahwa penambahan asam format (10 gram/kg pakan) dalam pakan mampu meningkatkan kecernaan bahan kering (dalam ileal digestibility) pada ayam pedaging. Bahnas (2009) melaporkan hasil yang serupa dengan menggunakan asam malat. Deepa et al. (2011) melaporkan bahwa ayam pedaging yang diberi pakan yang mengandung asam sitrat menunjukkan peningkatan penyerapan fosfor dalam usus halus dibandingkan dengan ayam yang diberi pakan tidak mengandung asam sitrat. Namun belum ada mekanisme mengapa asam sitrat sebagai acidifier berperan dalam meningkatkan penyerapan fosfor seperti yang dijelaskan dalam penelitian Boling et al. (2001). Dugaan awal dikemukakan bahwa dalam pakan ayam mengandung fosfor yang berikatan dengan asam fitat, suatu zat antinutrisi dalam bahan pakan nabati yang menyebabkan fosfor dan beberapa nutrien sukar untuk diserap usus halus. Kemampuan asam sitrat dalam mengikat fosfor dan melemahkan ikatan antara asam fitat dan beberapa nutrient diduga menyebabkan asam fitat lebih larut dan kurang stabil sehingga fosfor yang berikatan dengan asam fitat akan dengan mudah diserap oleh usus halus. Cosgrove (1980) menduga bahwa asam sitrat berperan dalam menurunkan pH usus halus dan menghambat pembentukan garam fitat tak larut yang resisten untuk dihidrolisis oleh enzim fitase endogen dalam usus halus.

Sumber : http://www.poultryindonesia.com

1 Comment

  1. mbk ini sumbernya di poultry kok ndk ada yah, tolong saya butuh sumber daftar pustakanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: