Potensi Kunyit (Curcuma longa Linn.) dan Temulawak ( Curcuma xanthorrhiza ROXB. ) Sebagai Pemacu Pertumbuhan Alami

Kunyit (Curcuma longa Linn.)

Kunyit (Curcuma longa Linn.) merupakan tanaman obat berupa semak dan bersifat tahunan (perenial) yang tersebar di seluruh daerah tropis. Tanaman kunyit tumbuh subur dan liar disekitar hutan/bekas kebun. Diperkirakan berasal dari Binar pada ketinggian 1300-1600 m dpl, ada juga yang mengatakan bahwa kunyit berasal dari India. Kata Curcuma berasal dari bahasa Arab Kurkum dan Yunani Karkom. Tanaman ini banyak dibudidayakan di Asia Selatan khususnya di India, Cina Selatan, Taiwan, Indonesia (Jawa), dan Filipina (Warintek, 2011a).

Rimpang kunyit merupakan bagian yang sering dimanfaatkan masyarakat sebagai bumbu masakan, kosmetika, dan obat tradisonal. Disamping itu rimpang tanaman kunyit itu juga bermanfaat sebagai anti inflamasi, anti oksidan, anti mikroba, pencegah kanker, anti tumor, dan menurunkan kadar lemak darah dan kolesterol, serta sebagai pembersih darah (Warintek, 2011a).

Kunyit mengandung zat aktif yang disebut kurkumin yang dapat berfungsi sebagai antibakteri (Sinurat et al., 2009). Tepung kunyit mengandung bahan kering sebesar 91,13%, miyak atsiri 3,18%, pati 27,40%, lemak 9,69%, protein 6,56%, serat 7,61% dan kadar kurkumin sebesar 9,61% (Sinurat et al., 2009).

Temulawak ( Curcuma xanthorrhiza ROXB. )

            Temulawak (Curcuma xanthorrhiza ROXB.) merupakan tanaman obat berupa tumbuhan rumpun berbatang semu. Di daerah Jawa Barat temulawak disebut sebagai koneng gede sedangkan di Madura disebut sebagai temu lobak. Kawasan Indo-Malaysia merupakan tempat dari mana temulawak ini menyebar ke seluruh dunia. Saat ini tanaman ini selain di Asia Tenggara dapat ditemui pula di Cina, IndoCina, Bardabos, India, Jepang, Korea, di Amerika Serikat dan Beberapa negara Eropa (Warintek, 2011b).

Tanaman ini tumbuh baik pada lahan yang memiliki naungan. Perakaran temulawak dapat beradaptasi dengan baik pada berbagai jenis tanah baik tanah berkapur, berpasir, agak berpasir maupun tanah-tanah berat yang berliat. Temulawak banyak ditemukan pada daerah dataran sedang sampai tinggi dengan curah hujan tahunan antara 1.000-4.000 mm/tahun. Suhu optimum untuk pertumbuhan temulawak berkisar antara 19-30 °C (Warintek, 2011b).

Komponen utama yang terkandung dalam temulawak (Curcuma xanthorrhiza ROXB.) adalah kurkumin (Wiryawan et al., 2005) dan xanthorrizol  (Sinurat et al., 2009).  Zat aktif xanthorrizol yang diisolasi dari temulawak memiliki  efektifitas yang sama khasiatnya dengan antijamur komersil amphotericin B (Rukayadi dan Hwang, 2006). Sinurat et al., (2009) melaporkan bahwa tepung temulawak mengandung bahan kering sebesar 94,14%, minyak atsiri 5,97%, pati 53,00%, lemak 9,04, protein 9,88%, serat 2,26%, kurkumin 2,00% dan xaanthorrizol 1,58%. Hwang et al. (2002) menyatakan bahwa temulawak dapat menghambat S.mutans yaitu bakteri penyebab penyakit gigi dargan konsnrasi hanbat minirnal (MIC/minimurn Inhibitory Concentration) 2 mg/ml dan menunjukkan penghambatan sempurna (bakterisidal) pada konsentrasi 5 mg/ml dalan satu  menit. Temulawak memilki manfaat untuk meningkatkan kerja ginjal serta anti inflamasi, obat jerawat, meningkatkan nafsu makan, anti kolesterol, anti inflamasi, anemia, anti oksidan, pencegah kanker, dan anti mikroba (Warintek, 2011b).

Referensi :

Hwang, J.K, J.S. Shim, H.K. Park, S. N. Kim & H.J. Ahn. 2002. Xanthorrhizol from Curcuma xanthorrhiza as a novel Anticariogenic  agent against Streptococcus Mutans. Yonsei University, Seoul, South Korea. Laporan Penelitian.

Rukayadi, Y And J.K. Hwang. 2006. In vitro antifungal activity of xanthorrhizol isolated from Curcuma xanthorrhiza Roxb against pathogenic candida, opportunistic filamentous fungi and Malassezia. Pros. Seminar Nasional Himpunan Kimia Indonesia. Palembang, 19-22 Juli 2006. Dept. Kimia FMIPA IPB dan Himpunan Kimia Indonesia Cab. Jawa Barat dan Banten. Bogor. hlm. 191-202.

Sinurat, A.P., T. Purwadaria, I.A.K. Bintang, P.P. Ketaren, N. Bermawie, M. Raharjo And M. Rizal. 2009. The Utilization of turmeric and curcuma xanthorrhiza as feed additive for broilers. JITV 14(2): 90-96.

Warung Informasi dan Teknologi. 2011a. Kunyit (Curcuma longa. Linn.). http://www.warintek.ristek.go.id. [25 Juni 2011]

Warung Informasi dan Teknologi. 2011b. Temulawak (Curcuma xanthorrhiza ROXB.). http://www.warintek.ristek.go.id. [25 Juni 2011]

Wiryawan, K. G., Suharti, S. & Bintang, M. 2005. Kajian Antibakteri Temulawak, Jahe dan Bawang Putih terhadap Salmonella typhimurium serta Pengaruh Bawang Putih terhadap Performans dan Respon Imun Ayam Pedaging. Med. Pet. 22 : 52-62.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: