Potensi Bawang Putih (Allium sativum), Daun Salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) dan Daun Beluntas (Pluchea indica Less.) Sebagai Antibiotik Alami

Bawang Putih (Allium sativum)

Bawang putih (Allium sativum) merupakan tumbuhan terrna atau berkelompok yang tumbuh tegak dengan ketinggian mencapai 30-60 cm dan membentuk rumpun yang terdiri dari akar, umbi, bunga, batang, dan daun (Agustian, 2007). Bawang putih tumbuh baik pada ketinggian antara 700-1100 m di atas permukaan laut dengan curah hujan antara 100-200 mm/bulan, suhu 15-45 °C di dataran tinggi dan suhu 27-30 °C di dataran rendah. Curah hujan yang terlalu tinggi akan menyebabkan tanaman bawang cepat busuk, sedangkan pada curah hujan rendah akan mengganggu pertumbuhan dari tanaman bawang putih itu sendiri (Metwally, 2009). Tanaman ini pada umumnya digunakan masyarakat sebagai bumbu masakan karena mempunyai aroma yang harum dan meningkatkan citarasa dari masakan.

Zat aktif yang terkandung dalam bawang putih adalah allicin yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri (Wiryawan et al., 2005). Zat aktif dalam bawang putih lainnya adalah enzim allinase, allithiamin, germanium (dapat mencegah rusaknya darah merah), sativini (dapat mempercepat pertumbuhan sel dan jaringan), sinistrine, selenium (mikromineral penting yang berfungsi sebagai antioksidan), scordinin (dapat mempercepat pertumbuhan tubuh, penyembuhan penyakit kardiovasculer dan sebagai antioksidan), methiylallyl trisulfide (zat yang mencegah terjadinya pelengketan sel darah merah), minyak atsiri (sebagai antibakteri dan antiseptik), nicotinic acid, kalsium, protein, lemak, fosfor, besi, vitamin A, vitamin B1, dan vitamin C (Giri, 2008). Kadar MIC (Minimum Inhibitory Concentration) ekstrak bawang putih yang digunakan untuk melawan bakteri patogen (S. typhimurium, S. hevana, E. coli, dan Shigella flexneri) adalah 11,25-360 mg/ml (Wiryawan et al., 2005). Durairaj et al. (2009) melaporkan bahwa ekstrak bawang putih memiliki MIC terhadap bakteri Gram positif sebesar 6-11 mg/ml dan 7-21 mg/ml untuk bakteri Gram negatif.

Wiryawan et al. (2005) menyatakan bahwa berdasarkan hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak bawang putih terhadap bakteri S.typhimurium mempunyai daya hambat yang lebih tinggi, terlihat dari diameter zona hambat sebesar 8,39 mm dengan konsentrasi 10% (10 g/100 ml aquades), dibandingkan dengan antibiotik tetrasiklin dengan konsentrasi 100 µg/ml. Zat allisin yang terkandung dalam bawang putih mempunyai permeabilitas yang tinggi dalam menembus membran fospolipid dinding sel bakteri. Gugus thiol pada alisin akan bereaksi dengan enzim-enzim yang mengandung sulfuhidril yang menyusun membran sel. Hal ini diduga dapat menyebabkan struktur dinding sel bakteri akan rusak dan mengalami lisis. Safithri et al. (2011) melaporkan bahwa aktivitas antibakteri filtrat bawang putih sebesar 30% setara dengan tetrasiklin 10% terhadap S. typhimurium. Ekstrak air bawang putih dengan konsentrasi 20% memiliki aktivitas yang setara dengan 0,01% ampisilin  terhadap S. agalatice, E. coli, dan S. aureus yang merupakan bakteri yang dapat menyebabkan mastitis pada sapi perah. Ekstrak bawang putih dapat mempengaruhi proporsi asam asetat, propionat dan butirat serta dapat mengahambat terjadinya proses deaminsasi dalam pengujian secara in vitro. Ransum yang ditambah dengan ekstrak bawang putih (mengandung 0,7% allicin) menghasilkan total VFA sebesar 114,5 mM dengan ransum kontol yang menghasilkan VFA sebesar 105,2 mM (Cardozo et al., 2004).

Daun Salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.)

Daun salam  yang memiliki nama latin Syzygium polyanthum (Wight) Walp.  adalah salah satu tanaman herbal yang memilki kemampuan untuk menyembuhkan penyakit diare (Sangat et al., 2000). Minyak atsiri, triterpenoid, saponin, fl avonoid, dan tanin adalah beberapa senyawa yang terkandung dalam daun salam (Davidson & Branen, 1993) yang memiliki kemampuan untuk menghambat pertumbuhan bakteri patogen, seperti Salmonella sp., Bacillus cereus, B. Subtilis, Staphylococcus aureus, E. coli dan Pseudomonas fl uorescens (Setiawan, 2002). Daun salam mempunyai efek yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri penyebab diare (Sangat et al., 2000; Setiawaty, 2003).

Hermana et al. (2008) menyatakan bahwa tepung daun salam mempunyai bahan kering sebesar 95,02%m abu 4,86%, lemak kasar 4,53%, protein kasar 1,28%, serat kasar 20,39%, kalsium 1,13%, fosfor 0,71%, saponin 95,27 ppm dan tanin total 7,62%. Pemberian tepung daun salam hingga taraf 3% pada ayam broiler yang diinfeksi dengan bakteri E. coli cenderung menekan jumlah koloni bakteri E. coli dalam ekskreta. Hal ini berarti bahwa kandungan daun salam seperti minyak atsiri, tanin, flavonoid dan saponin berfungsi sebagai antibakteri, sehingga semakin tinggi penggunaan daun salam dalam ransum akan menghasilkan daya hambat bakteri yang lebih tinggi (Hermana et al., 2008).

Daun Beluntas (Pluchea indica Less.)

            Daun Beluntas (Pluchea indica Less.) merupakan salah satu jenis tanaman Indonesia yang biasa digunakan sebagai tanaman pagar dan tanaman obat. Daun beluntas mengandung vitamin C sebesar 98,25 mg/100g, beta karoten 2552 mg/100g, total tanin 1,88%, total fenol 9,85%, total flavonoid 4,47%, kuersetin 1,45%, mirisetin 1,58% dan kaemperol 0,80% (Rukmiasih et al., 2010). Pemberian beluntas pada itik dengan dosis 1% efektif mencegah terjadinya oksidasi lipida yang ditandai dengan makin tingginya persentase asam lemak, khususnya C18:0, C18:2 dan total C18:2 dan C18:3. Setiaji & Sudarman (2005) menyatakan bahwa pemberian ekstrak daun beluntas dalam air minum sampai level 10% dengan cara pemberian diskontinyu dapat digunakan sebagai obat anti stress untuk ternak ayam broiler. Flavonoid dan polifenol yang terkandung dalam daun beluntas mempunyai aktivitas sebagai antioksidan, yang bersama-sama dengan vitamin C dan karotenoid melindungi jaringan tubuh dari kerusakan akibar stress oksidatif (Rukmiasih et al., 2010). Sudarman et al. (2011) melaporkan bahwa penambahan daun beluntas dalam pakan ayam broiler dapat menurunkan kadar kolestrol pada daging ayam hingga 8%.

Referensi :

Agustian R. 2007. Penggunaan ekstrak bawang putih Allium sativum untuk            pengendalian inveksi Vibrio harveyi pada larva udang vaname         Litopenaeus vannamei. Skripsi. Departemen Budidaya Perairan,    Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Cardozo, P. W., Calsamiglia, S., Ferret A. & Kamel, C. 2004. Effects of natural plant extracts on ruminal protein degradation and fermentation profiles in continuous culture. J. Anim. Sci. 82:3230-3236.

Davidson, P. M. & A.L. Branen. 1993.Antimicrobials in Food. Marcel Dekker Inc., New York.

Durairaj, S., S. Srinivasan, & P. Lakshmanaperumalsamy. 2009. In vitro antibacterial activity and stability of garlic extract at diff erent pH and temperature. Elec. J. Biol. 5: 5-10.

Giri P. 2008. Efektivitas ekstrak bawang putih Allium sativum terhadap      ketahanan tubuh ikan mas Cyprinus carpio yang diinfeksi koi         herves virus (KHV). Skripsi. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas             Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Hermana W., Puspitasari, D. I., Wiryawan K. G. & Suharti, S. 2008. Pemberian Tepung Daun Salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) dalam Ransum Sebagai Bahan Antibakteri Escherichia coli terhadap Organ Dalam Ayam Broiler. Med. Pet. 31:63-70

Metwally. 2009. Effect of garlic (Allium sativum) on some antioxidant activities in Tilapia nilotica (Oreochromis niloticus). World journal of fish and marine science 1 (1): 56-64.

Rukmiasih, Hardjosworo, P. S., Piliang,  W. G., Hermanianto,J. & Apriyantono, A. 2010. Performance, Chemical Quality, and Off-Odor of Duck’s Meat (Anas plathyrynchos) Fed Beluntas (Pluchea indica L. Less) Containing Ration. Med. Pet. 33: 68-75.

Safithri, M., Bintang, M., & Poeloengan, M. 2011. Antibacterial Activity of Garlic Extract Against some Pathogenic Animal Bacteria. Med. Pet. 34: 155-158.

Sangat, H. M., E. A. M. Zuhud & E. K. Damayanti. 2000. Kamus Penyakit dan Tumbuhan Obat Indonesia (Etnofi tomedika I). Pustaka Populer Obor, Jakarta.

Setiaji, D. & Sudarman, A. 2005. Ekstrak Daun Beluntas (Pluchea indica less.) sebagai Obat Antistres pada Ayam Broiler. Med. Pet. 28: 46-51.

Setiawan, C. P. 2002. Pengaruh perlakuan kimia dan fisik terhadap aktivitas antimikroba daun salam (Syzygium polyanthum (wight) Walp). Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Setiawaty, R. 2003. Studi pengaruh ekstrak daun salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp). terhadap daya kerja starter yoghurt. Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Sudarman, A., Sumiati & Solikhah, S. H. 2011. Performance and Meat Cholestrol Content of Broiler Chickens Fed Pluchea indica L. Leaf meal Reared under Stress Condition. Med. Pet. 34 : 64-68.

Wiryawan, K. G., Suharti, S. & Bintang, M. 2005. Kajian Antibakteri Temulawak, Jahe dan Bawang Putih terhadap Salmonella typhimurium serta Pengaruh Bawang Putih terhadap Performans dan Respon Imun Ayam Pedaging. Med. Pet. 22 : 52-62.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: