Menyongsong Kemandirian Pakan Ternak Unggas Di Indonesia

Maju tidaknya sebuah industry peternakan setidaknya ditentukan oleh 3 aspek utama yaitu Pakan, Bibit & Manajemen. Dari ketiga aspek tersebut komponen pakan ternak menempati porsi terbesar mencapai 70% dari total biaya produksi. Seiring dengan pertumbuhan kelas menengah-atas di Indonesia beberapa tahun terakhir, pemenuhan pangan, termasuk pangan hewani, menjadi meningkat. Hal ini membuat para investor baik dalam dan luar negri berbondong-bondong berinvestasi di sector peternakan terutama penyediaan pakan ternak.

Pakan ternak di Indonesia menganut sistem corn-soya base yang artinya porsi terbesar penyusun pakan unggas di Indonesia adalah Jagung dan bungkil kedelai. Tingginya kebutuhan jagung untuk pakan ternak selama ini hampir 90% dipenuhi dari jagung import baik itu berasal dari USA, Brazil, Argentina atau India. Tingkat penyerapan jagung lokal oleh pabrik pakan ternak sangat kecil, ini karena kwalitas jagung lokal yang tersedia tidak memenuhi standart minimum yang diterapkan oleh pabrik pakan seperti kadar air & cemaran mycotoxin. Hal yang sama terjadi pada bungkil kedelai, lebih ironisnya 100% kebutuhan bungkil kedelai untuk pakan ternak itu didatangkan dari luar negri. Negara-negara pengekspor bungkil kedelai atara lain Brazil, Argentina, USA & India. Bisa kita bayangkan 75% komponen untuk menyusun pakan itu adalah barang import, lalu bagaimana dengan bahan pakan lainnya??

Selain jagung dan bungkil kedelai, dalam formulasi pakan unggas di Indonesia biasanya menggunakan CGM (Corn Gluten Meal), tepung ikan, MBM (Tepung daging & Tulang), CPO/minyak sawit, Dedak padi, bran pollard, kapur, garam, vitamin, mineral & obat-obatan. Mari kita telisik satu persatu dari mana asal bahan pakan tersebut. CGM merupakan hasil samping dari pengolahan sirup jagung dan CGM 100% diimport, USA menjadi negara pengeksport CGM terbesar ke Indonesia. Negara kita dikenal sebagai negara maritim dengan panjang garis pantai terpanjang di dunia tapi anehnya kita masih kesulitan untuk menghasilkan tepung ikan. Kwalitas tepung ikan lokal sangat jauh berbeda bila dibandingkan dengan kwalitas tepung ikan import. Kelemahan tepung ikan produski lokal terletak dari beragamnya jenis ikan yang digunakan, kesegaran ikan yang tidak terjaga, proses pembuatan yang masih sederhana & rentannya pemalsuan.

MBM atau tepung daging & tulang statusnya 100% import dari Australia, New Zealand & Amerika. Untuk dedak padi kita masih bersyukur karena masih kita penuhi 100% dari dalam negri sementara untuk pollard sebetulnya kita 100% import, pollard merupakan hasil samping penggilingan biji gandum menjadi tepung terigu, biji gandum 100% kita import. Untuk obat-obatan & imbuhan pakan 100% diimport dari negara luar Indonesia.

Rencana pemerintah Indonesia dibawah rezim Pa Jokowi, bagi saya, membawa sedikit angin segar. Pertama dengan adanya rencana & aksi nyata untuk mewujudkan swasembada pangan termasuk didalamnya swasembada jagung untuk pakan ternak. Hal ini dimulai dengan akan diberlakukannya moratorium import jagung, hal lain yang pemerintah lakukan adalah intensifikasi penanaman jagung. Hal yang tak kalah fenomenal lainnya dilakukan oleh mentri kelautan kita, bu Susi dengan gencar membom setiap kapal asing yang mencuri ikan di wilayah negara kita. Dampaknya sudah mulai terasa dengan meningkatkan hasil tangkapan ikan oleh para nelayan. Ikan segar yang menjadi bahan dasar pembuatan tepung ikan kita bisa tersedia lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Apapun itu kita perlu mengapresiasi upaya terbaik dari pemerintah untuk memajukan peternakan Indonesia agar terlepas dari ketergantungan import. Dengan sedih harus saya sampaikan bahwa hampir 90% komponen pakan unggas kita dipenuhi oleh barang-barang import.

  • Jagung : 90% Import & 10% lokal
  • Bungkil kedelai : 100% import
  • CGM : 100% Import
  • Tepung ikan : 50% import & 50% lokal
  • MBM : 100% import
  • CPO : 100% lokal
  • Dedak padi : 100% lokal
  • Pollard : 100% import dalam bentuk biji gandum
  • Bungkil kelapa : 100% lokal
  • Bungkil inti sawit : 100% lokal
  • Kapur : 100% lokal
  • Garam : 100% import
  • Obat-obatan : 100% import

4 Comments

  1. Karena sangat mahalnya bahan baku pakan ternak seperti tepung ikan, apakah kita bisa membuat pakan ayam pedaging tanpa tepung ikan?
    Kalau kita meramu pakan ayam broiler tanpa tepung ikan atau yg berasal dari hewan tapi kandungan protein tetap 22 – 24%, lemak 5%, ME 2950 – 3100 Kkal/kg,
    serat kasar max 4,5%, P 0,9%, Ca 1,1%, abu 7 – 8%.

    Hampir semua bahan difermentasi seperti dedak halus, bungkil kedele atau smpas tahu, bungkil kopra atau ampas kelapa.

    Apakah pakan yg saya maksud tetap layak untuk dikonsusi oleh ayam pedaging?

  2. Karena sangat mahalnya bahan baku pakan ternak seperti tepung ikan, apakah kita bisa membuat pakan ayam pedaging tanpa tepung ikan?
    Kalau kita meramu pakan ayam broiler tanpa tepung ikan atau yg berasal dari hewan tapi kandungan protein tetap 22 – 24%, lemak 5%, ME 2950 – 3100 Kkal/kg,
    serat kasar max 4,5%, P 0,9%, Ca 1,1%, abu 7 – 8%.

    Hampir semua bahan difermentasi seperti dedak halus, bungkil kedele atau smpas tahu, bungkil kopra atau ampas kelapa.

    Apakah pakan yg saya maksud tetap layak untuk dikonsusi oleh ayam pedaging?

    Bagi teman2 atau admin yg sempat melihat postinganku ini dan mengetahui layak atau tidak tolong balas sms di no hpku :
    0821-9277-8719
    Terima kasih

  3. Ikma Mahasu

    mba intan boleh di share data tentang impor bahan baku yg mba tuliskan diatas ? pollard 100% impor data nya dr mana ? kbtulan sy lagi nyari info tentang hal tersebut,,, trimakasih…

    • data import pollard bisa ambil dari data import Gandum, jumlah pollard sekitar 15% dari gandum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: