Kotoran Basah : Diare atau Wet Dropping ??

Kotoran basah merupakan salah satu permasalahan klasik peternakan ungga di Indonesia. Kondisi iklim yang hangat dan lembab, sistem pemeliharaan yang masih sederhana, tingkat stress lingkungan yang tinggi merupakan beberapa penyebab dari permasalahan ini. Wet dropping adalah penyakit non-infeksius yang disebabkan karena faktor eksternal (lingkungan) dan intrinsic (kelebihan ekskresi air) (Simon 1999). Diare merupakan penyakit infeksius pada saluran pencernaan yang disebabkan karena nutrisi atau agen infeksius seperti virus, bakteri, parasit, mycotoxin, malabsorbsi, dll.

Penyebab :

  1. Infeksi Patogenik
  • Bakteri : E. coli, Salmonella spp, dan Campylobactor spp.
  • Virus : strain Reo, Adeno, dan Parvo
  • Parasit : Coccidian (strain Eimeria spp. Protozoa parasit dalam usus) dan Cacing
  1. Faktor Nutrisi
  • Penggunaan cereal grains seperti Bajra (Pearl Millet) secara ekstensif di India dalam formulasi pakan menyebabkan iritasi/luka pada usus karena tidak dapat dicerna à sekresi air yang berlebihan dari usus menyebabkan diare.
  • Kelebihan garam pada formula pakan sehingga konsumsi air meningkat. Kontrol Dietary Electrolite Balance (DEB) untuk mengontrol intake Sodium & Chloride. Tambahkan sumber Sodium yang tidak mengandung Chloride seperti Sodium Bicarbonat untuk menstabilkan pH darah, mengurangi panting & mengontrol konsumsi air minum
  • Material seperti barley, wheat, sunflower cake, soyameal mengandung Non Starch Polyscharida (NSP) yang akan meningkatkan viskositas dalam usus dan intake air meningkat (1 g NSP akan meningkatakan intake air 10 ml).
  • Jamur seperti Aspergillus flavus dan Fusarium spp dapat melepaskan mycotoxin seperti aflatoksin, ochratoxin, T-2, citrin yang dapat menyebabkan luka pada usus.
  1. Faktor Manajemen
  • Kondisi iklim : cuaca hujan dan lembab atau temperatur yang terlalu dingin
  • Musim panas : intake air meningkat (rasio air : pakan 5:1 pada musim panas dan 2:1 pada kondisi normal)

Pencegahan dan Penanganan :

  1. Good Management Litter (Manajemen Litter yang Baik) :
  • Kontrol kandungan air pada litter antara 35-40%
  • Ganti litter terutama disekitar tempat makan dan minum
  • Tambahkan material bedding/litter jika moisture tinggi
  • Pengecekan air secara rutin (sulfat, magnesium dan bakteri coliform)
  • Pengecekan kualitas feed ingredients yang berasal dari animal sources (fishmeal, MBM, tallow, dll) (kandungan garam, salmonella, pepsin digestibility)
  1. Manipulasi pakan
  • Penambahan polisakarida taklarut (e.g pectin) bertujuan untuk menyerap kelebihan air dalam saluran pencernaan
  • Mengurangi level protein terutama pada saat cuaca panas atau lembab & mengurangi pemakaian bahan baku dengan kecernaan rendah
  1. Penggunaan Additives
  • Enzim : kombinasi dari beberapa enzim (e.g selulase, xylanase, pektinase, arabinase dan hemiselulase) terutama jika menggunakan bahan baku yang mempunyai NSP tinggi seperti Wheat, Barley atau Shorgum/Milo
  • Anti jamur berfungsi untuk menghambat pertumbuhan jamur di bahan pakan & pakan yang digunakan. Toxin Binder bertujuan untuk mengikat mycotoksin yang dihasilkan oleh jamur. Gunakan toxin binder yang sifatnya wide spectrum (bisa menyerap Aflatoxin, T2, Fumitoxin).
  • Antibiotic Growth Promotor (AGP) antibiotik untuk melawan bakteri patogen (e.g E.coli, salmonella). Penggunaan AGP seperti Enramycin, Bambermycin, Zinc Bacitrazin dapat membantu proses mengurangi kasus Wet Droping & Diare.
  • Prebiotik bertujuan untuk menstabilkan mycroflora dalam saluran pencernaan sehingga bisa menekan jumlah bakteri yang merugikan dalam saluran pencernaan.
  • Herbal seperti ektrak bawang putih, ekstrak oregano, ektrak tanaman yucca, essential oil, berefek positif untuk mengurangi diare & wet dropping.
  • Penggunaan Clay seperti Zeolite, Humate, Bentonite & Attalpugite berfungsi untuk menyerap kelebihan air dan racun dalam saluran penceraan ayam. Penggunaan Karbon Aktif (Arang Aktif) diketahui mempunyai efek positif untuk mengurangi diare & wet dropping.

Banyak penyakit yang berdampak pada perubahan ekskreta (feses) ayam diantaranya adalah:

  1. Koksidiosis : feses berdarah (disebabkan karena parasit Eimeira spp.) Penanganannya adalah dengan pemberian supplement antikoksi pada pakan (jika tidak diberikan dapat berakibat pada necrotic anteristis). Untuk ternak yang menghasilkan telur, antikoksi tidak boleh diberikan karena akan menyebabkan kematian ternak.
  2. Spirochaetal Infection atau umum dikenal dengan dengan istilah disentri (Dwars et al.  2007) dan biasanya terjadi pada broiler dan layer = mirip dengan diare (Stephens and Hampson 2010).
  3. Fowl typhoid : tidak dapat dibedakan dengan pullorum disease dan disebabkan karena bakteri Salmonella pullorum dengan gejala mirip dengan diare (Kabir 2010)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: