Sumber Energi untuk Unggas : Pati Vs Minyak

Energi merupakan komponen nutrisi utama yang harus terpenuhi agar produktivitas ternak dapat maksimal. Pada umumnya biji-bijian merupakan sumber energy utama yang digunakan pada ternak unggas. Biji-bijian yang umum digunakan seperti jagung, gandum, shorgum, barley, padi, dsb. Selain biji-bijian, bahan yang sering difungsikan untuk menjadi sumber energy pada ternak yaitu umbi-umbian seperti singkong, ubi jalar, talas, dsb. Kandungan pati pada biji-bijian dan umbi-umbian merupakan komponen utama yang bisa dimanfaatkan oleh tubuh ternak sebagai sumber energy. Minyak nabati atau lemak hewani tinggi akan kandungan lemak, kandungan lemak yang tinggi mampu menghasilkan energy yang cukup tinggi. Minyak kelapa sawit (CPO) merupakan sumber minyak/lemak nabati yang umum digunakan sebagai sumber energy di Indonesia. Sebenarnya selain CPO bisa juga menggunakan Lard, Tallow, PKO, atau Olein sebagai pengganti CPO, hanya saja harganya lebih tinggi dibandingkan CPO.


Lalu manakah yang lebih baik… kedua jenis sumber energy baik yang berasal dari Pati atau Minyak baik untuk digunakan,hanya saja perlu diperhatikan beberapa rambu-rambu dalam penggunaannya :

1. jagung merupakan biji-bijian utama yang digunakan untuk sumber energy ternak unggas. jagung memiliki kandungan pati sekitar 64%

2. biji-bijian lain seperti gandum, shorgum, dsb, kecendungannya memiliki kandungan pati dibawah jagung. adanya antinutrisi seperti NPS (polisakarida bukan pati) yang terkandung dalam gandum, shorgum dsb perlu penanganan khusus seperti penggunaan enzim Xylanase

3. umbi-umbian seperti singkong memiliki anti nutrisi seperti sianida sehingga penggunaannya untuk ternak unggas sangat terbatas, max 10%

4. CPO perlu penanganan khusus ketika disimpan seperti penambahan antioksidan dan harus selalu dihangatkan agar tidak caking (membeku)

berdasarkan literature yang ada menyebutkan bahwa kemampuan ternak dalam memanfaatkan pati sebagai sumber energy tidak terbatas, penambahan enzyme karbohidrase untuk memecah NSP akan meningkatkan ketersediaan energy pakan. penggunaan minyak tidak efektif pada ternak muda karena system pencernaannya, terutama produksi asam empedu dan enzim lipase, belum optimal. penggunaan minyak pada unggas muda biasanya sekitar 2.5% dan pada unggas dewasa bisa sampai 3.5%. penggunaan emulsifier seperti lecithin dapat meningkatkan kemampuan ternak untuk mencerna lemak.

penggunaan pati dalam proses pembuatan pakan dapat meningkatkan kualitas pellet. penggunaan minyak yang terlalu tinggi justru akan mengurangi daya rekat dari pellet yang dihasilkan. penggunaan minyak pada pakan yang dibuat mash bertujuan agar pakan tersebut tidak terlalu berdebu.

Tips : – kebutuhan pati pada ayam broiler berkisar 35-36%, jadi penggunaan jagung (pati jagung 64%) sekitar 55% untuk mendapatkan hasil yang maksimal. jika menggunakan campuran gandum, shorgum yang terpenting kandungan pati harus sekitar 36% + penggunaan enzim. penambahan minyak sekitar 2.5 pada umur 0-10 hari dan 3.5 pada umur 11 hari-panen.

kebutuhan pati pada ayam petelur fase pullet sekitar 34-36% dan untuk fase produksi sekitar 32%. jadi penggunaan jagung minimal 50% pada pakan ayam petelur fase produksi. minyak yang digunakan pada pakan ayam  petelur fase produksi minimal 1%, penggunaan minyak diatas 2% akan menyebabkan fisik pakan menjadi lebih basah dan mudah tengik

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: